Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tuduh Ajarkan ‘Jihad’, Puluhan Akademisi India Minta Pemerintah Larang Kurikulum di Kampus Islam

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 29 Agustus 2022 16:52 4:52 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 30 Agustus 2022 05:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Pada 27 Juli, aktivis dan akademisi Madhu Kishwar bersama dengan lebih dari 20 akademisi lain menulis surat terbuka kepada Perdana Menteri Narendra Modi meminta agar menindak universitas negeri Islam yang menurut mereka mengajarkan ‘jihad’. Surat terbuka itu memberitahukan bahwa ‘kurikulum mata pelajaran Jihad Islam’ diajarkan di universitas negeri Islam, termasuk Universitas Muslim Aligarh, Jamia Millia Islami dan Universitas Hamdard.

Dalam surat tersebut, para akademisi mengklaim bahwa kekacauan di masyarakat, budaya dan peradaban Hindu adalah akibat langsung dari kurikulum semacam itu. Surat itu mengatakan, “Merupakan keprihatinan mendalam bahwa universitas-universitas Islam terkenal memberikan kedok legitimasi dan penghormatan bagi ideologi semacam itu.”

Para akademisi, dalam surat itu, juga menuduh para pemimpin Muslim terkemuka di India ingin mengislamkan seluruh India pada 2047. “Karena universitas-universitas ini didukung oleh uang publik, kami sebagai pembayar pajak dan warga yang peduli memiliki hak untuk menuntut tindakan terhadap ajaran semacam itu,” lanjutnya.

Mereka memasukkan catatan rinci tentang bagaimana kurikulum anti-India dan anti-nasional diajarkan secara terbuka kepada mahasiswa di universitas-universitas Islam. Surat itu berbunyi, “Adalah keprihatinan dan kekhawatiran yang mendalam bahwa tulisan-tulisan Maulana Abul ‘Ala al-Maududi, yang secara luas diakui sebagai sumber otoritatif Islam, adalah bagian dari kurikulum pelajaran dari tiga universitas Islam yang disebutkan di atas.”

Para akademisi juga menuduh ajaran Maulana Abul ‘Ala al-Maududi adalah ideologi yang menginspirasi berbagai organisasi mulai dari teroris ISIS, Hamas, Hizbullah, Taliban dan Ikhwanul Muslimin.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Surat terbuka kemudian mengutip Profesor Kevin McDonald, Profesor Sosiologi dan Kepala Departemen Kriminologi dan Sosiologi, Universitas Middlesex, yang mendokumentasikan bagaimana pemimpin ISIS Al Baghdadi terinspirasi oleh Maududi. “Ketika dia berpidato pada bulan Juli di Masjid Agung Mosul, menyatakan pembentukan Negara Islam dengan dirinya sendiri sebagai Khalifahnya, Abu Bakr al-Baghdadi mengutip panjang lebar dari pemikir India / Pakistan, Abul A’la Maududi, pendiri partai Jamaat-e-Islami pada tahun 1941 dan pencetus istilah kontemporer ‘Negara Islam’, “ tulisnya.

Ajaran Abul A’la Maududi, menurut mereka, merupakan ideologi anti-India dan anti-sekularisme.

Pemikir sunni

Syeikh Maulana Abul A’la Al-Maududi merupakan adalah jurnalis, teolog, dan filsuf politik, dan merupakan figur politik sunni di negaranya, Pakistan,  yang merupakan musuh utama India.

Tahun 1941, pemikir modernis ini mendirikan organisasi Jamaat-e-Islami untuk mengembangkan Islam sebagai satu cara hidup di Asia Selatan. Salah satu pembaharu pemikiran Islam yang gagasan dan cita-citanya sangat berpengaruh dalam pembangunan Islam.

Gagasan utama pemikiran Al-Maududi adalah meninggikan tauhid, yang juga merupakan tugas utama para Nabi dan Rasul. Al-Maududi juga mengajak umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam yang seutuhnya, yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam hal ini, Al-Maududi mengemukakan tiga konsep dasarnya yaitu konsep alam semesta, konsep al-hakimiyah al-ilahiyah dan kekuasaan Allah di bidang perundang-undangan.

Maududi tidak mendukung gagasan mendirikan Pakistan sebagai negara Islam yang terpisah dari India. Namun setelah Pakistan merdeka pada 1947 dari India, ia bermigrasi ke Pakistan.

Tahun 1923, al-Maududi mendirikan majalah bulanan bernama Turjuman Al-Qur’an. Media ini memiliki peranan besar dalam pergerakan Islam disemenanjung India.

Mahatma Ghandi bahkan sering mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan Islam. Mahatma Ghandi menuduh Islam disebarkan hanya melalui pedang.

Ia kemudian menerbitkan buku yang sangat terkenal berjudul Al-Jihad fi Al Islam. Buku ini sebagai bantahan kepada Mahatma Ghandi, dimana bab pertama tulisannya membahas hakikat sebenarnya jihad dalam Islam.

Buku ini menyajikan studi perbandingan tujuan dan hukum perang dalam Islam dengan yang ada di budaya lain, agama dan sistem politik barat modern. Bukan mengajarkan membunuh orang sebagaimana dituduhkan kelompok Hindu tersebut.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IndiaislamjihadNarendra Modi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kampanye Hemat Energi, Warga Finlandia Didesak Kurangi Waktu Mandi
Tulisan selanjutnya Jokowi Tentukan Nasib Pemecatan Ferdy Sambo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?