Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
InternasionalRagam

Xinjiang Police File: Ribuan Dokumen dan Foto Muslim Uighur Bocor, Ungkap Kejahatan China

Ahmad
Terakhir diupdate: 29 Mei 2022 10:37 10:37 am
Ahmad
Dipublikasikan 29 Mei 2022 09:00
Bagikan
Berkas 'Xinjiang Police File' berisi 2.800 tahanan, diperoleh setelah peretas berhasil mengambil database kepolisian Xinjiang, ada korban yang ditangkap karena belajar Islam dan menyimpan jilbab
Bagikan

Dukumen bernama ‘Xinjiang Police File’ berisi 2.800 tahanan Uighur, diperoleh setelah peretas berhasil mengambil database kepolisian Xinjiang,  ada korban yang ditangkap karena belajar Islam dan menyimpan jilbab

Hidayatullah.com | KUMPULAN dokumen yang bocor dan dikenal sebagai “Xinjiang Files” mengungkap pelanggaran hak asasi manusia berat terhadap minoritas Ughur di kawasan itu. Para ahli menilai dokumen tersebut hampir pasti asli, kutip DW.

Dokumen-dokumen dan foto-foto yang dibocorkan menyoroti metode brutal yang digunakan oleh pemerintah China terhadap minoritas Muslim Uighur di wilayah barat laut Xinjiang. Menurut dokumen-dokumen itu, pemerintah China menerapkan kebijakan tembak mati untuk warga Uighur yang berani melarikan diri dari kamp penahanan.

Foto-foto itu diambil pada paruh pertama tahun 2018 di pusat-pusat penahanan dan kantor polisi di daerah Konasher – disebut Shufu dalam bahasa China – di prefektur Kashgar. Dokumen-dokumen itu juga bertentangan dengan pernyataan resmi pejabat pemerintahan, bahwa warga Uighur secara sukarela memilih untuk menghadiri “pusat-pusat pembinaan” tersebut.

Berkas yang dijuluki “Xinjiang Police File” itu didapat setelah para peretas berhasil masuk ke database kepolisian di Xinjiang dan kemudian menyerahkan seluruh buktinya kepada peneliti dan aktivis asal Amerika Serikat, Dr Adrian Zenz.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

BREAKING: huge trove of files obtained by hacking into Xinjiang police / re-education camp computers contain first-ever image material from inside camps, reveal Chen Quanguo issuing shoot-to-kill orders, Xi Jinping demanding new camps because existing ones are overcrowded. 🧵 pic.twitter.com/6K19Wxf0Lx

— Adrian Zenz (@adrianzenz) May 24, 2022

Kementerian Luar Negeri China menolak dokumen-dokuman bocoran itu sebagai ” bahan yang difabrikasi ” oleh “kekuatan anti-China yang menodai Xinjiang.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin mengatakan media-media tengah “menyebarkan kebohongan dan rumor.”

Namun Adrian Zenz, menyatakan bahwa dokumen-dokumen tersebut hampir tidak mungkin untuk dipalsukan. Dia mengatakan menerima kiriman itu dari sumber anonim yang meretas data-data resmi di Xinjiang.

“Selalu mungkin untuk memalsukan dokumen. Tapi jauh lebih sulit untuk memalsukan gambar, bahkan lebih sulit lagi untuk memalsukan jumlah materi gambar sebanyak ini dan jenis materi gambar seperti ini,” kata Adrian Zenz kepada DW.

Dia mengatakan kebocoran itu adalah hasil dari “serangan peretasan langsung ke komputer polisi, bahkan ke komputer kamp penahanan.” Zenz mengatakan dokumen-dokumen yang bocor mengungkapkan “penguburan massal orang-orang yang benar-benar tidak bersalah,” dengan tahanan termasuk remaja muda dan wanita tua.

“Arsip-arsip itu bahkan tidak mengatakan bahwa mereka telah melakukan sesuatu. Orang-orang ini hanya memiliki orang tua atau kerabat yang ditahan.”

