Hidayatullah.com– Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Abdullah Syukri Zarkasyi, berpulang ke Rahmatullah di kediamannya di Gontor, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Rabu (21/10/2020). Almarhum wafat pada usia 78 tahun.
Dihimpun hidayatullah.com, KH Abdullah Syukri Zarkasyi memimpin Pondok Modern Gontor sejak tahun 1985. Almarhum merupakan putra pertama dari KH Imam Zarkasyi, salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. KH Abdullah Syukri Zarkasyi memiliki 10 saudara putra dan putri.
Sebelum memimpin Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi pernah menjadi Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, Jakarta tahun 1964; Pengurus HPPI (Pelajar Islam) Kairo (1971), dan Pengurus PPI Den Hag, Belanda (1975).
Semasa hidup, pengalaman berorganisasinya cukup luas. KH Abdullah Syukri Zarkasyi antara lain menjadi Ketua Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Ponorogo, Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Jawa Timur sejak 1999, Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Ponorogo sejak 1999, Ketua MP3A Depag (Majlis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama sejak 1999. “(Dan) Dewan Penasehat MUI Pusat,” dikutip dari website resmi Gontor pada Rabu (21/10/2020).
Abdullah Syukri Zarkasyi menamatkan Sekolah Dasar di desa Gontor, tahun 1954. Lalu lanjut ke pendidikan berikutnya di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor. Lulus tahun 1960, ia kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sini meraih gelar Sarjana Muda tahun 1965.
Abdullah Syukri Zarkasyi memperoleh gelar Lc dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, tahun 1976. Di lembaga pendidikan yang sama, ia meraih gelar MA pada tahun 1978. Kemudian, gelar Doctor Honoris Causa diraih dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2005).
Almarhum setidaknya telah menorehkan 13 belas karya tulis -meskipun tak tercantum secara detail- yaitu: Pokok-Pokok Pikiran untuk Perubahan Pendidikan Nasional; Refleksi dan Rekonstruksi Pendidikan Islam: Model Pendidikan Pesantren Ala Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo; Menggali Sumber Keuangan Madrasah : Strategi dan Teknik; Pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo; Pengelolaan Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo; Pola Pendidikan Pesantren Sebuah Alternatif; lalu Strategi dan Pola Manajemen Pendidikan Pesantren.
Kemudian, Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia; Etika Bisnis dalam Islam dan Relevansinya Bagi Aktivitas Bisnis di Dunia Pendidikan Pesantren: Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor; Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Gontor; Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia: Pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor; Pendidikan Pesantren di Era Modern; dan Peran Agama dan Budaya Islam dalam Mendorong Perkembangan Iptek: Iptek di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Diketahui, sejak tahun 1985, ayah lima orang anak ini, diamanatkan untuk memimpin dan melanjutkan estafet perjuangan para Trimurti dalam mengembangkan PMDG. Selain berjuang di dalam pondok, ia juga turut mengelola ratusan langgar dan masjid di luar pondok, serta membina hampir 325 TPA (Taman Pengajar Pendidikan Al-Qur’an).
Semangatnya dalam memajukan Gontor banyak terinspirasi dari sang ayah serta berbagai pengalamannya selama belajar di beberapa tempat.
Menurutnya, saat dirinya berada di Leiden, Belanda, ia melihat ada sebuah gereja kecil di sana. Ternyata, Universitas Leiden yang terkenal itu bermula dari sebuah gereja yang kecil.
Ketika itu pula dirinya langsung teringat dengan Pondok Gontor yang juga memiliki masjid kecil di dalamnya. Ia yakin bahwa kelak Gontor pun akan besar, bahkan hasilnya akan jauh lebih dahsyat dari yang ada di Leiden. Dimana Gontor akan mengeluarkan para tokoh ulama yang intelek untuk memajukan Islam dan Indonesia ke depan.
Sebab itu, kehadiran lembaga pendidikan baginya sangatlah penting. Indonesia pun tanpa lembaga-lembaga pendidikan tidak ada artinya apa-apa. Maka lembaga pendidikan harus dihidupkan.
Baca: Innalillah… Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi Wafat
Dedikasi pada Kemajuan dan Modernisasi Islam
Ulama kondang Ustadz Abdul Somad punya kenangan tersendiri terkait almarhum. UAS menuturkan kisahnya saat masih sekolah, tahun 1993 silam, bertemu dengan sosok Abdullah Syukri Zarkasyi yang berwibawa.
“Anak-anak kelas VI berjas lengkap dengan dasi berbaris dari pintu gerbang pondok hingga ke aula. Kami anak-anak kelas satu tegak menanti kedatangan pak Kyai dari Gontor alumni Mesir.
Kami menatapnya dari jauh. Beliau mendekati aula, ya Allah, ganteng, gagah, berwibawa. Beliau memberikan semangat pada kami. Saya ingin seperti dia. Ingin ke Cairo. Ingin bisa bicara lancar di depan orang banyak. Ingin bisa bahasa Arab. Dia membakar semangat kami. Dia KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. Peristiwa itu tahun 1993.
Tahun lalu saya datang ke rumah beliau.
Saya hanya berdoa dan memegang tangan beliau. Jari-jemarinya kuat menggenggam tangan saya. Kata keluarga beliau, “Begitu Kyai merespon”.
Petang ini, dapat kabar, beliau menghadap Allah, kembali ke rahmat-Nya.
