Sambungan wawancara PERTAMA
Pada akhir naskah pertama, Fahmi Hamid Zarkasyi menjelaskan perbedaan antara peradaban Barat dan Peradan Islam. Lantas, manakah yang lebih baik?
Mana yang lebih baik antara peradaban Barat dan peradaban Islam?
Pandangan kita sebagai Muslim adalah Islam punya konsep tersendiri, sedangkan Barat juga punya konsep sendiri. Keduanya tidak bisa dicampuradukan. Jadi, kita tidak bisa mengukur Barat dengan Islam, pun sebaliknya. Orang Barat tidak bisa mengukur Islam dengan Barat. Menggunakan terminologi Barat untuk memahami Islam juga tidak bisa. Ini yang harus kita jaga.
Yang bisa kita lakukan adalah berkompetisi, begitu?
Iya. Dalam bahasa Al-Attas (Prof Dr Syed Mohammad Naquib al-Attas, gurunya Hamid di ISTAC, terjadi konfrontasi abadi. Keduanya tidak akan pernah cocok karena worldview-nya memang beda. Pokoknya hampir semuanya beda.
Maka yang diperlukan adalah dialog peradaban, bukan dialog agama. Sayangnya, Barat menganggap Islam itu sekadar agama. Barat tidak mau melihat Islam sebagai peradaban, sebab mereka memang ingin menguasai. Seakan Barat berkata begini, “Islam agama sajalah, peradaban kita yang ngatur. Kamu di masjid saja; politik, ekonomi kita yang ngatur.” Karena itu, mereka tidak pernah bicara Islam sebagai peradaban.
Bagaimana agar kita bisa memenangkan konfrontasi itu?
Menurut saya, kita harus kembali kepada tradisi ilmu. Kita kalah pada bidang ini. Karena itu, kita harus memperkuat ilmu. Dan ilmu adanya di lembaga pendidikan. Lembaga pendidikanlah yang mencetak individu-individu, sedangkan masyarakat terbentuk dari individu-individu yang banyak. Permasalahannya, bagaimana kita mau membentuk masyarakat yang baik kalau lembaga pendidikannya tidak efektif.
Jika masyarakatnya berkualitas, ia tidak akan bisa dikuasai. Sebab, ia punya ilmu dan sistem yang menjadi filter untuk menyeleksi. Sekarang ini, hampir semua sistem pendidikan di negara-negara Islam dikuasai oleh Barat. Al-Attas menyadari itu, makanya ia menyeru umat Islam agar punya universitas sendiri guna mengembangkan ilmu-ilmu Islam. Dengan ilmu itu selanjutnya melakukan islamisasi ilmu-ilmu dari Barat. Dengan itu Barat tak lagi bisa menghegemoni, karena kita mampu menyeleksi.
Dimulai dari tingkat pendidikan mana?
Untuk tingkat menengah lebih kepada penanaman ilmu-ilmu dasar keislaman. Misalnya fikih, hadits, dan tafsir yang mengarah kepada amaliah. Secara bersamaan pada tingkat ini dengan intensif ditanamkan nilai-nilai akhlak, baik di kelas maupun di luar kelas.
Pada tingkat menengah tidak masalah anak-anak sedikit dipaksa, demi kebaikan. Wong dipaksa saja masih banyak yang melanggar, apalagi tidak dipaksa. Seperti di Gontor, kami punya keyakinan bahwa anak-anak harus dipaksa, tidak peduli kata orang. Shalat misalnya, pengalaman kami, anak-anak kalau tidak dipaksa ya tidak shalat. Jadi, tidak cukup hanya dengan tausyiah. Kalau anak-anak disuruh milih antara boleh ke masjid dan boleh juga tidak, pasti semuanya tidak akan ke masjid.
Beda lagi pada tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat ini tekanannya pada rasionalitas sehingga anak-anak punya kesadaran, tidak lagi dengan paksaan.
Penting juga, pada tingkat menengah, jangan mengajarkan sejarah yang berisi konflik, misalnya sejarah pembunuhan para khalifah. Nanti kesannya di mata anak-anak, Islam itu penuh dengan ‘darah’. Sebab, anak-anak belum bisa menyeleksi dan berpikir komparasi. Ajarkan saja yang baik-baik.* (Bersambung)