Hidayatullah.com–Duh seram. Mungkin perasaan itu yang ada di benak masyarakat Bali terutama di Kabupten Badung. Wajar saja pengamanan yang super ketat dengan melibatkan sebelas ribu lebih personel TNI dan Polri membuat suasana Pulau Dewata bak mau perang. Sebagai tuan rumah KTT APEC 2013, pulau ini juga dijaga super ketat dari laut dengan menyiagakan 15 armada dan 16 armada di udara.
Ribuan personel gabungan itu tersebar di setiap sudut, bahkan ke gang-gang. Hal ini bisa dilihat di Jalan Tuban menuju Nusa Dua. Tak hanya patroli dari kepolisian dan densus yang melitas, tapi ratusan anggota TNI dikerahkan untuk berjaga-jaga di setiap gang sepanjang jalan tersebut.
Lain lagi pengamanan di kawasan Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Tak satu pun kendaraan, baik roda dua maupun empat boleh masuk, kecuali dilengkapi stiker khusus yang dikeluarkan dari pihak pengamanan.
Pengunjung, peserta KTT APEC bahkan awak media hanya bisa masuk kawasan tersebut jika dilengkapi dengan identitas (ID) yang dikeluarkan panitia. Itu pun tidak cukup, mereka harus melewati pemeriksaan sebelum naik shuttle bus yang telah disediakan menuju BTDC.
Bak mau berpergian keluar negeri, benda cair, seperti air mineral, parfum, korek gas pun harus ditanggalkan demi keamanan.
Panglima Komando Gabungan Pengamanan (Pangkogabpam) APEC 2013, Letjen TNI Lodewijk F. Paulus, menyatakan, dua sistem senjata digunakan dalam rangka pengamanan, untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh kepala negara, kepala pemerintahan beserta delegasinya selama Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik yang berlangsung, 1-8 Oktober 2013. ”Pengamanan KTT APEC 2013 ketat tapi nyaman. Ini petunjuk khusus Bapak Presiden kepada Panglima TNI,” tegasnya dikutip laman Balipos, Ahad (06/10/2013).
Dia menyatakan, untuk pertama kalinya pengamanan perhelatan internasional ini dipimpin seorang letnan jenderal. Artinya, pemerintah sangat serius menyiapkan dan melaksanakan pengamanan KTT APEC 2013 dengan pola berbeda.
”Seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan yang hadir akan mendapat perlakuan sama. Tidak dibeda-bedakan, pengamanan dengan standar sangat tinggi,” katanya.
Pola pengamanan yang ketat namun nyaman itu menjadi pengalaman baru tersendiri bagi TNI dan Kepolisian Indonesia. Kendati dia akui, ada beberapa negara yang meminta hal-hal khusus terkait pengamanan kepala negara atau kepala pemerintahannya. ”Hal itu memang terjadi, kami sesuaikan saja dengan keperluan mereka,” katanya.
Di sisi lain, pengamanan Very Very Important Person (VVIP) RI 1 juga dilakukan. Selama pengamanan VVIP RI 1, KRI Malahayati-362 yang dipimpin Letnan Kolonel Laut (P) Moch M. Irchamni bersama dengan pesawat udara patroli maritim TNI-AL mengawasi wilayah perairan. Pengamanan laut dan udara dilakukan untuk mencegah infiltrasi dan sabotase musuh yang mungkin dilakukan melalui perairan. Selain KRI Malahayati-362, ada pula KRI Banda Aceh-593 yang turut mengamankan pelaksanaan KTT APEC 2013.
Selain itu, Satuan Koordinasi Komando Armatim juga mengoptimalkan kekuatan anti-udaranya untuk mendukung pengamanan. Mulai dari Presiden mendarat hingga meninggalkan Pulau Dewata dari Bandara Ngurah Rai. Radar udara dan senjata anti-udara KRI Malahayati selalu siap mengantisipasi ancaman sewaktu-waktu. Pihaknya juga menerjunkan satu Satuan Tugas Komando Pasukan Katak. Mereka sudah stand by di perairan sejak pertengahan September sampai diperintahkan kembali ke Surabaya.*