Hidayatullah.com-Lika-liku menyalurkan bantuan untuk Muslim Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh tak sama dengan di Rakhine State. Butuh ‘surat sakti’ sebagai senjata pamungkas agar dapat masuk dengan mudah ke kamp pengungsian di Rakhine State, khususnya di Sittwe Township (Kabupaten Sittwe).
Sebagaimana pengalaman saya dan tim memasuki Rakhine. Sebelum menggencarkan aksi kemanusiaan ke sejumlah desa dan kamp pengungsian di Sittwe Township.
Selepas ‘burung besi’ yang membawa kami dari bandara Yangon mendarat dengan sempurna di bandara Sittwe, Senin siang, 7 November 2017 lalu. Lokasi pertama yang kami tuju bukan hotel atau penginapan. Tapi, kantor Kementerian Keamanan dan Perbatasan, Kota Sittwe, Rakhine State, Myanmar.
Di situlah kami bisa memperoleh surat sakti tersebut. Tapi Qadarullah, pria yang punya kewenangan untuk membubuhi tanda tangan di surat tersebut sedang tidak ada di tempat. Alhasil, hari itu kami tak bisa langsung bergerak untuk merapat ke kamp pengungsian.
“Besok suratnya baru bisa diambil,” kata pemandu lokal yang mendampingi kami selama di Sittwe Township. “Atasan yang biasa tanda tangan sedang keluar kantor.”
Surat sakti inilah yang memuluskan agenda kami selama mendistribusikan bantuan ke kamp pengungsian di Sittwe Township. Ibarat pepatah, ia adalah kunci utama. Kalau tak ada surat sakti ini, junta Militer maupun polisi yang berjaga di dua pos berbeda tak akan pernah memberikan izin masuk.
Baca: Menengok Madrasah Pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Gurunya tak Dibayar
Tak berlebihan jika kemudian kami menyebutnya surat sakti. Ini persyaratan mutlak. Surat sakti ini adalah harga mati yang tak dapat ditawar lagi.
“Sebetulnya kalau kita mau menunggu bisa selesai saat itu juga. Cuma kita nggak tahu, atasannya kembali lagi ke kantor atau nggak,” kata relawan Al-Khair Foundation (AKF), sebut saja namanya Wawan, di tengah perjalanan menuju sebuah hotel di pusat kota Sittwe.
Kami bisa dengan mudah memperoleh “surat sakti” ini, karena pemandu lokal yang mendampingi kami punya jaringan luas. Ada juga beberapa keluarganya yang menempati posisi strategis di pemerintahan Kota Sittwe.
Kalau lewat selain pemandu lokal kami, mungkin surat tersebut baru bisa keluar setelah sekian hari. Selambat-lambatnya satu pekan. Itupun kalau disetujui sama Kepala Kementerian Keamanan dan Perbatasan Myanmar (Burma).
Menariknya, “surat sakti” ini, juga bisa dijadikan sebagai bukti kalau lembaga kemanusiaan pernah masuk ke kamp pengungsian di Sittwe Township.
“Kalau ada yang mengaku pernah masuk. Tinggal minta surat izin resminya. Kalau bisa menunjukkan, berarti dia memang pernah masuk. Tapi jika tak sanggup, berarti dia bohong,” seloroh Wawan menjelaskan.
Keseokan harinya, Selasa pagi, setelah sarapan kami pun bergegas turun ke lobi. Alhamdulillah, “surat sakti” dengan tulisan Burmese dari Kementerian Keamanan dan Perbatasan Kota Sitte itu sudah ditangan pemandu lokal kami. Surat inilah yang kami sebut sebagai surat izin masuk ke kamp pengungsian. Pelan tapi pasti, mobil double kabin yang mengantarkan kami mulai bergeser dari hotel menuju lokasi kamp pengungsian di Sittwe Township.
Pos Penjagaan
Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Sebelum memasuki area kamp pengungsian, kami harus melintasi dua pos penjagaan untuk menyerahkan surat sakti tersebut terlebih dahulu.
Pos pertama, dijaga dua aparat berseragam militer lengkap dengan senapan laras panjang. Sementara, pos kedua yang jaraknya kira-kira sekitar 300 meteran dari pos pertama dijaga dua aparat polisi yang sama-sama menenteng senapan laras panjang.
Siapapun dan darimana pun lembaga kemanusiaan, wajib menyerahkan surat izin untuk masuk ke kamp pengungsian tersebut. Surat izin yang telah diketahui dan disetujui oleh Kementerian Keamanan dan Perbatasan Kota Sittwe.
“NGO dari mana saja, setiap kali ingin masuk ke kamp pengungsian di Sittwe Township harus menyerahkan surat izin resmi,” jelas pemandu lokal kami yang fasih berbahasa Inggris ini.
Pertama kali yang tampak setelah kami melintasi dua pos penjagaan itu adalah hamparan sawah dengan padi yang menguning. Di kanan kiri sepanjang jalan juga terbentang pagar kawat berduri.
Baca juga: Pengungsi Rohingya Terus Bertambah, Tiba saat Malam Diguyur Hujan
Suasana pasar desa Thet Kya Pin di sebelah kanan jalan pun menyambut kedatangan kami, sesaat setelah memasuki area pengungsian di Sittwe Township. Di desa ini terdapat sebuah kamp pengungsian bernama Thet Kyai Pyin.
Sekadar diketahui, kamp-kamp pengungsian di Sittwe Township ini berada di dalam desa. Nama kamp mengikuti nama desa di mana kamp tersebut berada. Seperti kamp Thet Kyai Pyin, lokasinya berada di desa Thet Kyai Pyin. Namun, tak setiap desa di dalamnya terdapat kamp pengungsian.
Di area yang kami kunjungi terdapat sekitar 50 desa dengan kamp sebanyak 16 titik yang menyebar di beberapa desa. Selain kamp Thet Kyai Pyin, ada kamp Mor Thi Nyar, Kone Dukka, Basara, Thea Chaung, Dar Paine, Bawdupa, Ohn Daw Gyi dan Say Thar Mar Gyi.
Selama 4 hari, Selasa-Jum’at, selain menyalurkan 1.000 paket sembako berisi susu, beras, kentang, minyak goreng, bawang dan kacang, kami juga menyambangi titik-titik pemasangan 10 hand pump (pompa air) untuk pengadaan air bersih, baik di desa maupun kamp pengungsian di Sittwe Township.
Direktur Program dan Pendayagunaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Dede H. Bachtiar rombongan kami mengatakan, pendistribusian bantuan 1.000 paket sembako ke kamp pengungsian di Sittwe Township ini merupakan tahap keempat.
“Tiga tahap sebelumnya (Agustus-Oktober 2017) dilakukan di beberapa kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh. Dari tahap pertama sampai keempat, jumlah total penerima manfaat 1.600 KK atau 8.000 jiwa,” jelas Dede, relawan BMH yang terjun langsung ke kamp pengungsian di Sittwe Tonwship.*