Perlakuan China terhadap Uighur ‘kejahatan brutal terhadap kemanusiaan’

Direktur Eksekutif Human Rights Watch Kenneth Roth juga mendukung kebenaran dokumen tersebut. Dia mengatakan kepada DW bahwa “ada banyak alasan” untuk percaya bahwa dokumen-dokumen tersebut akurat.

“Itu sesuai dengan banyak, banyak kesaksian yang diterima Human Rights Watch,” kata Kenneth Roth. Dia menyebut pelanggaran terhadap Uighur sebagai “kejahatan brutal terhadap kemanusiaan, hal seperti itu benar-benar tidak ada di tempat lain di dunia saat ini.”

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock hari Selasa (25/4/2022) mengatakan bahwa laporan-laporan terbaru itu, ”mengejutkan, dan bukti baru pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius di Xinjiang.” Baerbock mendesak “penyelidikan transparan” terhadap laporan dalam dokumen yang bocor, kata sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Jerman di Berlin.

Kunjungan Utusan PBB ke Xinjiang hanya upaya ‘pemutihan’

Bocornya dokumen-dokumen Xinjiang terjadi saat Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet melakukan kunjungan resmi ke Xinjiang. Namun Kenneth Roth mengatakan dia “khawatir” kunjungan itu hanya digunakan untuk tujuan propaganda oleh pemerintah China.

Kenneth Roth mengatakan Bachelet tidak akan memiliki kemampuan untuk “berbicara secara bebas dengan (warga) Uighur” selama kunjungannmya dan mempelajari apa yang sebenarnya terjadi di provinsi tersebut. “Dan dia akan diperlihatkan orang-orang Uighur yang bernyanyi dan menari dan berpura-pura bahagia, yang merupakan garis pemerintah China. Anda tahu, ini benar-benar pemutihan,” ujarnya.

Anak dibawah umur

Anehnya, file tersebut juga berisi foto lebih dari 2.800 tahanan dengan 15 di antaranya adalah anak di bawah umur. “File-file ini, karena diperoleh langsung dengan meretas komputer dan database polisi di Xinjiang, untuk pertama kalinya memberi kami informasi langsung tentang operasi polisi di dalam kamp pendidikan ulang alias kamp cuci-otak.

 “Ini termasuk gambar yang diambil selama pelatihan polisi, pelatihan keamanan di kamp ini, pidato yang diberikan oleh Chen Quanguo (Pemimpin Partai Komunis di Xinjiang) dan pejabat lainnya. “Mereka hanya berbicara langsung tentang sikap dan ancaman yang mereka lihat dari orang Ughur, dan bagaimana orang Ughur harus ditangkap, dan bagaimana kamp harus dipertahankan,” kata Zenz dalam video yang memperkenalkan file tersebut.

Dia menambahkan bahwa para pemimpin dunia harus secara langsung menekan kepemimpinan China, termasuk Presidennya, Xi Jinping. Ini karena, Zenz mengklaim, Xi Jinping sendiri dan pemerintah memantau dengan cermat apa yang terjadi di Xinjiang dan bahkan mereka mengetahui detail para tahanan dan fakta bahwa kamp semakin penuh sesak.

These are mugshots of four underaged Children arbitrarily detained in Xinjiang. They are some of the 23k listed detainees from a newly leaked police database, from just one Xinjiang county of 300,000 people.
Rahile Omer
Memetreshit Memettursun
Abdusemi Abduweli
Zeytunigul Ablehet pic.twitter.com/gGZdeVnjz5

— Nathan Ruser (@Nrg8000) May 24, 2022

Bukti baru benar-benar menunjukkan pendidikan ulang atau yang disebut “pelatihan kejuruan” di Xinjiang tidak ada hubungannya dengan meningkatnya kemiskinan, tidak ada hubungannya dengan membantu orang mendapatkan pekerjaan. Ini hanya tentang cuci-otak brutal, ini tentang menempatkan mereka di tempat-tempat seperti penjara, kamp yang dijaga oleh polisi bersenjata lengkap.