Santri-santri beliau menyebar ke seluruh penjuru negeri. Amal jariyah beliau mengalir hingga akhir masa.
الفاتحة,” tutur UAS lewat akun Instagram resminya, Rabu (21/10/2020).
Cendekiawan Muslim, Anis Matta, menilai almarhum sebagai sosok yang telah mengabdikan hidupnya untuk memodernkan sistem pendidikan dan manajemen pesantren.
“Dari buku-bukunya beliau, yang membahas mulai dari model pendidikan Islam di pesantren, strategi dan manajemen pendidikan, etika bisnis, hingga ekonomi Islam, menunjukkan dedikasinya pada kemajuan dan modernisasi Islam,” tulis Ketua Umum Partai Gelora ini lewat akun twitternya @anismatta kemarin pantauan hidayatullah.com.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid yang juga alumnus Gontor menyatakan sangat berduka atas kepergian KH Abdullah Syukri Zarkasyi.
“Kami sangat berduka dg wafatnya Guru/Kiai&Pimpinan kami di Pondok Gontor;KH DR Abdullah Syukri Zarkasyi,MA. Mohon doa terbaik&terikhlas. Smoga Allah karuniakan husnul khatimah, menerima semua amal&perjuangan Beliau sbg ibadah, dan Allah memasukkannya ke alJannah. Lahu alFatihah,” tulis politisi PKS ini lewat @hnurwahid.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai KH Abdullah Syukri Zarkasyi sebagai seorang ulama yang sholeh. Khofifah menilai, jasa almarhum sangat besar untuk Indonesia, terutama dalam dunia pendidikan.
“Atas nama Pemprov Jatim dan pribadi, kami menyampaikan duka cita mendalam. Ini adalah kali kesekian Indonesia kehilangan ulama-ulama sholeh di tahun ini. InsyaAllah, husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik disisi Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiin. Al-Fatihah,” tulis Khofifah akun Instagram pribadinya, @khofifah.ip.
“Kiprah Gontor Harus Panjang”
Kiai Syukri pernah menyampaikan pesan kepada umat Islam khususnya kalangan Gontor untuk bangkit, maju, dan bertahan bahkan hingga ratusan lamanya.
“Perjalanan sejarah begitu panjang, maka perjalanan Gontorpun harus panjang, tidak saja puluhan tahun, bahkan ratusan sampai berabad-abad hingga hari kiamat. itulah cita-cita kita, dan itu pulalah do’a-do’a yang terus kita panjatkan kehadirat Allah. Hari ini kita berdiri tegak di sini, di Gontor, berjuang, berbuat dan bekerja tidak hanya untuk hari ini, atau esok, tapi untuk kejayaan Islam di masa-masa yang akan datang. Dari Gontor, kita mengukir sejarah kebaikan, kemuliaan, keteladanan, dan sejarah peradaban Islam untuk generasi yang akan datang.
Belajar dari sejarah dan menyaksikan langsung baik yang masih eksis, bertahan bahkan berkembang seperti Al-Azhar di Mesir, atau napak tilas Syanggit di Mauritania Afrika Utara yang tersisa bekas-bekas bangunannya, Santiniketan yang sudah tidak nampak bekas-bekasnya, hanya merupakan perkampungan miskin di India, dan Aligarh di India yang masih tersisa dalam bentuk lembaga pendidikannya, memberikan inspirasi sekaligus motivasi, bahwa untuk bisa bertahan berabad-abad, seperti Syanggit dengan jiwa, ajaran dan perjuangan para pimpinannya, Al-Azhar di Mesir dengan kekuatan ilmu, dakwah dan wafatnya, maka Gontor dengan lembaga pendidikan dan dakwahnya, tidak berpolitik praktis, karena politik tertinggi adalah pendidikan.
Untuk itu, mengapa kita ragu, mengapa kita khawatir, kita takut untuk menatap masa depan cerah kebangkitan Gontor, Kebangkitan umat Islam, kebangkitan peradaban Islam di negeri ini, bahkan di dunia ini. Untuk itu, perlu bekerja keras, memaksimalkan potensi diri, mengeluarkan potensi puncak untuk mengembangkan dan memajukan Gontor ini. Allah telah menjalankan hidup kita untuk mengabdikan dan berkhidmat di jalanNya, Allah telah memilih kita untuk ikut mendidik, membina, mempersiapkan santri-santri sebagai hamba-hamba Allah yang taat, hamba-hamba Allah yang akan berjuang dan memperjuangkan kemuliaan agamaNya,” pesan Kiai Syukri pada Buku Bekal Pemimpin, halaman 166, sebagaimana dikutip website resmi PMDG.
April 2012 silam, sebagaimana diberitakan hidayatullah.com, Kiai Syukri saat berusia 70 tahun, dikabarkan terserang stroke. Saat itu ia dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya untuk mendapatkan perawatan terbaik. Adik kandung Kiai Syukri, Dr Hamid Fahmi Zarkasy mengatakan, sebelumnya kakaknya mengalami stroke semenjak hari Ahad (08/04/2012) dan sempat dirawat di rumah sakit Soedono, Madiun, Jawa Timur.
Sesuai agenda PMDG, Kiai Syukri dimakamkan pada Kamis (22/10/2020) pagi di Pemakaman Keluarga PMDG di Gontor, Kabupaten Ponorogo. “Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan diampuni segala kesalahannya. Serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Rabu (21/10/2020) kutip website resmi Muhammadiyah.*