Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Gelombang Mualaf di AS, Islam jadi Jalan Pulang bagi Ribuan Narapidana

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 April 2025 14:17 2:17 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 April 2025 14:15
Bagikan
Penghuni penjara Sing Sing, di tepi Sungai Hudson, di negara bagian New York, AS melakukan shalat jamaah/The New York Times
Bagikan

Hidayatullah.com—Islam menjadi agama yang tumbuh paling cepat di penjara-penjara Amerika Serikat. Fenomena ini menjadi sorotan dalam laporan mendalam jurnalis Lisa Ling dalam seri “Keadaan Spiritualitas” yang ditayangkan di salah satu jaringan televisi besar AS, CBS Morning.

Melalui peliputan yang menyentuh, Lisa menelusuri bagaimana ribuan narapidana menemukan arah hidup baru melalui Islam—di tempat paling tidak terduga: balik jeruji besi.

Di antara surat-surat yang menggunung di kantor pos, Ramy Nour, pendiri dan direktur Yayasan Taba, menunjukkan tumpukan permintaan dari narapidana di seluruh negeri—Texas, Ohio, Florida, hingga Colorado. Semua berasal dari penjara. “Ini dari mereka yang ingin belajar Islam,” kata Nour kepada Lisa Ling.

Yayasan Taba merupakan organisasi pertama di AS yang menawarkan program pembelajaran jarak jauh tentang Islam khusus untuk narapidana.

“Ketika kami memulai 15 tahun lalu, kebutuhan utama yang kami dengar dari para napi Muslim adalah akses ke pendidikan Islam. Kami mendirikan Taba untuk mengisi kekosongan itu,” tutur Nour.

Baca Juga

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Menurut laporan Lisa Ling, Islam menjadi agama yang paling cepat berkembang di penjara AS. Diperkirakan puluhan ribu narapidana—kebanyakan pria—berpindah keyakinan setiap tahun.

“Kami telah melayani lebih dari 13.000 orang, dan 90 persen dari mereka adalah mualaf, sebagian besar dari dalam penjara,” kata Nour.

Lisa pun menyoroti sisi psikologis dan spiritual dari keputusan para napi untuk memeluk Islam. “Islam menawarkan struktur, disiplin, dan ketenangan yang tidak mereka temukan sebelumnya. Bahkan ketika fisik mereka dikurung, mereka merasa jiwa mereka bebas,” ujarnya dalam narasi liputannya.

Salah satu kisah yang menggugah adalah perjalanan Muhammad Amin Anderson, yang dulunya bernama Christopher Anderson.

Ia tumbuh sebagai anak seorang pendeta di Philadelphia, tetapi sebagai remaja, ia terjerumus ke dunia narkoba dan kekerasan geng. Ia dijatuhi hukuman lebih dari 30 tahun atas keterlibatannya dalam pembunuhan.

“Saat saya masuk penjara, saya tidak punya rasa kemanusiaan. Tapi justru di penjara saya menemukannya kembali—melalui Islam,” ujar Anderson kepada Lisa Ling.

Ia memeluk Islam satu atau dua tahun setelah ditahan, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari berbagai agama sebelum akhirnya memilih Islam karena menurutnya “satu-satunya yang masuk akal.”

Ia kemudian terhubung dengan Nour dan mulai belajar Islam secara mendalam melalui materi dari Yayasan Taba, juga bimbingan langsung via telepon.

“Saya mengajarinya selama bertahun-tahun, sampai akhirnya ia mampu menjadi guru di penjara,” kata Nour.

Lisa Ling juga mengangkat pertanyaan umum yang sering muncul di masyarakat tentang kemungkinan radikalisasi di penjara. Nour menjawab tegas: “Teori itu tidak benar. Data tidak menunjukkan adanya pola itu. Kalaupun ada kasus radikalisasi, sangat langka—seperti halnya ada ekstremis Kristen. Tapi itu bukan cerminan dari mayoritas.”

Data dari National Institute of Corrections mendukung klaim tersebut, menyatakan bahwa radikalisasi di penjara AS oleh narapidana Muslim sangat jarang terjadi.

Nour menekankan bahwa banyak narapidana tertarik pada Islam setelah melihat perilaku Muslim lain di dalam penjara. “Mereka melihat ada sesuatu yang berbeda—ketenangan, kedisiplinan, dan karakter yang baik. Ketika ditanya, mereka menjawab, ‘Ini karena Islam saya.’”

Muhammad Amin Anderson akhirnya bebas pada Juli lalu, setelah menjalani hukuman penuhnya. Kini ia bekerja di Yayasan Taba.

Dalam wawancara dengan Lisa, ia tampak emosional saat mengenang masa lalunya. “Saya orang yang dulu menghancurkan hidup orang lain. Tapi Tuhan memberi saya kesempatan kedua. Saya percaya saya punya kewajiban—kepada korban, keluarganya, anak-anaknya—untuk menjalani hidup ini dengan makna.”

Lisa Ling menutup laporannya dengan refleksi: “Jarang saya melihat seseorang begitu jujur tentang masa lalunya, dan sekaligus begitu teguh pada perubahan yang ia lakukan. Ketika saya bertanya, ‘Apa arti hidup?’ ia menjawab dengan penuh makna. Itu pertanyaan yang tak semua orang berani hadapi,” tambahnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agama tercepatgelombang IslamHeadlineislammualaf ASpenjara Amerika Serikat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Bantu Subsidi Rumah Wartawan Tanpa Syarat Politik
Tulisan selanjutnya Saudi Terbitkan Larangan Masuk ke Wilayah Kota Makkah Jelang Musim Haji 1446 H

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

3 Juni 2026 12:08
Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

3 Juni 2026 09:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?