“Kami punya bukti, di gardu jaga mereka menggunakan senapan mesin kelas militer dan senapan sniper di gardu jaga dan sangat jelas bahwa ini adalah kampanye untuk mengubah pola pikir masyarakat, bukan seperti yang dikatakan transformasi melalui pendidikan,” dia berkata.

Ditangkap karena belajar Islam dan menyimpan jilbab

Rayhangul Abliz, seorang etnis Uighur di Australia mengatakan kepada laman ABC bahwa dia telah ikut menelusuri foto-foto mencari orang tuanya, yang tinggal di daerah tetangga, tetapi sia-sia. “Semuanya terlihat seperti ayah atau saudara laki-laki saya, setiap [pasangan] mata terlihat seperti [mereka] bertanya kepada saya … ‘Tolong bantu saya’,” katanya.

Dia mengatakan sangat menyedihkan melihat ratusan dan ratusan wajah, dan perasaan bagi banyak orang Uighur di Australia sangat menyedihkan.  Fatimah Abdulghafur, yang ayahnya ditahan di Xinjiang pada 2017 dan meninggal pada tahun berikutnya, mengatakan melihat foto-foto itu “membuat trauma kembali”.

“Itu memasuki kesadaran kita lagi, meskipun itu tidak pernah meninggalkan saya atau kita, orang-orang Uyghur,” katanya dikutip laman ABC.

Pada saat yang sama, dia mengatakan ada semacam kelegaan dalam melihat lebih banyak bukti – langsung dokumen dari kantor polisi China – yang bertentangan dengan narasi yang telah dibuat Partai Komunis China dan membuat banyak meragukan “kekejaman besar” yang sedang berlangsung di China.

Kelompok hak asasi manusia memperkirakan lebih dari satu juta orang dari kelompok etnis Muslim, termasuk Uyghur dan Kazakh, telah ditahan di fasilitas pendidikan ulang – yang disebut China sebagai pusat pelatihan kejuruan – di Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir. Ada juga laporan tentang kerja paksa dan sterilisasi paksa, serta tuduhan genosida, yang dibantah China.

Nathan Ruser dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), memuat beberapa foto korban yang dijebloskan ke penjara cuci-otak buatan China. Melalu akun twitternya, ia menggunggah beberapa korban ditangkap dan dijebloskan penjara dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.

Adalah Ablikim Sultan, ia  ditahan karena 15 tahun sebelumnya, pada April 2002 (ketika dia berusia 14 tahun) dia mempelajari kitab suci Al-Quran.  Ada Sidiq Seyit, dipenjara karena pernah belajar Islam selama setahun di tahun 80-an dan karena punya anak lebih dari satu.

Juga Abdulla Sulayman (16 tahun), yang ditangkap dan dipenjarakan karena menyimpan makanan halal, karena bayar zakat dan karena menyimpan jilbab.

Dr Zenz dan timnya dari Victims of Communism Memorial Foundation telah menganalisis dan mengotentikasi dokumen dan menerbitkan penelitian peer-review pada data . Media BBC dan  konsorsium jurnalis investigasi juga telah mampu mengotentikasi temuan signifikan dari kebocoran kejahatan rezim China ini.

Dengan demikian, berdasarkan bukti baru, Zenz menilai ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan para pemimpin dunia dalam menyikapi kejahatan keji China ini.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaDokumenMuslim UighurxinjiangXinjiang Police File
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bekas Orang Nomor Dua Vatikan yang Menutupi Kasus-Kasus Seksual Gereja Katolik Meninggal Dunia
Tulisan selanjutnya Bocah Irlandia Temukan Granat Tangan Perang Dunia Pertama yang Masih Aktif

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?