Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tangan Jahil Merusak Karya Seni Sakral Aborigin Berusia 30.000 Tahun

Ama Farah
Terakhir diupdate: 21 Desember 2022 14:17 2:17 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 21 Desember 2022 14:17
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Tangan-tangan jahil merusak karya seni Aborigin berusia 30.000 di sebuah gua sakral di negara bagian South Australia.

Sekelompok vandal memasuki gua Koonalda Cave di Nullarbor Plain dan menorehkan grafiti di lokasi cagar budaya itu, menuliskan kata-kata “don’t look now, but this is a death cave” (jangan lihat, ini gua kematian).

Pihak berwenang mengatakan para pelaku menggali tanah di bawah gerbang baja untuk dapat memasuki lokasi dan merusak satu bagian dari area tersebut.

Dr Keryn Walshe, seorang arkeolog yang menekuni situs-situs peninggalan Aborigin kuno, mengatakan karya seni tersebut “unik di Australia” dan sudah terdaftar sebagai situs warisan nasional disebabkan kelangkaannya.

“Para vandal menyebabkan kerusakan sangat besar. Karya seni itu tidak dapat dipulihkan,” ujarnya seperti dilansir The Guardian Rabu (21/12/2022).

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Permukaan gua itu sangat lembut. Tidak mungkin menghapus grafiti itu tanpa merusak karya seni di bawahnya. Ini merupakan kehilangan tragis yang sangat besar karena dirusak sampai parah seperti itu.”

Walshe mengatakan karya seni itu “sangat signifikan ” bagi pemilik tradisionalnya, yaitu orang Mirning, yang sudah mengunjungi gua tersebut selama lebih dari 30.000 tahun.

Dia menambahkan bahwa pagar, yang dipasang tahun 1980-an, sudah “tidak memadai lagi” seiring dengan waktu. Sebelum kejadian ini, banyak orang yang memasuki gua dan menorehkan nama mereka atau tanggal kunjungannya di tempat sakral itu.

Kyam Maher, jaksa agung wilayah South Australia dan menteri urusan Aborigin, mengecam vandalisme tersebut dan menyeru agar pelakunya dihukum berat.

“Ini sungguh sangat mengejutkan,” ujarnya kepada ABC Radio.

“Dari apa yang dikatakan dan foto yang ditunjukkan kepada saya, di batu yang sangat lunak di dalam gua, para vandal … menggunakan jari mereka dan menggambar di atas karya seni yang berusia sangat tua itu.”

Namun, Maher sendiri tidak luput dari kecaman para pakar, yang mengatakan bahwa mereka sudah menginformasikan kepada pemerintah perihal vandalisme yang terjadi di bulan Juni, dan sejak itu sedikit saja yang dilakukan untuk meningkatkan keamanan di sekitar lokasi tersebut.

Dr Clare Buswell, ketua Australian Speleological Federation’s Conservation Commission, melaporkan vandalisme yang terjadi di situs bersejarah itu kepada komite tetap urusan tanah Aborigin di parlemen pada bulan Juli.

Dalam laporannya diungkapkan bahwa Aboriginal Heritage Act dan unit urusan dan rekonsiliasi Aborigin di kantor kejaksaan wilayah South Australia gagal melindungi situs kebudayaan itu.

“Kegagalan membangun gerbang yang efektif, atau memanfaatkan layanan keamanan modern, seperti kamera pemantau satwa liar yang beroperasi 24/7, telah dalam banyak hal membiarkan vandalisme ini terjadi,” tulis Buswell dalam laporannya.

Buswell mengatakan kepada Guardian Australia bahwa pemerintah negara bagian perlu ditekan supaya bertindak, sebab jika tidak maka akan ada lebih banyak lagi warisan budaya yang akan dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Gua tersebut pada 2014 ditetapkan sebagai sebuah situs warisan budaya nasional, dan pengelolaannya merupakan tugas Department for Environment and Water bersama Far West Coast Aboriginal Corporation, yang mana orang suku Mirning menjadi bagian di dalamnya.

Akan tetapi, sementara suku Mirning merupakan pemilik sah dari situs tersebut, mereka terhalang untuk dapat melindunginya secara layak disebabkan adanya aturan Aboriginal Heritage Act yang mendahului peraturan federal Native Title Act of 1993.

Undang-undang negara bagian tersebut tidak pernah diubah untuk mengakui undang-undang federal yang memberdayakan suku asli sebagai pemegang hak milik sejati.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AboriginAustraliagua sakralKoonaldaMirningNullarbor Plain
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Libatkan Polri, MUI Meminta Karyawan Tidak Dipaksa Gunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim
Tulisan selanjutnya domba palestina Tidak Hanya Curi Tanah, Yahudi Israel Juga Doyan Curi Ternak Orang Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?