Hidayatullah.com–Wacana liberalisme nampaknya tidak hanya menjadi diskusi di media massa, Muktamar Muhamadiyah ke-45 di Malang sejumlah anggota peserta Muktamar mulai mensosialisasikan ide liberalisme di tubuh organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan itu.
Ini terbukti, di hari pertama Muktamar, Senin (4/7) siang kemarin, sejumlah simpatisan dan pendukung Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) mengadakan dialog bertema "JIMM Rahmat atau Laknat" dengan mengundang tiga nara sumber dari JIMM; Pradana Boy ZTF, dosen UMM, Prof. Dr. Amin Abdullah, Rektor IAIN Yogyakarta, Syamsul Arifin, Kepala PSIF Universitas Muhammadiyah Malang. Ketiganya adalah tokoh muda Muhammadiyah yang selama ini menginginkan adanya ide liberalisme di tubuh Muhammadiyah melawan kelompok tua, Dr. Yunahas Ilyas, Lc, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang selama ini dikenal penentang masuknya gagasan sekularisme-liberalisme di Muhammadiyah.
Sayangnya, diskusi yang diadakan di ruang Media Centre dan dipenuhi wartawan itu hanya dihadiri pentolan JIMM, Pradana Boy dan Nidhom Hidayatullah. Pembicara yang lain tidak datang.
Dalam diskusi tersebut, aktivis JIMM Boy Pradana dan Nidhom Hidayatullah mengatakan bahwa sebagai wadah intelektual muda, JIMM merasa mendapat serangan dari tokoh-tokoh tua Muhammadiyah yang tidak setuju dengan tradisi intelektual yang dikembangkan JIMM.
Misalnya, ketika JIMM membuka wacana hermeneutika dalam Al-Qur’an, pluralisme agama yang disebutnya sebagai pembaharuan pemikiran kalangan muda muda Muhammadiyah.
Para sesepuh Muhammadiyah, ujar Boy, mentah-mentah menolaknya. Alasan Boy, penolakan tersebut biasanya tidak didasari oleh alasan yang ilmiah.
Boy lantas menekankan pentingnya ummat Islam belajar agama ke Barat karena saat ini merekalah yang menguasai peradaban Barat.
Pernyataan mahasiswa The Australian National University (ANU), ini mengundang reaksi dari peserta. Seorang peserta, pada sesi tanya jawab menyangkal pernyataan Boy yang mengharuskan ummat Islam belajar ke Barat.
"Ummat Islam memang tidak salah belajar ke Barat, tapi bukan belajar agama, belajar sains dan ilmu pengetahuan. Kalau ummat Islam belajar agama maka akan menimbulkan masalah, karena epistimologi Barat dan Islam berlawanan. Epistiemologi dalam Islam adalah bagian dari aqidah Islam. Sehingga mempelajari ilmu apapun harus merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits, " ujar M Al-Khaththat yang juga Ketua DPP HTI.
Belum mampu menyanggah pernyataan itu, Boy sudah mendapat serangan dari peserta lain. Seorang peserta asal Surabaya, Bahrul Ulum, memprotes pernyataannya yang mengatakan perlunya kajian hermeunetika dalam Al-Qur’an dan pluralisme agama. Menurutnya, hermeneutika itu tidak tepat diterapkan ke Al-Qur’an, karena lebih tepat dilakukan terhadap Bible yang memang sejak semula banyak masalah.
"Ada perbedaan yang sangat siqnifikan antara Al-Qur’an dan Bible, " ujar pria yang juga peminat kristologi ini. Dalam kajian hermeneutika, ujarnya, pembahasan pertama yang dikupas adalah tentang keaslian dan keotentikan kitab suci.
Dalam kasus Bible, ujarnya, teolog kenamaan seperti Robert Funk, profesor perjanjian baru dengan tegas mengatakan bahwa teks-teks Bible itu bermasalah. Banyak ayat-ayat dalam Bible tidak tercatat dalam teks kuno abad pertama dan kedua, tapi tiba-tiba muncul pada abad kemudian. Untuk meluruskan hal ini perlu dilakukan analisa dengan menggunakan ilmu hermeunetika. Sedang hal itu tidak terjadi pada Al-Qur’an.
"Semua ulama Islam sepakat bahwa Al-Qur’an itu kalamullah dan otentik adanya. Ia bukan bikinan Nabi Muhamamd SAW, karena beliau itu ummi. Kemudian sejak pertama diturunkan, Al-Qur’an tidak hanya ditulis tetapi juga dihafal. Sehingga keotentikannya dapat terjaga. Jadi sangat keliru menggunakan metodologi hermeneutika ke dalam Al- Qur’an," ujar pria dua anak ini menyangkal Boy.
Boy juga mendapat serangan soal pernyataanya yang mengatakan keharusan pluralisme agama. Seorang peserta mengatakan bahwa selama ini kelompok mengaku Islam liberal memaksakan istilah yang salah kepada umat dengan mencampuradukkan istilah pluralisme dengan pluralitas. Boy juga sempat mengatakan Nabi Muhammad itu adalah liberal.
"Pluralisme adalah sebuah paham yang mengacu pada agama sipil (civil religion) di Barat yang jelas bertentangan dengan Islam. Dalam paham tersebut sebuah aturan didasarkan pada kesepakatan masyarakat. Jika perilaku homoseksual atau lesbia disepakati boleh oleh masyarakat, maka ia boleh dilakukan. Ini jelas betentangan dengan Islam yang menolak tegas kedua perilaku amoral tersebut, " ujarnya. "Islam menghargai pluralitas tetapi menolak paham pluralisme yang menganggap semua agama sama", tambahnya.
Hingga akhir diskusi jawaban para aktivis JIMM dianggap peserta lain tak ada ujungnya. "Ya tapi liberal yang diinginkan JIMM tidak sama dengan liberalisme ala JIL (Jaringan Islam Liberal), " tandas Boy.
Alih-alih sedang kampenye liberal, apa lacur malah kelabakan. Bahkan hingga akhir diskusi kampanye aktifis JIMM tersebut tetap mendapatkan perlawan seru dari peserta. Ujungnya, moderator beralasan waktunya tak mencupi.
Usai acara, Hidayatullah.com sempat mengontak Yunahar Ilyas yang tidak menghadiri undangan JIMM itu. "Ah, saya sudah tau arahnya. Itu pasti kampanye. Saya menganggap tak ada manfaatnya. Apalagi, istilahnya, saya ‘dikeroyok’ 3:1, " ujarnya pendek. (bul/amz/cha)