Hidayatullah.com– Kondisi Kota Palu, Sulawesi Tengah, perlahan mulai pulih tahap demi tahap pasca dilanda gempa dan tsunami pada Jumat (28/09/2018) lalu.
“Keadaan di Palu berangsur membaik,” ujar pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah di Palu, Ustadz Muhammad, yang kampusnya ditempati posko bersama para relawan dari berbagai lembaga dan institusi, kepada hidayatullah.com, Senin (15/10/2018).
Sementara itu aktivitas di sejumlah sarana transportasi publik, seperti Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie dan Pelabuhan Pantoloan memang sudah berlangsung setelah turut terdampak bencana. “Sudah berfungsi,” jelasnya.
Sedangkan sebagian relawan sudah berangsur meninggalkan Palu meskipun sebagian lainnya datang untuk melanjutkan tugas-tugas relawan.
Namun demikian, masih banyak korban bencana yang menempati lokasi pengungsian. Pekan lalu dilaporkan bahwa ada pengungsi yang baru mendapatkan bantuan medis setelah sepekan lebih terlewat pasca bencana.
PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) mulai melayani operasi komersial di Pelabuhan Pantoloan terhitung sejak Jumat, 12 Oktober 2018.
Direktur Utama PT Pelindo IV (Persero), Farid Padang mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah membuka pelayanan kapal H+2 atau Ahad, 30 September 2018, pasca terjadinya gempa dan tsunami yang ikut menerjang Pelabuhan Pantoloan pada Jumat sore, 28 September 2018.
“Meski beberapa segmen dan dermaga sepanjang kurang lebih 150 meter harus mengalami perbaikan yang cukup besar, tapi kami sudah melayani operasional kapal dua hari sejak gempa dan tsunami yang terjadi waktu itu,” kata Farid lansir KBRN, Ahad kemarin.
Dia menuturkan, dengan peralatan seadanya akibat satu unit crane di Pelabuhan Pantoloan mengalami kerusakan karena tersapu gelombang tsunami, pihaknya tetap melayani kapal yang tiba dan berangkat di Pelabuhan Pantoloan, terutama kapal-kapal yang mengangkut bantuan untuk korban gempa dan tsunami Sulteng, serta kapal yang mengangkut para pengungsi.
Sejauh ini menurut Farid, meskipun dengan kondisi kekurangan alat crane yang ada di Pelabuhan Pantoloan, pihaknya terus melakukan assessment bagian-bagian yang bisa dilayani.
“Untuk itu, kami perlu mendatangkan crane pengganti, utamanya untuk kelancaran kegiatan bongkar muat barang dari kapal yang sandar di Pantoloan. Rencananya, kami akan mendatangkan 2 unit crane pengganti (mobile crane) dari Surabaya.”
Farid mengungkapkan, dibukanya kembali kegiatan komersial di Pelabuhan Pantoloan karena melihat kondisi perekonomian di wilayah Palu dan sekitarnya yang sudah mulai pulih pasca gempa dan tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu.*
Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media