Hidayatullah.com– Para pengamat teknologi informasi (TI) Amerika mengkritik sekaligus memuji pemerintah Indonesia terkait penangkalan atas menyebarnya hoax di negeri ini.
Hal itu mereka ungkapkan dalam forum media digital yang digelar di Kota Washington DC, Amerika Serikat, pekan lalu.
Pakar Amerika memuji Indonesia yang dianggap cerdas dalam menangkal berita hoax di tengah pesatnya informasi global.
Janet Stell dari University of George Washington mengkritik cara Pemerintah Indonesia dalam memberantas pemberitaan hoax dengan melakukan pembatasan sambungan internet ataupun melalui alat perangkat undang-undang.
Mereka menganggap kebijakan tersebut justru membatasi kebebasan warga negara untuk berpendapat.
Janet mengkau tidak ingin Pemerintah Amerika nantinya melibatkan diri dalam menentukan suatu hal sebagai disinformasi hanya karena tidak menyukai konten berita.
“Jangan membuat UU untuk meredam hoax, tetapi tekan Facebook, dan perusahaan serupa untuk meregulasi platform mereka sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, pada forum itu, para pengamat TI Amerika merasa optimistis setelah melihat mekanisme Indonesia untuk memerangi berita bohong.
Menurut Janet, orang yang ingin mengecek berita itu fakta atau hoax adalah orang yang skeptis dan melek media.
Menurutnya, kebanyakan orang hari ini akan membagikan berita tanpa mengecek dulu kebenarannya.
“Organisasi berita yang saya lihat di sini adalah cek fakta yang dibentuk oleh beberapa organisasi berita di Indonesia. Mereka melakukan pekerjaan luar biasa dalam mengecek fakta dan membongkar berita-berita palsu,” ujarnya di Washington DC kutip INI-Net, Senin (21/10/2019).
Pengamat lainnya, Adam Paul D Third dari University of Southern California, menilai adanya lembaga pemerintah yang melakukan upaya untuk meredam polarisasi tentang hoax.
“Contohnya, KPU meluncurkan pusat myth buster yakni Bawaslu, yang mendapat mandat untuk menanggapi dan mengantisipasi pelanggaran pemilu,” ujarnya dalam satu diskusi panel yang berbeda di Amerika.
Menurut Adam, Bawaslu membuat deklarasi untuk menangkis dan melawan pembelian suara, penghinaan, penghasutan, dan konflik yang memecah-belah Indonesia.
Adam menyebut bahwa hal itu belum dilakukan di Amerika. Namun, saat ini Adam mengaku sedang mengupayakan untuk bekerja sama dengan pemerintah lokal dan negara bagian dalam menangani isu serupa dengan yang terjadi di Amerika.
Adam pun memandang ada negara lain yang menghadapi isu hoax dengan cara lebih buruk.
Namun, kata Adam, meski efek negatif dari perkembangan ekonomi digital yang pesat meresahkan banyak kalangan, dia optimistis bahwa itu akan teratasi dengan semangat warga Indonesia untuk menyuarakan pendapat mereka.*