Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kabar dari Suriah

Inilah Kelompok Kurdi yang Bertempur Bersama Turki dalam Operasi “Olive Branch”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Maret 2018 16:07 4:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Maret 2018 16:07
Bagikan
Petempur FSA
Bagikan

Hidayatullah.com–Beberapa petempur Kurdi telah ada di dalam kelompok Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di Suriah utara ketika Turki melancarkan operasi militernya terhadap Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di Afrin, dan saat ini 400 petempur diharapkan bergabung dalam pertempuran.

Sepasukan tentara elit berjumlah 600, termasuk 400 dari etnis Kurdi, akan memasuki Kota Afrin Suriah untuk bertempur melawan YPG sebagai bala bantuan dalam ”Operasi Tangkai Zaitun”  (Olive Branch).

Mereka menyebutnya “Brigade Elang Kurdi”. Tetapi mereka bukanlah kelompok etnis Kurdi pertama yang bertempur bersama FSA yang mayoritas etnis Arab dan Turkmen, tulis TRTWorld.

Kelompok Kurdi tersebut telah bertempur melawan rezim Suriah di bawah payung FSA sejak 2011, ketika demonstrasi damai menolak rezim berubah menjadi konflik bersenjata setelah Bashar al-Assad menanggapinya dengan kekuatan militer.

Diantara mereka, terdapat tiga kelompok Kurdi penting: Brigade Selahaddin Eyyubi, Brigade Yusuf al Azame dan Brigade Mashaal Tammo, yang dinamai menurut seorang pembela HAM Kurdi yang terkenal.

Baca Juga

muslim spanyol
Muslim di Spanyol Ungkap Bahwa Setiap Jumat Seorang Warga Menjadi Mualaf
Pemimpin Rezim Suriah, Bashar Assad dan Istrinya Positif Covid-19
Rezim Assad Suriah Telah Menyiksa 98 Orang Sampai Mati dalam 2 Tahun Terakhir
PBB Prihatin Meningkatnya Kekerasan di Idlib Suriah setelah Serangan Rezim
Pakistan Kirim Bantuan Medis Terbesar Sejak Mewabahnya Covid-19

Kelompok-kelompok itu, yang jumlah petempurnya telah melebihi 700, berada di bawah komando tiga divisi Arab-Turkmen: Sultan Murad, Front al Shamiya, dan Front al Safwa.

Baca: Adu Taktik Strategi di Suriah dan Iraq

Kelompok Kurdi di bawah FSA terpecah selama pertempuran, tetapi banyak dari petempur mereka bergabung ke kelompok lain di bawah payung FSA.

Mengapa mereka menolak bertempur untuk YPG?

Pada tahun 2012, Unit Perlindungan Rakyat (YPG) telah didirikan di wilayah-wilayah mayoritas Kurdi. Mereka mengklaim bahwa mereka merupakan kelompok oposisi seperti yang lainnya. Tetapi ambisi sesungguhnya YPG untuk mengukir sebuah wilayah etnis dan mendirikan sebuah negara Kurdi merdeka di Suriah utara sehingga membedakan kelompok itu dari kelompok oposisi Suriah lainnya.

Kemudian, tentara rezim mundur dari beberapa bagian Suriah utara dan sayap politik YPG, yaitu PYD, mendeklarasikan kekuasaannya atas wilayah-wilayah tersebut tanpa adanya konfrontasi serius. Kolaborasi dengan rezim Suriah membuat FSA menganggap kelompok itu musuh bagi oposisi utama Suriah.

“Kami menyerukan keadilan dan kesetaraan diantara semua rakyat Suriah dalam hak dan kewajiban. Kami menginginkan pengakuan bahasa dan budaya Kurdi, dan kami tidak menginginkan adanya diskriminasi etnis,” Mahmoud Abu Hamza, salah satu komandan Kurdi, yang bertempur di bawah FSA, mengatakan pada Syria Direct pada 2016.

“Kami adalah orang Suriah, tetapi kami juga etnis Kurdi dan berfaksi Kurdi. Tentu saja, kami menolak sistem pemerintahan yang diumumkan oleh PYD, tetapi kami setuju dengan sistem pemerintahan itu jika itu terjadi melalui kesepakatan nasional yang inklusif antara semua komponen sosial rakyat Suriah,” katanya.

Baca: Turki dan Amerika Serikat Sepakat Melatih Ribuan Tentara FSA

Pada akhir 2014, Amerika Serikat (AS) mulai mempersenjatai YPG sebagai sekutunya di lapangan dalam perang melawan ISIS – sebuah langkah yang membuat marah Turki, yang telah mendukung oposisi utama sejak awal perang Suriah. YPG merupakan afiliasi PKK di Suriah, yang masuk daftar organisasi teroris oleh Turki, Uni Eropa (EU), dan AS.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) YPG didirikan dengan dukungan AS pada tahun 2015. Itu terjadi setelah AS mendesak YPG mengubah citranya untuk menghindari penolakan Turki.

Selain YPG, beberapa kelompok mayoritas Kurdi dan Arab juga bergabung dengan SDF dalam upaya untuk merubah imej kelompok tersebut. Tetapi ketika mereka menyadari bahwa SDF sama dengan YPG, beberapa dari kelompok itu meninggalkan SDF.

Brigade Hamza, yang mempunyai jumlah petempur beretnis Kurdi cukup besar, keluar dari SDF pada tahun 2016. Kelompok itu melatih dan mempersenjatai petempur Kurdi dan Arab, dan kemudian bergabung dalam jajaran FSA sebelum operasi bersandi “Euphrates Shield” (Perisai Eufrat) pada Agustus 2016.

Mereka masih berbasis di wilayah operasi “Euphrates Shield” di Suriah utara, yang dibebaskan dari ISIS oleh FSA dengan dukungan Turki.

Pasukan yang didominasi etnis Kurdi, Brigade Elang Kurdi, akan bergabung dengan pasukan Turki dan 25.000 tentara FSA yang sedang bertempur melawan YPG di Afrin, akan terdiri dari para petempur Brigade Hamza.*/Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ArabBrigade Elang KurdiBrigade HamzaFSAKota AfrinKurdiOlive BranchOperasi Tangkai ZaitunSDFsuriahTentara Pembebasan SuriahTurkiUnit Perlindungan RakyatYPG
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Merasakan Manisnya Iman itu dengan Amal
Tulisan selanjutnya membaca al fatihah berdoa Beristighfar untuk Membuka Pintu Rezeki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kabar dari Suriah

Krisis Roti di Provinsi di Bawah Kontrol Rezim Assad di Suriah sedang Berkembang

20 Oktober 2020 21:40
Kabar dari Suriah

Rezim Assad Berada di Balik Protes terhadap Turki di Idlib Suriah, Sumber Keamanan Mengatakan

12 Oktober 2020 10:15
Kabar dari Suriah

Serangan Bom Truk di Al-Bab Suriah Menewaskan Sedikitnya 18 orang

7 Oktober 2020 11:05
Kabar dari Suriah

Rami Makhlouf: Penipuan Terbesar di Timur Tengah terjadi di Suriah

30 September 2020 19:15
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?