Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Etnis Rohingya Peringati Setahun Pembantaian Rakhine

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Agustus 2018 21:27 9:27 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Agustus 2018 21:27
Bagikan
Kondisi Pengungsi Rohingya di Cox's Bazar: Bertahan dari hujan
Bagikan

Hidayatullah.com–Pengungsi Rohingya di kamp-kamp sementara di Bangladesh selatan sedang mengenang kembali penderitaan mereka pada peringatan satu tahun penindasan brutal Myanmar terhadap kelompok minoritas Muslim di negara bagian Rakhine.

Lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada 25 Agustus 2017.

Amena Khatun (45), mengatakan kepada Anadolu Agency tentang serangan mengerikan pada keluarganya.

“Mereka membunuh putra sulung saya di depan mata saya ketika mereka membakar rumah dan mengambil sapi kami,” kata Khatun.

Dia kehilangan segalanya tetapi menyimpan harapan untuk kembali ke rumahnya di Myanmar.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Ini bukan negara saya. Mereka memberi kami tempat tinggal dan makanan tetapi kami ingin hidup di tanah kami sendiri,” katanya, dia mengaku tidak tahu kapan repatriasi akan dimulai dan bagaimana proses itu akan berlanjut.

Baca: Pilu Pengungsi Rohingya: Diburu di Dalam Negeri, Ditolak Negeri Tetangga

Dia mengatakan dia tidak ingin pergi ke kamp pengungsi atau kamp konsentrasi di negara bagian Rakhine di bawah kendali ketat Myanmar.

Kekhawatiran serupa mencengkeram ratusan ribu orang Rohingya di Bangladesh karena penindasan terhadap Rohingya masih berlangsung di Myanmar satu tahun sejak serangan mengerikan dimulai.

Tindakan keras terhadap warga sipil Rohingya diluncurkan menyusul serangkaian serangan yang diduga dilakukan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) di 24 kantor polisi dan pos terdepan di distrik Muangdaw di negara bagian Rakhine utara.

ARSA mengklaim serangan itu sebagai tanggapan atas serangan, pembunuhan dan penjarahan oleh tentara yang dikerahkan ke daerah itu setelah kematian tujuh warga desa pada awal Agustus 2017.

Pemerintah melanjutkan kebrutalannya meskipun ada kekhawatiran dan kecaman dari seluruh dunia.

Operasi militer mengakibatkan warga sipil dibakar hidup-hidup, pembunuhan–termasuk perempuan dan anak-anak–dan menembaki warga sipil yang mencoba melarikan diri ke daerah perbatasan.

Turki adalah salah satu negara pertama yang mengutuk serangan terhadap warga sipil dan menuntut PBB, DK PBB dan masyarakat internasional mengambil tindakan terhadap “pembantaian massal yang memusnahkan” itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah kepala negara pertama yang mengutuk pembantaian tersebut.

Dia menuduh bahwa dunia “buta dan tuli” terhadap situasi di negara bagian Rakhine.

Sehari kemudian, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad al-Hussein meminta Bangladesh membuka perbatasan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Myanmar untuk memberikan akses ke badan-badan kemanusiaan, menyusul laporan-laporan korban sipil massal setelah serangan oleh pasukan keamanan terhadap Rohingya.

Baca: Pengakuan Etnis Rohingya: “Pergilah atau Kami Bunuh Anda Semua

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu berjanji untuk mendukung Bangladesh dalam masalah Rohingya dalam aspek bantuan kemanusiaan dan di arena internasional.

Tak lama setelah deklarasi Cavusoglu, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina memerintahkan perbatasannya dibuka untuk Rohingya dan mengerahkan militer untuk memastikan keamanan dan ketertiban di wilayah Cox’s Bazar, tempat Rohingya mengungsi.

Ibu Negara Turki Emine Erdogan mengunjungi pengungsi Rohingya di Bangladesh selatan, menarik perhatian global terhadap penganiayaan di negara bagian Rakhine dan penderitaan pengungsi di kamp-kamp.

Pada hari yang sama, Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) berhasil mendapatkan izin dari Myanmar untuk mendistribusikan 1.000 ton bantuan kepada Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

TIKA juga merupakan lembaga bantuan pertama yang mendistribusikan bantuan kepada pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar Bangladesh.

Namun, militer Myanmar tidak menghentikan kebrutalannya tetapi malah meningkatkan serangan dengan membakar ratusan desa.

Human Rights Watch yang melakukan analisis foto satelit, menghitung setidaknya 200 desa terbakar dalam serangan tersebut, PBB menyebutnya “contoh buku teks tentang pembersihan etnis.”

Komunitas lokal dan internasional memberikan bantuan kepada para pengungsi karena kisah kebrutalan terhadap Rohingya diungkapkan oleh orang-orang yang baru tiba dari Myanmar.

Turki berada di garis depan dalam isu Rohingya bersama lembaga bantuan kemanusiaan dan organisasi amal nonpemerintah yang disponsori negara, serta di tingkat internasional dengan mengorganisir pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan mengadvokasi Rohingya di Majelis Umum PBB.

Mantan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengunjungi kamp-kamp Rohingya di Cox’s Bazar, membuka sebuah rumah sakit lapangan dengan 50 tempat tidur Desember lalu.

Bangladesh dan Myanmar menandatangani perjanjian November lalu untuk memfasilitasi pengembalian yang aman warga Rohingya ke negara bagian Rakhine, meskipun ada kekhawatiran tentang keselamatan dan kebebasan dasar mereka dalam kondisi saat ini.

Baca: Apa Karena Rohingya Muslim, Tak Ada Tempat Baginya? 

Meskipun proses repatriasi Rohingya belum terlihat permulaannya, kesepakatan bulan November 2017 menjadi perjanjian yang mencatat kesediaan pemerintah Myanmar mengambil kembali warganya.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Dalam laporan terbaru yang berjudul ‘Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira’, OIDA meningkatkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962, dari angka yang dikeluarkan oleh Doctors Without Borders sebelumnya sebesar 9.400.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.

PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel militer.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arakan Rohingya Salvation ArmyARSABangladeshetnis RohingyamyanmarpembantaianpemerkosaanRakhineRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Umat Diajak Teladani Konsep Pendidikan Nabi Ibrahim
Tulisan selanjutnya PA 212 Kecam Persekusi Gerakan #2019GantiPresiden

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?