Lanjutan wawancara PERTAMA
Perpecahan Sudah Tingkat Fisik
Anda menyebut perpecahan akibat fanatisme golongan, beri contoh kami kasus-kasus perpecahan dalam sejarah Islam, di mana kasus itu justru berpotensi melemahkan umat atau menjadi peluang musuh mengalahkan kita?
Salah satu contoh yang bisa kita ambil adalah pada masa menjelang Perang Salib. Ketika itu terjadi perpecahan di antara kelompok-kelompok Muslim, bahkan di antara empat madzhab.
Pada taraf apa perpecahannya?
Perpecahan itu sampai ke tingkat kecenderungan saling mengkafirkan di antara sebagian ulama madzhab yang berbeda. Hal ini beberapa kali menyebabkan terjadinya konflik fisik di antara dua kumpulan pelajar atau dua kampung yang berbeda madzhab.
Keadaan ini jelas melemahkan umat. Pada gilirannya para pemimpinnya juga berpecah-belah. Yang ini bukan karena beda madzhab, tetapi karena beda kepentingan politik dan kekuasaan. Ketika para ulamanya sibuk dengan perbedaan madzhab, umat dan pemimpinnya kehilangan arah dan pegangan. Sehingga ketika tentara Salib masuk pada akhir Abad ke-11, kaum Muslimin tidak mampu menahannya, bukan karena mereka kalah kuat dibanding musuh, tetapi karena mereka sendiri bermusuh-musuhan satu sama lain.
Sejauh apa konfliknya kala itu?
Kadang terjadi juga konflik fisik. Tapi yang lebih sering terjadi adalah saling mencela dan saling mengecam di antara kelompok-kelompok Muslim pada masa itu.
Apakah sama dengan saat ini?
Pada masa sekarang ini tentunya tidak persis sama. Tapi sekarang ini perbedaan dan friksi juga dilatari oleh fanatisme masing-masing kelompok. Ada juga terjadi saling serang secara verbal, atau saling tuduh melalui media social (Medsos). Sekarang ini, konfliknya berpotensi untuk tersebar lebih cepat karena adanya teknologi dan telekomunikasi yang pada jaman dahulu tidak ada.
Selain itu ada hal lain yang perlu kita cermati. Pada jaman dahulu, era Perang Salib misalnya, musuh lebih sedikit jumlahnya dan tidak lebih kuat dari kaum Muslimin. Tapi mereka mampu mengalahkan umat Islam (pada Perang Salib I) disebabkan umat berpecah belah.
Sekarang, zionis dan para pendukungnya lebih kuat dari segi teknologi, media, finansial, militer, dan berbagai hal lainnya. Dengan bersatu saja kita sebenarnya masih kalah unggul dalam banyak hal dibandingkan mereka, bagaimana lagi dengan berpecah belah?
Bagaimana agar masalah perbedaan (khususnya masalah furu’) tidak terus melebar?
Konflik dan perpecahan internal Ahlu Sunnah itu merupakan masalah di dalam dirinya sendiri. Kita tidak perlu menyalahkan pihak lain. Memang benar bahwa adanya perpecahan atau potensi perpecahan itu akan dimanfaatkan oleh pihak lain yang berkepentingan untuk melemahkan umat. Tetapi kita tidak mungkin menyelesaikan masalah kita dengan melemparkan kesalahan pada pihak lain.
Kalau pihak lain dengan kepentingannya berusaha memecah-belah kita maka itu memang kerja mereka (ini bukan berarti mereka benar), tetapi masalahnya mengapa kita mau dipecah-belah? Mengapa kita memberi ijin kepada mereka untuk memecah-belah kita?
Selain itu, jika kita sibuk melemparkan kesalahan pada pihak lain, kita seolah menganggap tidak ada masalah pada diri kita dan karenanya tidak merasa perlu untuk melakukan perbaikan.
Persatuan itu harus diikat oleh sesuatu yang mendasar dan lebih permanen, sehingga bisa diharapkan untuk menyelesaikan semua, atau setidaknya sebagian besar, permasalahan umat.
Tentang perbedaan di antara kelompok-kelompok yang ada, maka kita perlu memahami bahwa perbedaan itu akan selalu ada. Bahkan di dalam satu kelompok pun biasanya ada perbedaan juga. Ini sifat manusia. Karena itu diperlukan komunikasi, upaya untuk saling memahami, serta sifat berlapang dada dalam menyikapi perbedaan furu’ yang ada.[]