Hidayatullah.com–Pasukan Muammar Qadhafi menghancurkan bagian barat kota Misratah, menewaskan sedikitnya 23 penduduk dan melukai yang lainnya, sementara Barat terus melanjutkan usahanya memperoleh konsensus di Libya.
Pertarungan sengit terus berlanjut hingga hari Kamis di sekitar Misratah, yang telah menjadi tempat perang sejak revolusi dimulai di pertengahan Februari. Kelompok oposisi mengatakan pasukan pemerintah pro Qadhafi menembakkan lusinan roket ke kota di pesisir pantai, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 20 lainnya pada hari Kamis.
Kelompok pembela hak dan badan amal internasional telah mengingatkan meningkatkan musibah kemanusiaan di Misratah—kota terbesar ketiga di Libya—di mana ratusan penduduk dilaporkan tewas semenjak pengepungan dimulai enam minggu yang lalu.
Selama rapat NATO di Berlin pada hari Kamis, Sekretaris Jendral Anders Fogh Rasmussen, didukung oleh pemerintah Prancis dan Inggris, meminta intensifikasi perang di Libya melalui penyebaran lebih banyak pesawat tempur. Sementara pesekutuan Eropa, NATO dan AS bagaimanapun, menolak mundur.
Sementara itu, peperangan sengit terbaru dilaporkan terjadi sekitar timur laut kota Ajdabiya. Laporan mengatakan pasukan pro-Qadhafi meluncurkan artileri dan tembakan mortar dengan sasaran pasukan oposisi.
Sejumlah orang juga dilaporkan tewas di ibukota Tripoli setelah pesawat perang NATO meluncurkan serangan udara pada hari Kamis.
Ali Al Isawi, seorang wakil Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) dikutip AP melaporkan, pasukan yang setia pada Muammar Qaddafi telah membunuh 10.000 orang dalam pertempuran di Libya, dengan 20.000 orang hilang dan 30.000 terluka, seperempat dari mereka serius, kata seorang pejabat pemberontak, Selasa (12/4).
Pasukan pemberontak mengkritik pasukan koalisi Barat karena kegagalan mereka dalam mencegah terbunuhnya penduduk oleh pasukan pro-Qadhafi.*