Hidayatullah.com– Baru-baru ini, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma menghadiri acara Tasyakuran Kelulusan dan Penugasan Santri Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra (MARAMA). Bertempat di Pendopo Daarul Arqam, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), acara ini mengangkat tema “Mencetak Generasi Berkarakter Tauhid untuk Peradaban Islam”.
Menengok tema itu, Satria pun meyakini, kelak peradaban dunia akan lahir dari madrasah yang terletak di pinggiran timur Kota Minyak tersebut. “Mungkin suatu saat (MARAMA) mencetak kader Islam untuk peradaban dunia,” ujarnya, Sabtu (21/6/2014) pagi.
Acara tersebut diikuti 46 orang alumni MARAMA angkatan ke-22. Sebagian besar ditugaskan dalam pengabdian masyarakat di sejumlah kota se-Kaltim selama setahun. Sebagian lagi ditugaskan melanjutkan studi di sejumlah perguruan tinggi yang telah ditunjuk madrasah.
Rupanya penugasan tersebut mengundang decak kagum dari Satria. Setahu dia, selama ini mahasiswa yang melakukan kerja sosial seperti praktik kerja lapangan atau Kuliah Kerja Nyata (KKN), itupun waktunya hanya sebentar.
Namun, baru kali itu dia dapati ada lulusan SMA-sederajat yang terjun langsung ke masyarakat. “Ini sungguh luar biasa. Dan ini lulusan SMA, itupun setahun (tugasnya),” ungkapnya, lantas memuji bahwa penugasan itu lebih hebat dari KKN dan sejenisnya.
Pengamatan hidayatullah.com, sebelum Satria naik ke panggung acara, diadakan pembacaan tempat penugasan para alumni. Mereka baru dikasih tahu tempat tugasnya oleh madrasah saat itu juga. Pada saat dibacakan, kata Satria, “Tidak ada yang saya lihat muka(nya alumni) mengkerut.”
Santri Rebut Peradaban
Satria mengatakan, Islam hadir memang untuk memimpin peradaban. Hal ini yang harus ditanamkan oleh para alumni. Itulah sebabnya, kata dia, kenapa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam diutus sebagai nabi penutup.
“Bahwa memang belakangan ini umat Islam tertinggal dibandingkan umat lain. Ada sedikit yang salah pada kita, perlu diperbaiki. (Tapi) melihat adek-adek semuanya, saya sangat yakin bahwa peradaban itu akan kita rebut kembali ” ujarnya.
Asalkan, pesan dia, para alumni tersebut harus memiliki semangat. Sebab ini modal untuk mengubah dunia.
“Cuma memang kalau mau mengubah dunia harus menguasai bahasa dunia. Kan nggak mungkin mengubah dunia hanya dengan bahasa Bugis, misalnya,” ujarnya bernada guyonan.
Satria pun menganjurkan agar perjalanan tugas para alumni tersebut nantinya bisa ditulis dan dijadikan sebuah buku. Agar, katanya, bisa jadi pembelajaran bagi publik.
“Cobalah apa yang dilakukan anak-anak itu ditulis. Sehingga orang tahu, ‘Oya, setelah dikirim setahun ini hasilnya’,” ujarnya berpesan kepada segenap civitas akademika madrasah yang dikelola Hidayatullah tersebut.
“Hidayatullah memang selalu di depan dalam hal ini. Untuk itu memang harus selalu disebarkan dalam bentuk buku. Saya tahu luar biasa perjuangannya Hidayatullah,” lanjutnya pada acara yang dihadiri Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad ini.*