Hidayatullah.com–Setiap pergantian tahun, umat Islam tanpa kecuali ‘’dipaksa’’ untuk menerima suasana Natal dan Tahun Baru yang di-setting sedemikian rupa.
Di pusat perbelanjaan, di kantor-kantor swasta maupun pemerintahan, dua kata itu masif dijejalkan. Celakanya, sebagian orang Islam dengan entengnya juga ikut merayakannya. Yang menolak ikut, dicap intoleran.
Demikian disampaikan Pakar Ilmu Hadits UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr Daud Rasyid dalam pengajian lepas Dhuhur di Masjid At Taqwa Kantor PLN Pusat, Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2015).
Ia juga menyoroti peredaran terompet berbahan kertas sampul Kitab Al Qur’an beberapa waktu lalu. Peraga yang biasa digunakan untuk histeria menyambut tahun baru masehi itu, ditemukan di sejumlah outlet Alfamart di Jawa Tengah.
‘’Tapi kalau kita protes, kita malah diimbau-imbau agar tidak terprovokasi. Kita diberi pil tidur biar iman kita lemah dan ghirah juang kita padam,’’ ujar alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini mengingatkan terhadap aktivitas pelecehan terhadap Islam.
Daud Rasyid menegaskan, umat Islam harus menunjukkan ‘izzah agar tidak terus disepelekan dan dilecehkan. Ia memberi contoh, pada 24 Desember lalu dirinya diajak makan di sebuah rumah makan terkenal di Medan. Sesampainya di tempat, meja dan hidangan pembuka yang dipesan panitia, sudah siap.
Namun, Daud Rasyid menolak makan di situ dan minat pindah tempat. Pasalnya, para pegawai rumah makan tersebut mengenakan atribut Sinterklas.
Sebagaimana diketahui, Daud Rasyid menghadiri prosesi penglepasan da’i Dewan Da’wah ke berbagai pula terpencil. [Baca: Dewan Da’wah Lepas 22 Dai Pedalaman]
Kepada para da’i, Daud berpesan agar menyampaikan materi dakwah sesuai kadar ummat setempat.
“Jangan langsung membahas masalah khilafiyah ibadah. Ajarkan yang prinsip-prinsip dulu saja,’’ katanya.*