Hidayatullah.com–Kefasihan tilawah para penghafal Quran Indonesia dikagumi Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Duta Besar Saudi di Indonesia, Syeikh Mustafa Ibrahim Al Mubarak pada hidayatullah.com belum lama ini.
Menurutnya, penduduk Indonesia yang tidak bisa berbahasa Arab namun dinilai fasih dalam tilawah. Bahkan, jika dibandingkan negara lainnya yang juga tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu-nya, penghafal Indonesia jauh lebih fasih.
Kekaguman lain Mustofa tercermin saat mendengarkan suara Musa, anak usia 5 tahun asal Jakarta yang begitu fasih melanjutkan ayat-ayat Quran.
“Hadza Musa..Musa, Masya Allah! Hifdz jayiid, wa tilawatil jayiid,” seru Mustofa pada hidayatullah.com di ruang kerjanya.
Ia menunjukkan rekaman video saat anak berusia 5 tahun itu bertilawah.
Musa, tambah mustofa, tidak saja memiliki kemampuan presisi dalam mengingat ayat-ayat al Al Quran, tapi juga memiliki suara yang indah. Berkali-kali pujian pada Musa dilontarkannya.
Musa adalah pemenang Musabaqah Hifdzil Quran di Indonesia untuk anak kecil yang disponsori oleh Raja Abdullah. Saat ini, Musa sedang berada di Arab Saudi untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional.
Mustofa mengapresiasi para orangtua di Indonesia yang sudah bekerja keras mengajarkan Al Quran pada anak-anak mereka.
Para pengajar Quran di Indonesia, lanjut Mustofa, kreatif dalam mencari metode. Ia pernah menemukan seorang anak Indonesia yang menggunakan metode hafalan dengan ruas jari.
“Setiap berpindah ayat, anak itu memindahkan jempolnya ke buku-buku jari lainnya. Saya belum pernah menemui cara-cara unik seperti ini,”ungkapnya penuh kekaguman. Metode unik itu mampu melancarkan ingatan nomor ayat beserta artinya.
Memperdengarkan bacaan Quran pada anak sedini mungkin juga bisa melatih hafalannya. Tak heran, walaupun mereka belum bisa membaca, namun mampu mengingat ayat per ayat secara tepat.
“Seperti anak saya, Muhammad dan Khalid. Mereka menghafal dengan cara mendengarkan. Setiap hari ada guru ngaji yang datang dan memperdengarkan al Quran,”cerita Mustofa tentang kebiasaan menghafal kedua anaknya. Rutin dilakukan setiap hari, kini Muhammad sudah hafal lebih dari 3 juz di usia sepuluh tahun.
Berbagai metode perlu dicoba oleh setiap orangtua untuk membuat anaknya senang menghafal. Jika satu metode tidak bisa, maka bisa menggunakan metode lainnya yang lebih cocok. Seperti dirinya, Mustofa lebih nyaman menghafal dengan melihat mushaf. Memorinya akan merekam setiap bentuk huruf dan letak kalimat.
“Karena orangtua di Indonesia cukup banyak memberi perhatian terhadap pengajaran Quran pada anak-anaknya, oleh karena itu para ulama Arab Saudi dan juga ulama negara lainnya, ingin melihat secara langsung bagaimana proses pengajaran dan tilawah anak Indonesia,”ucapnya tandas.*