Hidayatullah.com–Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI), Dr. Zaitun Rasmin mengatakan bahwa salah satu kelemahan umat Islam saat ini yaitu tidak melakukan inkaru munkar.
“Inkaru munkar merupakan salah satu bentuk mencegah kemunkaran sebagai tanggung jawab setiap Muslim,” tegasnya dalam acara Rakornas Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di Jakarta belum lama ini.
Meski diakui ada sebagian kelompok umat Islam yang sudah melakukan, namun belum banyak mendapat dukungan dari lainnya. Bahkan cenderung dicibir.
Wakil Ketua MIUMI pusat ini mengatakan bahwa sudah waktunya umat Islam, khususnya para ulama melakukan peran tersebut sebagai bentuk memenuhi perintah Rasulullah dalam sabdanya yang berbunyi, ‘Barangsiapa melihat kemunkaran hendaknya merubah dengan tangannya, bila tidak bisa dengan mulutnya, dan jika tidak bisa dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.’
Zaitun mencontohkan sikap para ulama terdahulu ketika melihat kemunkaran yang ada di masyarakat maupun yang dibuat oleh penguasa.
“Imam Ahmad tidak tinggal diam melihat penguasa waktu itu yang memaksakan kehendaknya yang bertentangan dengan ajaran Islam kepada umat,” jelasnya.
Ia melanjutkan, ketika itu murid-murid Imam Ahmad dan umat Islam sudah bersiap-siap angkat senjata melawan kedzaliman penguasa. Namun hal itu dicegah oleh sang Imam karena yang dihadapi adalah penguasa Muslim.
Yang dilakukan oleh Imam Ahmad adalah protes keras terhadap kedzaliman penguasa secara terbuka. Meski akhirnya beliau harus dipenjara.
“Saat ini harus banyak ulama seperti Imam Ahmad yang berani melakukan inkaru munkar demi tegaknya kemaslahatan umat,” tegas Ketua Wahda Islamiyah (WI) ini.
Selain Imam Ahmad, hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Izzuddin Abdisalam yang dijuluki shulthanu auliya’ terhadap penguasa Mesir yang berbuat dzalim kepada rakyatnya.
“Itulah peran ulama yang sesungguhnya ketika melihat kemungaran,” pungkasnya.*/Bahrul Ulum