Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Ini Perbedaan Sikap Negara Eropa Soal Pengungsi Suriah [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 September 2015 15:29 3:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 September 2015 15:29
Bagikan
Meski tidak mengalami kekurangan penduduk, Swedia tetap menerima para pengungsi dengan tangan terbuka
Bagikan

Hidayatullah.com–Anda pasti ingat dengan foto ratusan orang di Jerman mengangkat poster “Refugee, Welcome” tinggi-tinggi di stasiun kereta Munich. Seorang wartawan Aljazeera bahkan menangkap momen seorang wanita Jerman memberikan boneka Teletubbies kepada seorang anak imigran, dan di sebelahnya, seorang penyambut lain mengulurkan sebungkus cokelat kepada anak yang sama.

Mengapa Jerman sangat menerima para pengungsi yang didominasi pengungsi dari Suriah tersebut, sementara sebagian negara lainnya, seperti Hongaria, memperlakukan pengungsi dengan amat kasar? Mari kita lihat kasusnya satu persatu.

Jerman: Nazi dan Kekurangan Orang

Adolf Hitler dan Nazi adalah salah satu orang dan organisasi paling dibenci di dunia untuk alasan yang jelas. Berkat Hitler dan partainya itu, Eropa porak poranda. Sebagian besar orang di Jerman melarikan diri dari tanah kelahirannya demi mencari tempat yang lebih baik. Jerman menjadi sebuah negara yang amat jahat di mata dunia selama masa Perang Dunia. Jerman kini masih menyimpan luka dan rasa malu tersebut. Begitu malunya, hingga Kanselir Angela Merkel merasa perlu meminta maaf atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pendahulunya di pemerintahan tersebut.

Jerman tahu bagaimana rasanya terusir dari kampung halaman. Jerman juga tahu bagaimana rasanya jika perang pecah di halaman rumah. Atas persamaan tersebut, mereka menerima para pengungsi yang datang membanjiri Eropa dengan tangan terbuka.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Tapi itu tidak menjadi satu-satunya alasan mereka menerima orang-orang yang menjadi calon warga negara mereka itu. Jerman kekurangan penduduk. Diprediksi pada 2060, penduduk Jerman hanya sekitar 68 hingga 73 juta jiwa. Ini penurunan drastis dari jumlah penduduk Jerman kini yang berada di angka 81 juta jiwa.

Sekarang saja, ratusan posisi di perusahaan-perusahaan di Jerman terpaksa dibiarkan kosong karena tidak ada pekerja muda yang pantas menempatinya, atau bahkan melamar pekerjaan tersebut.

Seorang petinggi Daimler, perusahaan mobil Jerman, Dieter Zetsche, mengungkapkan pandangan positifnya dengan kedatangan ratusan imigran.

“Kebanyakan pengungsi adalah orang-orang muda terdidik dan sangat termotivasi untuk bekerja. Orang seperti itulah yang kami cari,” ujarnya dikutip laman Washingtonpost.com.

Memang kebanyakan Muslim di Eropa berusia muda, dan angka rata-rata tersebut akan bertambah muda dengan kedatangan gelombang pengungsi dari Suriah yang membawa anak-anak mereka.

Sebuah website bahkan telah dilincurkan di Jerman untuk menjembatani mereka yang membutuhkan pekerja baru, dan mereka yang baru datang dan butuh pekerjaan.

Swedia: Karena Kami Baik, Tapi….

Meski tidak mengalami kekurangan penduduk, Swedia tetap menerima para pengungsi dengan tangan terbuka. Telah bertahun-tahun Swedia terkenal sebagai tempat yang dengan mudah menerima para imigran, yang menjelaskan cepatnya rekasi mereka saat gelombang pengungsi mulai berdatangan. Swedia juga dengan mudah menerbitkan izin bekerja bagi mereka yang mencari suaka.

Namun itu semua bagai sebuah jebakan. Pemerintah Swedia seperti berujar “Oh, silahkan datang ke tanah kami. Silahkan tinggal di tanah kami. Tapi sayangnya tidak ada tanah bagimu untuk digarap.”

Kebanyakan pekerjaan di Jerman adalah pekerjaan teknis yang tidak membutuhkan pendidikan tinggi atau skill tertentu karena para pekerja dapat mempelajarinya begitu diterima.

Sementara di Swedia, kebanyakan pekerjaan jangka panjang tidak terjangkau bagi para pengungsi karena membutuhkan gelar dari universitas di Eropa dan kefasihan berbahasa Swedia. Hampir separuh dari mereka yang lahir bukan di Swedia dan berusia produktif kini menganggur.

Inggris: Sudah Cukup, Terima Kasih

Meski tidak menolak kedatangan para pengungsi, Inggris sebenarnya setengah hati menerima mereka. Menurut Komisi Eropa, jika pada 2060 Jerman bakal mengalami penurunan populasi, Inggris malah mengalami hal sebaliknya. Diprediksi, mereka akan menjadi negara dengan populasi terbanyak di Eropa pada tahun yang sama, berkat banyaknya imigran dan angka kesuburan yang lebih tinggi dari negara tetangganya.

Meski begitu, Perdana Menteri David Cameron kini berfokus pada program yang mengurus transmigrasi bagi 20.000 orang pengungsi, terutama mereka yang lemah. Ada yang menyebut tindakan Inggris lebih bermoral daripada Jerman yang memandang pengungsi sebagai aset ekonomi.

Namun pernyataan tersebut dipandang sinis oleh Inggris. Jika Inggris mengharapkan 20.000 orang tersebut dapat dipindahkan pada 5 tahun kemudian, jumlah orang yang sama disambut dan diberi pekerjaan oleh Jerman tahun ini.*/Tika Af’idah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:EropaMuslimpengungsi Suriahsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Benarkah Pemimpin Negeri ini Bermental Inlander?
Tulisan selanjutnya AS Kirim 75 Pasukan Tambahan ke Semenanjung Sinai

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?