Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Kajian Politik Islam, Kajian Paling Miskin di Dunia

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 17 Juni 2013 09:10
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Kajian politik Islam adala suatu kajian yang jarang dibahas banyak orang. Demikian disampaikan pakar hadist Dr Haji Daud Rasyid Sitorus MA dalam pengantar kajian kitab “Ahkamus Sulthaniyah” di Masjid Agung A Azhar, kemarin Ahad (16/06/2013) di Jakarta.

“Syeikh Yusuf Qaradhawi dalam mukaddimah bukunya ‘Min Fiqhid Daulah’ menyatakan bahwa kajian politik Islam paling jarang dibahas,” terangnya di depan ratusan peserta pengajian.

Menurut Daud Rasyid Kitab Ahkamus Sulthaniyah, menurutnya, dibahas oleh mahasiswa tingkat master dan PhD di Timur Tengah, jurusan Siyasah Syar’iyyah.

“Padahal dulu dia merupakan kajian yang tidak terpisahkan dengan Islam (Sunnah Nabi).  Ada Bab Imarah  (kepemimpinan) dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Bab itu isinya tentang cerita politik,” kata Doktor Hadits lulusan Al Azhar Kairo ini.

Menurutnya, bab kepemimpinan dalam literatur fikih Islam lebih banyak lagi. Eksplorasi al-Qur’an dan as Sunnah adalah fiqhus siyasi.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Mungkin karena negeri Muslim umumnya berkiblat ke Barat dan Barat sangat berkepentingan mengebiri politik Islam, maka  negeri-negeri Muslim menjadi resisten terhadap kajian politik Islam. Apalagi yang namanya masjid.  Maka alhamdulillah Kiai Kholil Ridwan berhasil mengadakan kajian yang sangat ditunggu-tunggu umat,”paparnya.

Ia berharap, kajian politik lintas harakah dan partai ini bisa untuk pembinaan umat tentang siyasah Islamiyah (politik Islam) dan waqi’us siyasi islami  (fakta-fakta politik Islam yang ada).

“Jadi untuk mengedukasi umat tentang teori politik Islam dan kenyataan politik umat. Rujukannya adalah Ahkaamus Sulthaniyah karya Imam Mawardi (bermazhab Imam Syafii),”terangnya lebih lanjut.

Sebagaimana diketahui, Imam Mawardi ini wafat pada 450 H, jadi sudah abad yang silam usia buku ini.

“Ini menunjukkan kekayaan teori politik islam. Umat lebih dulu mengembangkan teori politik ketimbang dunia Barat yg menjadi contoh saat ini.”

Dr Daud Rasyid selanjutnya menerjemahkan satu per satu kalimat dalam kitab itu mulai dari awal. Di mana Imam Mawardi menjelaskan bahwa Allah telah menerangi kepada kita agama Islam ini dan memberikan kepada kitab menjadi penerang.  Selain itu dijadikannya hukum halal haram, sehingga menjadi hukum di dunia ini untuk memantapkan kemaslahatan manusia.
“Memberikan kaidah kebenaran dan memberikan kepada umat pemimpin yang memberikan ketentuan yang paling bagus dan pengaturan yang paling bijak, yaitu Nabi Muhammad saw,”papar Dosen Uinisba Bandung ini. Dalam penutupnya ia menegaskan bahwa Islam adalah din wa daulah (agama dan Negara).

Dominasi Sekularisme

Sedangkan Prof Din Syamsuddin dalam sambutannya menyatakan bahwa masalah utama umat Islam di global dunia dan di Indonesia adalah dalam bidang politik.

“Yaitu adanya kesenjangan adanya cita-cita ideal politik dan realitas kehidupan umat Islam. Di mana umat Islam di dunia ini yang jumlahnya 1,6 milyar dan di Indonesia 88,2%, 207 juta Muslim belum menjadi determinan (penentu)  politik  Indonesia. Ind,”terangnya.

Karena begitu pentingnya kajian ini, Ketua PP Muhammadiyah ini  mengharapkan kajian ini berumur seumur jagung dan berhenti usai Pemilu 2014.

