Hidayatullah.com– Polusi asap yang turut terjadi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), dan sekitarnya, berdampak pula pada aktivitas masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Secara lebih khusus pondok pesantren.
Ketua DPW Hidayatullah Kalbar Nur Kalam kepada hidayatullah.com, Ahad (15/09/2019) melaporkan kondisi Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Hidayatullah Pontianak, Kelurahan Batu Layang, Kalbar, yang turut terpapar asap.
Tampak asap meliputi kompleks pesantren tersebut. Walau begitu, para ustadz dan santri tetap menjalankan kegiatan ibadah dan pendidikan khususnya di area masjid yang semi terbuka.
“Suasana pagi seperti ini masih diselimuti kabut asap. Matahari hampir tidak kelihatan (karena asap). Sekeliling pondok masih diselimuti asap,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Ahad (15/09/2019) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Baru-baru ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak meliburkan kegiatan belajar mengajar (KBM) tingkat PAUD/TK, SD, dan SMP.
Salah seorang santri pesantren itu yang sekolah di pendidikan negeri terpaksa tidak bersekolah sementara karena KBM diliburkan akibat memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“1 orang (santri sekolah) di MAN 3,” ujar Nur Kalam.
Selain itu, pesantren tersebut juga terdampak asap karena terjadi kebakaran hutan di sekitar pesantren.
Nur Kalam pun berharap situasi tersebut segera berlalu dan tidak berdampak lebih jauh lagi, terutama bagi kesehatan penghuni pondok, secara khusus para santri.
“Mohon doanya ikhwah. Semoga anak-anak santri sehat selalu. Karena saat ini pondok berasap karena hutan sekelilingnya terbakar,” ujarnya berharap doa kepada para jamaah kemarin sore.
Namun demikian, hingga semalam, secara umum kegiatan di pesantren masih berlangsung normal meskipun terpapar asap.
“(Cuma) anak-anak sekolah umum negeri sudah beberapa hari diliburkan,” ujarnya seraya mengisyaratkan kesedihannya atas kondisi yang terjadi.
Wiranto Dikecam
Sementara itu sebelumnya, Ketua Persatuan Peladang Kalimantan Barat, Yohanes Mijar Usman mengecam Menko Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Republik Indonesia, Wiranto yang menuduh peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan.
Katanya seluruh masyarakat Peladang tak terima dengan pernyataan Wiranto.
Ia menilai, pemerintah tidak melihat lebih jauh hal lain yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan petaka asap.
“Jangan kambinghitamkan peladang,” tegasnya, Sabtu (14/09/2019) kutip TribunSingkawang.
Yohanes yang juga Temenggung Melona di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi menegaskan, praktik berladang yang dilakukan masyarakat di komunitas telah dilakukan sebelum negara Indonesia.
Bahkan saat itu tidak pernah heboh bencana kebakaran hutan dan lahan karena peladang.
Menurutnya, bencana asap yang terjadi disebabkan seperti asap pabrik dan asap dari kebakaran pada konsesi perkebunan kelapa sawit yang saat ini terjadi.
“Di Kota Pontianak tidak ada orang berladang, tetapi asap ada di sana, kenapa? Jadi, kami tidak terima kalau dikatakan asap karena masyarakat Peladang. Kami minta, Pak Wiranto mempertanggungjawabkan pernyataannya,” pintanya.
Masyarakat peladang di komunitas saat ini malah sedang menugal atau menanam padi. Bahkan ada yang sudah selesai menyemai benih padi di ladang.*