Hidayatullah.com—Banyaknya SMS yang beredar di masyarakat beridentitas Divisi Pemberangkatan Komite Pemberangkatan Pejuang Palestina (KP3) yang mencari relawan ke Jalur Gaza seiring agresi militer sejak Hari Rabu (14/11/2012) dinilai Direktur The Community of Islamic Ideological Analyst (CIIA), Harist Abu Ulya sebagai gejala yang perlu diwaspadai.
Menurut Harits, ini bukan karena ia menolak gagasan jihad membela Palestina dan rakyat Gaza, tetapi ia mengkhawatirkan ada operasi intelijen hitam dibalik SMS tersebut.
“Awas, ini bisa jadi jebakan inteligen apalagi perekrutan itu dilakukan oleh orang yang fiktif dan tidak memiliki latar belakang ormas Islam yang jelas,” jelasnya kepada hidayatullah.com usai kegiatan “Halaqoh Peradaban Hizbut Tahri Indonesia” di Wisma Antara Jakarta, Kamis (21/11/2012) kemarin.
Harist mengingatkan pada umat Islam, bagaimana ketika Ustad Abubakar Ba’asyir (ABB) justru diseret ke pengadilan dengan mengundangan Undang-undang Terorisme, setelah “dijebak” pada kasus latihan jihad di Aceh. Menurutnya, latihan jihad dalam SMS yang belakangan muncul di masyarakat tersebut juga terjadi saat serangan Zionis-Israel ke Jalur Gaza.
“Tapi karena tidak dikoordinasikan akhirnya mereka justru jadi lahan jebakan intel untuk agar mudah dituduh teroris, ini bisa jadi boomerang,” jelasnya lagi.
Senada dengan Harist, Mantan Kasad Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto menilai masyarakat yang ingin berjuang ke Jalur Gaza sebaiknya melalui prosedur yang benar.
Tyasno mengkhawatirkan pemberangkatan relawan yang ingin berjihad di Jalur Gaza bisa dipolitisir. Menurutnya, hal itu sangat mungkin terjadi mengingat proyek perang terhadap terorisme ini terus mencari kambing hitam.
“Sudah jadi rahasia umum, bahwa terorisme itu harus ada (diciptakan, red), akhirnya siapa saja bisa dituduh terorisme. Kalau tidak ada penangkapan terorisme mana ada suntikan dana dari luar negeri. kan intinya disitu,” jelasnya kepada hidayatullah.com.
Tyasno menekankan, TNI siap memfasilitasi pemberangkatan relawan ke Jalur Gaza atau ke Suriah. Selama semua itu dilakukan melalui prosedur-prosedur yang positif.
Bahkan ia menjelaskan bahwasanya TNI itu berdiri diawali oleh Laskar Hizbullah dan Sabilillah buatan Masyumi. Sebelum Indonesia merdeka Masyumi sudah mendirikan laskar militer tersebut. Dan Laskar tersebut langsung di bina oleh tentara Pembela Tanah Air (PETA).
“Jangan jadikan TNI itu musuh, TNI itu akar berdirinya dari umat. Kalau perlu saya siap memfasilitasi kerjasama antara para relawan dan TNI. Jangan sampai umat dijebak dengan tuduhan terorisme” tegasnya lagi.
Sebelumnya, menurut Dr Jose Rizal, Presidium MER-C juga menjelaskan bahwa rakyat Gaza lebih membutuhkan bantuan kemanusiaan dibandingkan relawan mujahidin.
Menurutnya faksi-faksi mujahidin seperti Brigade Izzudin Al-Qassam dan elemen-elemen perlawanan lain di Jalur Gaza justru sangat berhati-hati dengan masuknya kelompok-kelompok baru di Jalur Gaza.
“Saya pernah ke sana dan bertemu mereka, relawan kami juga tinggal di sana dan menikah di sana. Hati-hati, karena bukan cuma di Indonesia, di dunia internasional juga banyak agen intelijen berpura-pura jadi mujahidin,” tegas Jose Rizal kepada hidayatullah.com saat konferensi pers di kantor MER-C Jakarta.*