Hidayatullah.com—Kegiatan yang diberi nama “Islam Safari” oleh politisi Belanda Geert Wilders dan sekutu-sekutu politiknya di Belgia telah diberhentikan oleh polisi, ketika akan memasuki sebuah pemukiman pendudukdi Brussels.
Wilders bersama Filip Dewinter, politisi sayap kanan Vlaams Belang, berencana mengunjungi Molenbeek-Saint-Jean, guna mengamati “islamifikasi” Eropa di mana “masjid telah menggantikan balai kota dan imam menggantikan wali kota,” kata Dewinter.
Molenbeek-Saint-Jean atau sering disebut Molenbeek saja, merupakan tempat tinggal dari para pelaku serangan kantor tabloid Charlie Hebdo di Paris tahun 2015. Kota itu disorot tajam oleh publik karena keterkaitannya dengan orang-orang asing yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok ISIS.
Francoise Schepmans, wali kota Molenbeek sejak 2012, menuding Wilders dan Dewinter sengaja menggunakan “bahasa provokatif,” dan mengatakan pihaknya tidak dapat menjamin keselamatan mereka jika berkeliling di Molenbeek dan menyebarkan islamophobia di distrik yang mayoritas penduduknya Muslim tersebut.
“Safari” Wilders dan kawan-kawan itu resmi dilarang oleh Schepmans hari Kamis (2/11/2017), lapor Euronews. Wali kota perempuan itu mengatakan penyelenggara safari akan dikawal polisi kembali ke perbatasan Molenbeek jika mereka mendesak masuk ke wilayah itu.
Sementara Wilders gentar dan membatalkan safari pada hari Jumat (3/11/2017) dengan alasan keamanan, Dewinter berusaha menyeberangi kanal yang menghubungkan Brussels dan Molenbeek. Namun, Dewinter kemudian diberhentikan oleh petugas kepolisan.
Dalam konferensi pers yang digelar hari Jumat kemarin di Parlemen Belgia, yang diberi judul “Terbebas dari Islam,” Wilders dan Dewinter menyebut keputusan Schepman itu sebagai sebuah “fatwa” dan menunjukkan Molenbeek telah kehilangan wilayah kekuasaannya, lepas dari kontrol pemerintah Belgia.
“Cukup sudah, anggota-anggota perlemen harus dapat bepergian bebas di negeri mereka sendiri. Namun para wali kota mengatakan kepada kami bahwa ini dilarang, dan mereka mengatakan Molenbeek bukan lagi milik Belgia,” oceh Wilders.
Warga penduduk setempat menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap safari “yang menyulut api” itu.
“Ini merupakan kegiatan rasis. Dengan kata safari mereka membandingkan Molenbeek dengan kebun binatang, seolah orang-orang yang tinggal di sana adalah hewan, barang tidak berharga,” kata Erik, 37, seorang guru sekolah menegah di Anderlecht yang dibesarkan di Brussels.
“Molenbeek memiliki masalah sebagai salah satu daerah di Brussels yang paling miskin, tetapi bukan karena daerah itu merupakan pemukiman ‘Muslim’ atau ‘jihadis’,” kata Wilfred, 33, seorang pria Flemish yang belum lama ini pindah ke pemukiman di sekitar kanal Molenbeek.
Perwakilan-perwakilan dari partai sayap kanan bersikukuh mengatakan larangan masuk ke Molenbeek justru mengkonfirmasi kecurigaan mereka.
“[Wali kota] tidak ingin menunjukkan kepada kami keadaan Molenbeek sesungguhnya. Daerah itu sepenuhnya sudah terislamisasi: yang Anda lihat hanya tudung kepala, tidak ada minuman beralkohol yang disajikan, tidak ada perempuan berkeliaran. Di sana kelihatan seperti Pakistan, dan dia tidak ingin dunia melihatnya,” kata seorang jubir Vlaams Belang.*