Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Dr Sarmini Penemu Metode Balita Khatam Baca Al Qur`an (2-habis)

Bambang S
Terakhir diupdate: 26 Januari 2021 12:40 12:40 pm
Bambang S
Dipublikasikan 26 Januari 2021 13:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | Sarmini lahir di Jember, 28 Agustus 1975, dari keluarga petani yang tidak memiliki sawah. Ayahnya bernama Suyatni. Sedang ibunya bernama Faizah. Meski tinggal di pedesaan bagian timur Pulau Jawa, tetapi ia memiliki semangat menuntut ilmu yang begitu membara.

Bahkan, sejak duduk di bangku Aliyah (MA), Sarmini bermimpi bisa belajar bahasa Arab langsung dari native speaker (penutur asli) di Timur Tengah. Alumni fakultas Dirosat Islamiyah STAI al-Hikmah Jakarta inipun berikhtiar mencari peluang untuk mewujudkan impiannya itu pada masa akhir kuliah.

“Akhir S1 ada kesempatan tes untuk belajar di Sudan. Saya ikut dan diterima, tapi karena tak diizinkan (oleh orangtua), saya tidak bisa berangkat,” jelas anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Kesempatan kedua pun hadir setelah Sarmini menikah dengan seorang lelaki yang kala itu tengah menempuh pendidikan magister di Sudan. Kedua orangtuanya pun mengizinkan, sehingga alumni MA Pesantren al-Islam Ponorogo ini bisa berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan S2 di Universitas International Khartoum, Sudan.

Menariknya, meskipun hidup dalam keterbatasan sewaktu kuliah di sana, bahkan menempati rumah yang dindingnya terbuat dari kotoran keledai dan atapnya dari pelepah kurma, Sarmini meraih pernghargaan sebagai mahasiswa terbaik se-Asia Tenggara di Sudan pada waktu itu.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Apa motivasi Anda memilih belajar hingga ke Timur Tengah?

Mungkin bahasa yang paling cocok, sebetulnya saya tersesat di jalan yang benar. Karena intinya sejak MA saya ingin belajar bahasa Arab langsung dari native-nya. Sejak S1 saya berusaha untuk mendapatkan peluang itu tapi tampaknya jalannya tak mudah. Di akhir S1 ada kesempatan tes untuk belajar di Sudan. Saya ikut dan diterima, tetapi karena tidak diizinkan saya tidak bisa berangkat.

Qadarullah kemudian saya menikah. Sebab saat itu suami sedang belajar di sana, sehingga saya diizinkan ke Sudan. Lalu, karena pengajuan S1 yang diterima tidak terpakai, akhirnya saya mengajukan baru untuk S2. Meski sudah penutupan saat saya datang mendaftar, tetapi karena Allah Ta’ala mudahkan, banyak pihak yang membantu, tetap bisa mengikuti tes dan diterima.

Alhamdulillah saya juga mendapat beasiswa. Sebagai tanggung jawab mau nggak mau, saya harus belajar sungguh-sungguh. Waktu itu, saya menjadi satu-satunya wanita yang diterima di fakultas pengajaran bahasa Arab Sudan dari bangsa non-Arab pada tahun 2001. Sebelum itu belum pernah ada.

Kebayang saya nervous, mendapatkan beban beasiswa, belajar bahasa Arabnya dari Indonesia. Mampu nggak menjadi duta Indonesia sebaik-baiknya. Akhirnya Allah SWT mudahkan. Intinya saya belajar setiap hari, pergi ke perpustakan dan Allah takdirkan saya menjadi mahasiswa terbaik se-Asia tenggara. Kemudian S3, yang biasanya ACC lama, juga nggak begitu lama. Saya pun tetap mendapatkan beasiswa. Karena tak boleh jauh-jauh dari bidang studi S2, saya ambil kurikulum dan metode pembelajaran untuk S3-nya.

Bahasa Arab juga?

Ya pokoknya saya jalani sebab sudah mendapat beasiswa, tanggung jawab moral. Jangan sampai di belakang, mahasiswa Indonesia menjadi sulit, karena saya tidak tanggung jawab dan seterusnya. Jadi, waktu itu, saya S3 dengan 3 anak dan Allah SWT pilihkan universitas yang susah, pembimbing yang amat telaten, dan penguji yang sangat teliti. Makanya, saya bilang itu tersesat di jalan yang benar. Kalaupun ada pilihan lain yang lebih baik, waktu itu mungkin saya tidak memilih ke Sudan.

Apa hikmahnya?

Itulah cara Allah SWT mentarbiyah saya. Baru saya sadari setelah menyelesaikan seluruhnya. Begitu selesai, saya taruh semua karena sudah bebas dari kewajiban. Saatnya saya ngurus anak kedua dan ketiga yang sempat tertunda karena pingin cepat-cepat menyelesaikan S3.

Sekarang ini saya harus mengakui bahwa metode yang saya terapkan sangat kuat irisannya dengan apa yang saya pelajari dari S2 serta S3. Dan itu sadarnya setelah selesai. Allah SWT mengarahkan kepada jurusan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan saya. Waktu masih S2 dan S3, saya menjalaninya karena rasa tanggung jawab sudah mendapatkan beasiswa.

Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa terbaik se-Asia Tenggara di Sudan?

Pertama, mungkin lebih kepada rasa syukur, karena amanah yang diberikan tidak saya sia-siakan. Kedua, amanah itu suatu saat menjadi bagian sejarah yang dapat diceritakan kepada anak-anak. Jadi, ketika saya melakukan sesuatu harus berpikir untuk jangka panjang. Kalau hari ini saya main-main, apa yang bisa saya ceritakan kepada anak-anak? Pasti tidak akan memberikan pengaruh saat meminta mereka untuk belajar sungguh-sungguh.

Sosok pembelajar yang serius seperti Anda apakah hasil didikan dari orangtua?

 Alhamdulillah, orangtua itu supot doa-doanya masyaAllah. Kami ini keluarga tani yang tidak memiliki sawah. Kalau orang jawa, ada istilah dengan belajar sungguh-sungguh dan sekolah yang tinggi bisa menjadi “orang”.

Hal apa yang paling ditekankan orangtua kepada anak-anak?

Bapak itu pendiam. Bicara seperlunya. Tetapi saya punya keyakinan bahwa bapak percaya kalau saya pasti mampu. Sedang ibu menjadi tempat pelabuhan doa-doa kami sebab mustajab insyaAllah. Ibu juga istilahnya pintar momong. Keberhasilan yang saya raih itu karena taufiq-Nya serta doa dari orangtua serta keluarga besar.

Yang paling berkesan dari orangtua hingga sekarang?

Secara umum, saya syukuri bahwa kedua orangtua, bahkan kakek-nenek saya bisa membaca al-Qur’an. Bagi sebagian masyarakat umum langka. Orangtua saya amat menikmati dalam mengaji al-Qur’an.*

 

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:balita mengajibalita menghafal alquranDr sarminimetode utrujahsarmini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Anak-anak yang Mati Rasa”
Tulisan selanjutnya Barcelona Lebih Pilih Imigran Daripada Wisatawan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?