Hidayatullah.com- Jelang pemilihan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia pada Kamis (26/11/2020) malam, mencuat sejumlah nama ke publik yang disebut-sebut sebagai calon kuat Ketua Umum MUI periode 2020-2025.
Mencuatnya sejumlah nama tersebut diakui oleh MUI, sebagaimana keterangan resminya pada Kamis ini, di antara yang mencuat adalah Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Miftachul Akhyar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Nasaruddin Umar, Sekjen MUI demisioner Buya Anwar Abbas, dan Wakil Ketua Umum demisioner KH Muhyiddin Djunaidi.
Meski demikian, Ketua Panitia Pengarah Munas X MUI KH Abdullah Jaidi menegaskan, sistem pemilihan kepengurusan di MUI mengedepankan asas musyawarah mufakat dan jauh dari hiruk pikuk politik. Hal ini tak lain karena bagaimanapun MUI adalah wadah ulama yang menjadi teladan umat secara luas.
“Kita tegaskan bahwa pemilihan ketua umum tidak ada bias politik, karena kita bukan partai politik,” ujarnya sebelum memimpin Pleno Pembacaan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Periode 2015-2020 di Munas X MUI, Jakarta, Kamis (26/11/2020).
Baca: Ketua Umum Baru MUI Dipilih Malam Ini, Mencuat Sejumlah Nama “Calon”
Diketahui, salah satu agenda utama Munas X MUI yakni menentukan kepengurusan baru periode 2020-2025 menggantikan kepengurusan yang sebelumnya.
Kiai Jaidi menyampaikan bahwa pemilihan jajaran kepengurusan baru dilakukan hari ini dan hasilnya pun dapat diketahui Kamis malam ini.
“Tim formatur akan dipilih nanti malam, lalu malam ini juga mereka akan sidang, memilih dewan pimpinan harian dan dewan pertimbangan MUI yang kemudian diplenokan hasilnya itu malam ini juga,” kata dia.
Kiai Jaidi mengatakan, tim formatur yang dipilih tersebut akan berisikan 17 orang yang mana di antaranya adalah demisioner Ketua Umum MUI, Prof Dr KH Ma’ruf Amin, Sekretaris Jenderal MUI Pusat Buya Anwar Abbas, dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat Prof Din Syamsuddin.
Selain itu, kata Kiai Jaidi, terdapat utusan dari MUI provinsi, ormas-ormas di bawah naungan MUI, utusan perguruan tinggi, dan juga pesantren yang juga akan masuk ke dalam bagan tim formatur.
“Ada juga tujuh orang itu dari MUI provinsi dari tujuh zona, dan dari 14 peserta ormas yang hadir offline (luring) akan dipilih lima orang, lalu satu utusan dari perguruan tinggi dan satu utusan dari pesantren,” kata dia.
Dia juga menegaskan bahwa tugas tim formatur tidak hanya untuk pemilihan ketua umum dan mandataris saja, melainkan juga memilih 22 nama untuk menduduki Dewan Pimpinan MUI dan juga tujuh nama untuk menduduki Dewan Pertimbangan (Wantim MUI).
“Ini berbeda dengan ormas-ormas yang lain yang hanya memilih ketua umum, mandataris, kemudian ketua umum memilih jajarannya. Kalau MUI ini memilih segenap kepengurusan, baik dewan pimpinan MUI maupun wantim MUI,” ujarnya.
Munas X MUI mengangkat tema “Meluruskan Arah Bangsa dengan Wasathiyatul Islam, Pancasila, dan UUD NRI 1945, secara Murni, dan Konsekuen.” Munas X MUI akan membahas sejumlah agenda penting antara lain fatwa, rekomendasi, dan pergantian kepengurusan dan puncak pimpinan MUI untuk periode 2020-2025.
Munas X MUI berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, 25-27 November 2020. Munas digelar secara luring dan daring. Peserta luring adalah pengurus MUI Pusat dan perwakilan daerah, sementara peserta daring adalah para pengurus daerah.*