Hidayatullah.com – Penjajah ‘Israel’ telah membunuh anggota keluarga-keluarga terpandang Palestina di Jalur Gaza yang menolak bekerja sama dengan mereka. Zionis berupaya merekrut kaki tangan dalam rencananya membentuk badan pemerintahan berbasis klan atau suku, menggantikan Hamas.
Menurut situs berita Asharq al-Awsat pada Ahad (28/09/2025), badan keamanan ‘Israel’ Shin Bet telah menghubungi perwakilan keluarga Bakr dan Dughmush, yang masih tinggal di rumah mereka di Kota Gaza. Shin Bet ingin memecah Gaza menjadi beberapa wilayah yang dikuasai oleh klan dan kelompok bersenjata lokal.
Mereka akan ditugaskan untuk menghadapi Hamas dan memberikan intelijen kepada pasukan ‘Israel,’ menurut laporan tersebut.
“Setelah keluarga-keluarga ini menolak bekerja sama dengan Shin Bet, pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap rumah-rumah berpenghuni dan kosong milik anggota keluarga dan klan ini,” kata sumber tersebut kepada Asharq al-Awsat.
Selama akhir pekan, penjajah ‘Israel’ membom rumah keluarga Bakr di selatan kamp pengungsi Shati di sebelah barat Kota Gaza. Enam anggota keluarga syahid dan 11 lainnya luka-luka.
Sebuah gedung bertingkat milik keluarga tersebut juga dibom, mengakibatkan beberapa anak terluka.
Di lingkungan Sabra, Kota Gaza, ‘Israel’ mengebom sebuah rumah dan menewaskan setidaknya 30 anggota keluarga Dughmush.
“Intelijen Israel menghubungi mukhtar dan tetua keluarga tersebut dan meminta mereka untuk membentuk kelompok bersenjata untuk memerintah wilayah kamp pengungsi Shati setelah membersihkannya dari anggota Hamas. Keluarga tersebut dengan tegas menolak untuk menjadi bagian dari opsi ini,” kata seorang sumber di keluarga Bakr.
Keluarga Bakr adalah salah satu keluarga terbesar dan paling terpandang di Jalur Gaza. Keluarga ini berperan penting dalam industri perikanan di wilayah tersebut.
“Keputusan keluarga tersebut berawal dari sikap nasional yang menolak segala bentuk kerja sama dengan pendudukan, dan tidak dimaksudkan untuk mendukung Hamas atau kelompok organisasi lainnya,” tambah anggota keluarga tersebut.
Euro-Med Human Rights Monitor juga mengonfirmasi bahwa ‘Israel’ berusaha memaksa keluarga-keluarga untuk bekerja sama dengan mereka di bawah risiko kelaparan, pengungsian paksa, atau pemboman.
“Apa yang berawal dari pemerasan individu telah meningkat menjadi praktik kolektif sistematis yang bertujuan menghancurkan tatanan sosial Palestina dengan memaksa orang-orang mengkhianati komunitas mereka dan mensubordinasikan para penyintas pada kondisi bertahan hidup yang menghancurkan identitas dan ketahanan komunal,” katanya.
Beberapa kelompok bersenjata dan milisi yang didukung Israel beroperasi di Jalur Gaza di bawah perlindungan Tel Aviv. Kelompok-kelompok ini, yang bertugas melawan Hamas, bertanggung jawab atas sebagian besar penjarahan bantuan yang terjadi di Gaza.
Salah satu kelompok ini adalah geng yang berbasis di Rafah yang dipimpin oleh Yasser Abu Shabab, seorang pemimpin milisi yang terkait dengan Fatah dan diduga berafiliasi dengan ISIS.
Geng ini bertanggung jawab untuk mengintai dan mengamankan wilayah menjelang operasi militer ‘Israel’. Selain itu, Abu Shabab telah dituduh melakukan perdagangan narkoba.*
Baca juga: Bersekongkol dengan Penjajah ‘Israel’, 3 Anggota Geng Abu Shabab Dieksekusi




