Hidayatullah.com– Jutaan orang akan kepanasan di awal musim panas ini di India dan Pakistan, sebab temperatur seperti tungku pembakaran yang biasa terjadi setiap tahun mulai dirasakan di Asia Selatan.
Dilansir AFP, tempat pembuangan sampah di New Delhi terbakar akibat gelombang panas mencapai 45 derajat Celsius pada Kamis (28/4/2022) di kawasan Asia Selatan.
Tumpukan sampah setinggi 60 meter itu terbakar sejak hari Selasa. Petugas berusaha memadamkannya dengan guyuran pasir dan lumpur.
Kebakaran di tempat pembuangan sampah itu merupakan kejadian keempat kurun dari satu bulan di Delhi, megacity berpenduduk 20 juta jiwa.
Pradeep Khandelwal, bekas kepala manajemen sampah wilayah Delhi, mengatakan kebakaran sepertinya dipicu oleh suhu panas yang mempercepat proses pembusukan sampah organik.
“Cuaca kering dan panas menghasilkan gas metana berlebih di lokasi pembuangan yang kemudian dapat memicu kebakaran seperti itu,” kata Khandelwal kepada AFP.
Gelombang panas telah menewaskan lebih dari 6.500 orang di India sejak 2010, dan para ilmuwan mengatakan perubahan iklim membuat kondisi itu semakin keras dan lebih sering terjadi di seluruh kawasan tersebut.
“Ini pertama kalinya saya melihat cuaca buruk seperti itu di bulan April. Biasanya, kami bersiap menghadapi kondisi seperti ini di bulan Mei dan seterusnya,” kata Somya Mehra, ibu rumahtangga berusia 30-an tahun di Delhi, kepada AFP ketika mencari minuman dingin bersama keluarganya.
“Hari ini kami keluar rumah karena hari jadi kami, tetapi selain itu saya tidak akan keluar sama sekali. Saya sudah tidak memperbolehkan anak saya keluar untuk bermain”.
Negara bagian Rajasthan, Gujarat dan Andhra Pradesh memberlakukan pemadaman listrik di pabrik-pabrik karena konsumsi AC dan kipas angin meroket.
Tidak hanya itu, media setempat melaporkan bahwa pembangkit listrik kekurangan pasokan batubara – sumber utama listrik bagi negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu.
Banyak daerah juga melaporkan penurunan pasokan air yang biasanya akan memburuk sampai musim hujan tahunan datang pada bulan Juni dan Juli.
Kekurangan air akan sangat memukul para petani, termasuk mereka yang menanam gandum, karena India bermaksud meningkatkan ekspor guna membantu mengatasi masalah pasokan gandum global akibat perang di Ukraina.
Sementara itu di Pakistan, hari Rabu termometer merkuri menunjukkan angka 48 derajat Celsius di daerah pedesaan Sindh, kata Meteorological Society.
“Kesehatan masyarakat dan pertanian di negara ini akan menghadapi ancaman serius akibat suhu ekstrem tahun ini,” kata Menteri Perubahan Iklim Sherry Rehman.
Bulan lalu adalah bulan Maret terpanas yang tercatat sejak 1961, kata badan meteorologi Pakistan.*