Sementara itu Ketua Partai Bulan Bintang, Dr. MS Kaban menyatakan bahwa sejak dunia Islam didominasi kekuatan sekuler, maka pemahaman agama dengan negara dipisahkan sangat kuat sampai dengan hari ini. “Kita umat mayoritas tetapi umat tidak memiliki peran-peran yang signifikan dalam kehidupan dan bernegara. Saya merasakan hal itu (ketika menjadi menteri dan lain-lain),”terangnya.

Dosen UIKA Bogor ini menjelaskan bahwa peran ulama dan tokoh-tokoh Islam dulu membangun Islam dalam format Indonesia, banyak generasi muda yang belum membacanya.  Karena itu ia mengharapkan, pengajian politik Islam ini jangan berhenti di tengah jalan.

“Di Bogor ada pengajian tafsir Ahad Subuh yang diasuh oleh Kiyai Didin Hafidhuddin berlangsung hampir 20 tahun hingga kini,” paparnya.

Dr Kaban juga menjelaskan bahwa Islam di negeri ini sudah diperjuangkan para pendahulu tokoh-tokoh kita sejak awal. Misalnya pernah diperjuangkan presiden itu adalah orang indonesia asli dan Islam. Perjuangan Piagam Jakarta,  Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dan seterusnya.

“Saat ini minoritas menguasai 87% sumber daya ekonomi kita. Padahal mereka jumlahnya cuma 3% dari penduduk negara kita. Itu yangg sedang terjadi. Dulu hanya VOC (Serikat Dagang Belanda), mereka bisa menanamkan pengaruhnya sampai 350 tahun. Sekarang  ini 141 Undang-Undang  udah dibuat untuk kepentingan yang menguasai di seluruh bidang itu (ekonomi),  yang jumlahnya hanya 3 persen itu,” tegas mantan Menteri Kehutanan ini.*

Dalam kesempatan yang sama, Dr Fuad Amsyari menjelaskan bahwa karena tidak faham Islam Politik (atau politik Islam), maka umat memiih pemimpin salah.

“Begitu menjadi pemimpin, membuat kebijakan salah. Menjadi ketua partai politik salah. Karena tidak banyak disentuh Islam politik. Di masa represif (dulu) pengajian seperti ini dilarang,”tegas cendekiawan yang vokal dari Surabaya ini.

Ia mengharapkan ulama jangan lari dari politik.

“Islam politik mengajarkan satu yang kongkrit. Dua sisi yang harus dpahami. Pertama adalah memobilisasi umat Islam supaya memegang kekuasaan. Bagaimana Islam berkuasa di negeri dimana mereka tinggal. Jangan memilih pemimpin yang tidak mengerti agama. Menjadikan negeri ini memilih pemimpin yg Islam. Pengajian ini tidak mengarahkan ke parta sekuler, partai yang tidak berminat untuk menerapkan syariat islam. Haram dan jangan memilih partai yang tidak berminat pada syariat. Karena islam itu kaffah,” tegasnya.

Dr Fuad mengharapkan umat memilih presiden, menteri, dirjen menurut ukuran Islam.  Ia menyesalkan pakaian Polwan yang tidak Islami.

“Kalau di Prancis wajarlah (melarang jilbab). Sekarang ini hukum non Islam dipaksakan untuk umat Islam,”tegasnya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan ekonomi, pendidikan, hukum, hankam, budaya dan lain-lain mesti kebijakan Islami. 

Pengajian politik Islam perdana ini cukup sukses. Ratusan peserta lintas ormas dan partai, serta tokoh-tokoh Islam hadir.  Sayangnya dalam pertemuan itu, Dr Hidayat Nur Wahid, Suryadarma Ali dan Hatta Radjasa tidak jadi hadir meski sebelumnya sudah memberikan konfirmasi. Dua minggu lagi (30 Juni) yang akan memberikan materi diantaranya KH Makruf Amin, di samping penceramah tetap Dr Daud Rasyid.*/nuim

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kajian Lintas Parpol lahir Karena ‘Kekalahan” Politik umat Islam
Tulisan selanjutnya Rumania Bangun Laser Terbesar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman

Berita
25 Juni 2026 17:32
Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat
Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS
Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Terbaru

  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?