Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Deal! Turki Tampung Migran yang Dikembalikan Eropa, Uni Eropa Percepat Proses Keanggotaan Turki

Ama Farah
Terakhir diupdate: 19 Maret 2016 16:51 4:51 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 19 Maret 2016 10:46
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Uni Eropa dan Turki telah mencapai kesepakatan guna mengakhiri arus migran yang membanjiri Eropa belakangan ini. Turki telah setuju untuk menerima kembali semua migran yang masuk ke Eropa secara ilegal, dan sebagai imbal balik Uni Eropa akan mempercepat proses penerimaan Turki sebagai anggotanya.

Semua pendatang asing yang menjejakkan kakinya di Eropa hari Ahad (20/3/2016) dan setelahnya akan dikembalikan ke negara transit, Turki, mulai 4 April 2016.

“Bagian terpenting dari kesepakatan ini adalah hal tersebut akan mengakhiri bisnis penyelundupan manusia dan bermanfaat untuk mengamankan perbatasan-perbatasan terluar UE,” kata Kanselir Jerman Angela Merkel dalam konferensi pers usai kesepakatan itu, lapor wartawan Deutsche Welle dari Brussels hari Jumat (18/3/2016).

Sebagai imbalannya, Uni Eropa setuju untuk mempercepat negosiasi perihal keanggotaan Turki di organisasi blok kerjasama ekonomi terbesar di dunia itu.

Apa saja keuntungan dari kesepakatan itu bagi masing-masing pihak, berikut gambarannya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Keuntungan bagi Uni Eropa

  • Mulai hari Ahad besok, Uni Eropa akan mengirim para migran yang tiba di wilayah negara anggotanya lewat Laut Aegea kembali ke Turki. Pada tahun 2015, lebih dari 1,26 juta migran (termasuk pengungsi) tiba di Uni Eropa. Selama sembilan bulan dalam sembilan perundingan khusus membahas banjir migran tersebut, 28 negara anggota Uni Eropa gagal mencapai kesepakatan bagaimana cara menanggulanginya.
  • Untuk setiap pengungsi Suriah yang dikirim balik dari Yunani ke Turki, Uni Eropa akan mengambil (menerima) satu pengungsi Suriah yang saat ini ditampung Turki. Meskipun demikian, jumlah itu dibatasi paling banyak 72.000. (Yunani adalah negara terdekat dengan Turki yang paling sering dijadikan batu loncatan menuju negara Uni Eropa lainnya).

Keuntungan bagi Turki

  • Uni Eropa setuju untuk mempercepat pembicaraan-pembicaraan terkait penerimaan Turki sebagai anggotanya, hal yang selama ini sangat diharapkan oleh pemerintah Ankara. Meskipun demikian, Perdana Menteri Ahmet Davutoglu tidak akan mendapatkan semua yang diharapkan pemerintahnya. Turki meminta UE menggelar lima bab pembicaraan, tetapi UE hanya bersedia membuka satu bab pembicaraan. Bab itu, yaitu tentang isu-isu anggaran dan finansial, relatif tidak begitu penting dibanding bab-bab lainnya. Namun satu hal yang pasti, negara anggota UE Siprus tidak akan bisa memveto satu bab tersebut.Siprus selama ini menentang upaya Uni Eropa membuat konsesi dengan Turki. Keberatan Siprus bisa dimaklumi sebab negara itu hingga saat ini terpecah dua, sejak Turki menginvasi bagian utara pulau Siprus di tahun 1974 dan tokoh orang keturunan Turki di Siprus utara memproklamirkan Turkish Republic of Northern Cyprus (TRNC). Eksistensi TNRC hanya diakui oleh pemerintah Ankara.
  • Liberalisasi visa. Uni Eropa, tanpa memberikan garansi apapun, setuju untuk mempercepat pengkajian apakah Turki memenuhi syarat-syarat yang diminta agar layak mendapatkan liberalisasi visa, sehingga warganya bebas melakukan perjalanan tanpa visa di Zona Schengen (zona bebas paspor dan visa negara UE). Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu usai perundingan di Brussels kemarin mengatakan bahwa masih ada hal-hal yang perlu dilakukan Turki, tetapi “kami sudah memenuhi 37 dari 72 persyaratan yang diminta, dan kami berharap dapat memenuhi semua persyaratan itu sebelum akhir Mei.”Masalah ini adalah masalah sensitif bagi pemerintah maupun rakyat kedua negara. Tidak perlu menunjukkan paspor di perbatasan UE adalah kebanggaan tersendiri bagi orang Turki. Namun, sejumlah negara UE keberatan dengan liberalisasi visa bagi Turki, sebab hal itu dikhawatirkan akan meningkatkan popularitas partai kanan-jauh, seperti Front Nasional Prancis, yang sangat anti orang asing terutama Muslim.
  • Uang. Uni Eropa sebelumnya sudah mencapai kesepakatan dengan Turki untuk menggelontorkan dana 3 miliar euro guna keperluan pengungsi Suriah yang berada di Turki, dengan syarat Turki mencegah mereka pergi ke Eropa. Ankara kemudian meminta tambahan lagi 3 miliar euro pada musim gugur.Namun, Uni Eropa hanya mengatakan akan mempercepat proses pencairan dana itu, dan tidak mengutarakan dengan pasti apakah dana tambahan yang diminta Turki akan dipenuhi.

Hambatan

Meskipun kesepakatan Turki dan Uni Eropa di atas telah disetujui masing-masing pihak, namun dalam pelaksanaannya nanti belum tentu akan berjalan mulus.

Sejauh ini Uni Eropa hanya berkomitmen untuk menampung 18.000 orang migran, tidak lebih. Untuk memenuhi kesepakatan dengan Turki 72.000 pengungsi, maka berarti 54.000 lainnya harus ditempatkan tersebar di antara negara-negara anggota Uni Eropa. Padahal, Hungaria dan Slovakia sudah menyatakan dengan dengan sejelas-jelasnya bahwa mereka tidak bersedia lagi menampung migran.

Yunani –negara kecil yang sedang mengalami krisis ekonomi dan banyak pekerjaan administrasi negaranya masih dilakukan secara manual– pasti akan mengalami kesulitan, sebab infrastruktur administrasi dan yudisial yang diperlukan untuk menjalankan kesepakatan itu belum memadai.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan negaranya membutuhkan tambahan sekitar 2.000 pengacara dan hakim untuk melakukan tugas-tugas berkaitan dengan permohonan suaka dan pengembalian migran ke Turki. Namun, Yunani hanya bisa menambah 270 staf saja.

Untuk mengatasi hal itu, negara-negara Uni Eropa lainnya berjanji akan membantu Yunani dengan mengirimkan personel penjaga perbatasan, pakar urusan suaka dan penerjemah “kapan saja diperlukan”.

Menyusul pengumuman kesepakatan itu, organisasi-organisasi pemerhati hak asasi manusia bersuara mengecam. Oxfam menyebut kesepakatan itu sebagai “langkah lebih jauh menuju pada ketidakmanusiawian.” Sementara Amnesty International menyebut hari itu sebagai “hari yang gelap bagi Eropa dan bagi kemanusiaan.”*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 60 Ribu Umat Islam Shalat di Masjid Aqsha, Syeikh Ikrima Ingatkan Bahaya Pendudukan
Tulisan selanjutnya Kampanye LGBT dan Serbuan Film Barat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?