Istri Abdurahmah Wahid ini mengatakan bahwa leher perempuan itu tidak wajib untuk ditutupi dan boleh dibuka. Lha kok?
Hidayatullah. com— Istri Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah dan seorang aktivis JIL dikabarkan telah diundang oleh manajemen RS Mitra Keluarga Bekasi, untuk berbicara mengenai busana muslimah kepada para perawat berjilbab di RS yang belakangan ramai diberitakan soal sentimen anti-jilbab ini.
Demikian keterangan kuasa hukum RS Mitra Keluarga, Luthfi Hakim, sebagaimana disampaikan kepada situs hidayatullah.com, (7/1), pagi tadi.
Seperti diberitakan Republika hari Rabo, pihak RSMKB pada Jumat, (2/1) lalu, mengumpulkan seluruh karyawannya yang berjilbab untuk dipertemukan dengan Sinta Nuriyah dan seorang aktivis perempuan ini.
Lutfi mengaku tidak mengetahui jelas pertemuan tersebut. Kata Luthfi, dari laporan manajemen, Ibu Sinta mengatakan bahwa leher perempuan itu tidak wajib untuk ditutupi, sehingga boleh dibuka.
“Tapi usul Ibu Sinta itu langsung kami tolak,” kata Luthfi.
Luthfi mengaku tidak mengetahui nama aktivis JIL dan para aktfis perempuan yang ikut menemai Sinta. Pihak RSMKB juga tidak mengetahuinya, Tapi kata Luthfi, aktivis JIL itu berasal dari Cirebon.
Diundangnya Sinta sebagai pembicara, kata Luthfi, dikarenakan Sinta dan Gus Dur adalah pasien RS Mitra. Pihak manajemen menganggap Sinta cukup kredibel untuk bicara soal Islam dan busana Muslimah.
Namun Luthfi membantah jika pertemuan itu dimaksudkan untuk mendesak para karyawan berjilbab di RSMKB.
“Pertemuan itu tidak merubah apa-apa,”katanya. Katanya, pihak RSMKB masih komit dengan perjanjian yang membolehkan pemakaian jilbab dan manset bagi para karyawannya.
Kata Luthfi manset memang masih menjadi masalah. Pihak RS beralasan manset (baju lengan panjang) yang dipakai para perawat medis dikhawatirkan bisa menjadi sarana transfer penyakit antar pasien. [sur/hidayatullah.com]