Hidayatullah.com—Seorang pendeta Katolik mendesak agar gereja tidak lagi memakai kata “Christmas”, karena kata itu sudah dibajak oleh Sinterklas dan rusa-rusa kutub.
Romo Desmond O’Donnell, rohaniwan Katolik yang berbasis di Dublin, Irlandia Utara, mengatakan dirinya berkeyakinan sekarang umat Kristen seharusnya menggunakan kata “Nativity” untuk menggantikan “Christmas”, sebab istilah terakhir itu sudah kehilangan maknanya akibat komersialisasi besar-besaran.
“Kita sudah kehilangan Christmas, seperti halnya kita kehilangan Easter (Paskah), dan kita harus mencampakkan kata itu sepenuhnya,” kata O’Donnell kepada Belfast Telegraph (17/11/2017).
“Kita perlu melepaskannya, kata itu sudah dibajak dan kita harus mengakui dan menerimanya,” imbuh O’Donnell.
“Saya tidak bermaksud merenggut apapun dari orang-orang, saya hanya meminta agar diberikan ruang bagi orang beriman* bahwa Christmas tidak ada hubungannya dengan Santa dan Reindeer,” kata O’Donnell merujuk sosok Sinterklas dan rusa-rusa kutub penarik kereta saljunya, yang kerap dijadikan ikon penjualan barang obral di toko dan pusat perbelanjaan menjelang dan sesudah perayaan Natal.
“Pengalaman relijius saya akan Christmas sejati, seperti banyak orang lain, sangat dalam dan nyata seperti halnya udara yang saya hirup. Namun, orang-orang tak beriman berhak dan memerlukan perayaan juga, sebab hal itu esensial dalam dinamika manusia dan kita semua memerlukannya di dalam kehidupan yang keras ini,” papar O’Donnell.
Sebagai seorang sarjana Bibel dan psikolog, dia bahkan mengutip isi kitab suci Kristen untuk berargumen bahwa sedikit minuman anggur (minuman beralkohol) diperbolehkan untuk menyenangkan hati.
“Bagi saya tidak masalah orang-orang Kristen memilih untuk merayakan Christmas dengan pergi makan-makan dan menikmati segelas minuman anggur. Namun, komersialisasi apa saja itu tidak ada baiknya,” tegasnya.
O’Donnell mengakui bahwa dirinya tidak berharap institusi gereja akan bersedia mengganti istilah Christmas dengan kata lain. Namun dia juga memperingatkan bahwa jika menolak, maka akan ada konsekuensinya.
“Itu artinya bahwa sekularisme dan kehidupan modern akan terus menggilas gereja,” kata rohaniwan Katolik itu.
“Itu akan menjadi awal keruntuhan institusional. Saya sudah melihatnya terjadi di seluruh dunia; di Malta, Polandia dan Uruguay, dan itu sudah mulai terjadi juga di Irlandia,” ujarnya.
“Ini seperti melihat film yang sama diulang lagi, terus diulang lagi… Gereja Protestan juga bergelut dengan hal yang sama,” imbuhnya.
“Bagi kebanyakan orang, tuhan hanyalah sekedar kata yang mewakili satu sosok yang bisa dipersalahkan atas bencana yang mereka alami, atau menjadi tempat bersandar ketika mereka dalam kesedihan. Dan realitasnya adalah ‘Christmas’ artinya bukan lagi ‘Christmas’,” pungkas O’Donnell.
Dilansir RT, komentar O’Donnell itu diutarakan setelah toko roti terkemuka di Inggris, Greggs, dipaksa meminta maaf karena telah mengganti bayi Yesus dengan roti gulung sosis dalam gambar kalender promo terbarunya.
Di Indonesia, orang Kristen memakai kata Natal untuk menyebut Christmas, hari perayaan kelahiran Yesus. Natal berasal dari bahasa Latin, natalis atau nat(us), yang artinya kelahiran seorang anak.*
* beriman pada ajaran Kristen.