Hidayatullah.com– Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur Mas Purnomo Hadi mengatakan, pihaknya telah menganggarkan Rp 60 milliar untuk memfasilitasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan sertifikasi halal.
Dominasi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian di Jawa Timur, membuat pemprov tengah mempersiapkan pasar produk halal. Nantinya semua produk UMKM bersertifikasi halal, khususnya produk makanan dan minuman.
Menurut Purnomo, berdasarkan data Forum Industri Kecil Menengah (FIKM) Jawa Timur menyebutkan bahwa UMKM yang memiliki sertifikasi halal baru 40 persen.
Baca: Pro UMKM, LPPOM MUI Beri Sertifikat Halal Gratis Penjual Gorengan
“Dengan biaya sekitar Rp 3 hingga 5 juta sekali urus dan masa berlaku hanya dua tahun, membuat UMKM menganggap sertifikasi halal sebagai momok. Mereka menilai tarif sebesar itu terlalu mahal,” jelasnya lansir jaringan Indonesiainside di Surabaya, kemarin (17/02/2019).
Purnomo mengungkapkan, produk UMKM di Jawa Timur yang paling mendominasi adalah sektor makanan dan minuman.
Dari 12,1 juta usaha kecil menengah di Jatim, 60 persennya adalah makanan dan minuman. Kemudian diikuti fashion sebesar 30 persen. Sisanya perhiasan, manik-manik, dan kerajinan tangan.
“Meskipun mendominasi, namun banyak pengusaha UKM sektor makanan dan minuman yang masih kesulitan mendapatkan sertifikasi halal,” katanya.
Baca: Indonesia Perlu Sergap Potensi jadi Pusat Industri Halal Dunia
Lebih lanjut, Purnomo mengatakan, anggaran Rp 60 milliar setiap tahun ini tidak hanya digunakan pengurusan sertifikasi. Akan tetapi juga untuk pelatihan, pendampingan vokasional, dan promosi bagi UMKM yang baru berkembang.
“Kami fasilitasi dan dampingi agar mereka benar-benar bisa mendapatkan sertifikasi yang dapat memenuhi standar, seperti BPOM dan halal. Akan tetapi terbatas,” ujarnya.
Ia menegaskan, saat ini pasar ekspor makanan halal yang sedang dibidik adalah Timur Tengah. Pasalnya, belum terlalu banyak produk UMKM ke negara Arab.
“Bahkan persentasenya juga tak begitu besar. Pasalnya, sebagian besar masih dibawa oleh tamu. Saat ini yang sudah kita bidik adalah Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kami juga melakukan kerja sama business to business, membawa UMKM ke pameran di luar negeri, hingga mendatangkan pembeli terus dilakukan,” pungkasnya.*