Hidayatullah.com—Sejumlah organisasi bantuan dan pembela HAM telah mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mendepak Rusia dari kursi Dewan HAM PBB (UNHRC).
Lebih dari 80 organisasi non-pemerintah (NGO) tingkat internasional telah menandatangani tuntutan itu, termasuk Human Rights Watch, CARE dan International and Refugees International, lapor kantor berita AFP Senin (24/10/2016).
Tindakan tersebut dipicu oleh keterlibatan Rusia dalam peperangan di Suriah melawan kelompok-kelompok penentang rezim Bashar Al-Assad.
Dalam tuntutan itu mereka meminta anggota-anggota PBB mengkaji secara serius apakah peran Rusia di Suriah termasuk melakukan serangan militer dengan target warga sipil dan anak-anak –seperti yang kerap dilakukan pasukan pendukung Assad.
Tuntutan itu diajukan menjelang pemilihan di markas PBB di New York hari Jumat mendatang guna memilih negara mana saja yang akan mengisi 14 kursi di Dewan HAM PBB. Rusia, Hungaria dan Kroasia akan memperebutkan 2 kursi wakil kawasan Eropa Timur.
Saat ini Rusia menjadi anggota UNHRC dan masanya akan habis tahun ini.
Pekan lalu, Inggris serta sekutu-sekutu Barat dan Arab-nya mengajukan resolusi ke UNHRC berisi tuntutan agar dilakukan kajian menyeluruh seputar dugaan pelanggaran HAM di kota Aleppo, Suriah. Lewat pemungutan suara, UNHRC akhirnya memutuskan akan memulai penyelidikan khusus independen terkait situasi di kota yang hancur lebur akibat perang itu.
Pertempuran telah membelah kota Aleppo menjadi dua bagian, di mana distrik sebelah barat sekarang dikuasai rezim Damaskus, sementara bagian timur dikuasai kelompok-kelompok pasukan oposisi dan Front Al-Nusra.
Rusia membantu pasukan rezim Suriah dalam memerangi kelompok Al-Nusra di bagian timur Aleppo. Namun, negara-negara Barat menuding Moskow dan Damaskus sebagai penyebab timbulnya banyak korban sipil di daerah itu.
PBB dalam situs UN News Centre hari Jumat (21/10/2016) menggambarkan pengeboman di bagian timur Aleppo telah menghancurleburkan kota itu dan kejahatan perang yang dilakukan di kota itu mencapai proporsi historik, terparah dalam sejarah.
“Kota kuno Aleppo, tempat peradaban dan keindahan selama ribuan tahun, sekarang menjadi sebuah rumah jagal,” kata Zeid Ra’ad, komisioner tinggi untuk UNHRC di hadapan perwakilan 47 negara anggota UNHRC yang akan membuat rancangan resolusi terkait masalah itu dalam pertemuan di Jenewa, Swiss, pekan lalu.*