Hidayatullah.com–Gerakan perlawanan Palestina Hamas mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya tidak akan menghadiri sebuah pertemuan dewan pusat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pekan depan di Ramallah. Demikian laporan Anadolu Agency, Sabtu (13/01/2018).
“Ismail Haniyah, kepala biro politik Hamas, dalam sebuah surat resmi mengatakan kepada Salim Zanoun, ketua Dewan Nasional Palestina PLO, bahwa pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan itu pada hari Ahad dan Senin depan,” kata stasiun radio resmi Palestina.
Seorang pejabat senior Hamas yang lebih memilih untuk tidak ingin diketahui namanya mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Hamas mengambil keputusan tersebut setelah beberapa hari musyawarah antara pemimpin gerakan tersebut di dalam dan di luar Palestina.
“Pertemuan itu akan diadakan di Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, yang berarti pejabat senior Hamas tidak dapat hadir,” katanya.
Dia menambahkan bahwa “pertemuan itu diadakan tanpa agenda khusus, yang memperkuat keyakinan pemimpin gerakan ini bahwa tidak ada keputusan konkret yang akan diambil.”
Gerakan Jihad Islam pada hari Selasa mengumumkan bahwa mereka juga tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan tersebut karena akan diadakan di sebuah kota yang diduduki Penjajah Israel.
Desember lalu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan tentang pertemuan Dewan Pusat Palestina untuk membahas langkah-langkah yang akan diambil terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem (Baitul Maqdis) sebagai Ibu Kota Israel.
Tanggal 12 Oktober 2017, Hamas dan Fatah memulai menandatangani perjanjian yang dimediasi oleh Mesir yang ujungnya memutuskan rujuk dan menyerahkan kepempinan di Jalur Gaza kepada pemerintah persatuan nasional di bawah kendali PM Rami Hamdallah.
Dalam keputusan ini, Hamas setuju Jalur Gaza dibawah kontrol otoritas Palestina yang didominasi Fatah akan mengambil alih tanggung jawab administrasi sepenuhnya Jalur Gaza terhitung mulai 1 Desember 2017.
Selain itu, rujuk juga menyepakati pembukaan pintu perlintasan Rafah dari Gaza ke Mesir namun sampai hari ini, tak ada perubahan berarti.*/Abd Mustofa