Hidayatullah.com– Mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua, menyampaikan harapannya kepada 9 hakim Mahkamah Konstitusi (MK) agar menggunakan nuraninya dalam menentukan hasil sengketa pilpres.
“Kita harapkan 9 hakim MK itu menggunakan nuraninya, menggunakan profesionalismenya, berdasarkan fakta di lapangan pada persidangan,” jelasnya kepada hidayatullah.com di depan dekat sekitar Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, pada aksi jelang pengumuman putusan sengketa Pilpres 2019 oleh MK, Kamis (27/06/2019).
Dia khawatir bila keputusan MK tidak berkeadilan akan berakibat di masa depan, khawatir rakyat sudah kehilangan kepercayaan. “Keputusan MK akan memunculkan bencana bagi negara, sehingga pada masa depan negara, masa depan bangsa, bila tidak berkeadilan saya perkirakan 2024 tidak sampai 50 persen yang ikut pemilu, karena mereka hilang kepercayaan, kepada elite politik dan itu berbahaya, bagi demokrasi kita,” tegasnya.
Ada tiga pesan yang dia sampaikan kepada perserta aksi pada hari ini.
Pertama, para peserta aksi datang harus dengan meluruskan niat. Bukan soal Prabowo, Jokowi, tapi soal menegakkan keadilan, soal menegakkan hukum, soal menegakkan kedaulatan, dimana hak-hak mereka sudah diberikan tapi dicuri, kata dia.
Baca: Abdullah Hehamahua Aksi di MK: Kami Dukung Hakim Jujur & Berani
Kedua, rakyat cuma bisa berikhtiar, biar Allah yang menentukan.
“Kita tidak pernah tahu, mungkin putusan itu sudah ada dari kemarin, tapi tidak mustahil satu menit terakhir bisa saja berubah. Untuk itu saya sarankan kepada semua peserta aksi, mari kita bermunajat mengetuk pintu langit meminta pertolongan Allah.”
Ketiga, selesai aksi, massa agar pulang dengan tertib, jangan terprovokasi kemudian bakar-bakar dan segala macam. “Kita akan pulang setelah shalat berjamaah ashar. Kalau ada kerusuhan bukan lagi kita, itu mereka (pihak lain, Red),” ujarnya.* Azim Arrasyid