Hidayatullah.com– Polres Bogor baru-baru ini mengamankan empat pelaku dan enam korban yang terlibat praktik kawin kontrak di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Terkait kasus itu, Bupati Bogor Ade Yasin mengaku akan melakukan sejumlah langkah, salah satunya berkoordinasi dengan para kepala desa di kawasan Puncak untuk siaga dan memastikan lingkungannya steril dari praktik kawin kontrak maupun praktik prostitusi.
“Harus siaga dan melihat lingkungannya, apakah terindikasi prostitusi seperti ini atau tidak, jadi harus ada seperti dulu, tamu harus lapor 24 jam,” ujar Bupati saat ekspose tentang kawin kontrak bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bogor, di Mapolres Bogor, Cibinong, Kabupaten Bogor, semalam, Senin kutip INI-Net, Selasa (24/12/2019).
Bupati Ade Yasin memastikan bahwa para pelaku yang terlibat dalam kasus kawin kontrak itu bukan warganya, tapi warga daerah yang bersebelahan dengan Kabupaten Bogor.
“Bukan berarti warga setempat tutup mata, tapi ini hit and run. Mereka juga pasti menolak,” ujar Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jabar ini.
Sementara Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni menyebutkan, pelaku berinisial ON alias Mami E, IM alias Mami R, BS, dan K. Sementara enam korbannya perempuan dewasa berinisial H, Y, W, SN, IA, dan MR.
Menurut Joni, para pelaku berasal dari Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, sementara para korbannya mayoritas warga Sukabumi.
Menurut Bupati, secara umum Pemkab Bogor akan membentuk tim gabungan dengan Forkopimda Kabupaten Bogor agar dapat secara bertahap membersihkan praktik kawin kontrak dan prostitusi dari kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
Bupati bertekad mengembalikan kawasan Puncak menjadi tujuan wisata nasional, setelah Puncak Bogor dicoret oleh Kementerian Pariwisata dari daftar daerah tujuan wisata atau Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) sejak 2015 lalu.
Sebab jika tidak, menurutnya akan menghambat Program The City of Sport and Tourism, yaitu meningkatkan angka kunjungan wisata Kabupaten Bogor menjadi 10 juta wisatawan per tahun, dari kondisi semula 7,3 juta wisatawan per tahun.*