Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“Jangan Sampai yang Masuk Bank Muamalat Membelokkan Nilai-nilai Islam”

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 18 Oktober 2017 20:35 8:35 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 18 Oktober 2017 10:11
Bagikan
Mantan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (BMI), A Riawan Amin, dalam rapat terbatas terkait Bank Muamalat di Polonia, Jakarta Timur, Senin (16/10/2017).
Bagikan

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) menjadi perhatian nasional setelah Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) akan mengakuisisi saham mayoritas Bank Muamalat.

Akan masuknya PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk sebagai investor utama membuat banyak pihak cemas, ada yang masih bingung, tapi ada juga yang gembira.

Hidayatullah.com menemui mantan Direktur Utama Bank Muamalat periode 1999-2009 A Riawan Amin di Restoran Al-Jazeera, Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur, Senin, 16 Oktober 2017 untuk membahas masalah ini. Inilah petikannya.

Apakah Bank Muamalat akan tetap jadi kebanggaan umat Islam?

Ya sebetulnya yang paling basic (dasar), kita tuh, kan, senang bahwa Islam itu menjadi nilai yang dipakai oleh siapapun. Basic-nya itu dulu. Islam bukan hanya untuk orang Islam, Islam untuk dunia. Tetapi juga kita harus berhati-hati jangan sampai yang masuk (ke Bank Muamalat) itu malah membelokkan nilai-nilai Islamnya gitu.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Jadi, kalau umat ini khawatir, yaitu saya pikir suatu yang wajar saja. Hanya bukti cinta saja kepada bank syariah.

Apakah mungkin ada perubahan di Bank Muamalat saat Minna Padi masuk? Perubahaan seperti apa?

Makanya itu yang gelap. Yang bikin umat resah karena gelapnya itu. Kita enggak tahu, umat mungkin enggak tahu. Sebagai arranger (mengatur) ini sudah punya buyer (pembeli saham, Red) atau belum, dan kalau misalnya sudah punya buyer, buyer-nya siapa saja?

Kan, itu yang sebetulnya membuat masyarakat, umat Islam agak resah. Karena tidak tahu siapa nantinya akhirnya yang akan memiliki Bank Muamalat.

Baca juga: Inilah Calon Investor Pembeli Bank Muamalat

Dengan mayoritas saham PADI jika itu terjadi, apakah Bank Muamalat sekarang tepat dianggap milik umat?

Secara formal masih. Kalau kita menyatakan bahwa… Saya ingat sekali waktu IDB pertama kali masuk, kita ini sudah sepakat semua, bahwa IDB itu yang sekarang juga pemegang saham utama Bank Muamalat, tidak diklasifikasikan sebagai asing.

Kenapa?

Karena Islamic Development Bank pemegang sahamnya adalah negara-negara Islam. Jadi seperti OKI (Organisasi Kerjasama Islam, Red) gitu. Ini Islamic Development Bank (IDB).

IDB dimiliki oleh negara-negara OKI termasuk Indonesia. Menteri Keuangan RI adalah (salah satu) Gubernur IDB (Disampaikan Riawan pada rapat terbatas di tempat yang sama. Indonesia merupakan salah satu negara pendiri IDB dengan kepemilikan saham sebesar 2,25 persen, Red).

Nah, saat ini yang masih mayoritas adalah IDB, Islamic Development Bank. Yang dua lagi dari Timur Tengah mayoritas, tapi ya itu swasta.

Bagaimana seharusnya umat menghadapi isu-isu sekarang ini terkait Bank Muamalat, seperti isu LIPPO, isu China, dan pribumisasi sebagainya?

Saya mohon maaf kalau pernyataan saya enggak enak. Umat ini, kan, kerjanya dari tercengang menjadi terperanjat, kemudian tercengang lagi, dan terperanjat lagi.

Jadi memang, kita harus introspeksi dirilah. Kita ini sebagai umat itu bagaimana. Kita semua. Kalau enggak yah, semakin lama semakin tergerus.

Contohnya, siapa yang merepresentasikan umat? Secara demografis 85 persen memang adalah umat Islam. Tapi siapa yang kepalanya benar-benar isinya Islam? Kita enggak tahu.

Baca juga: Mantan Dirut BMI Optimistis, Bank Muamalat akan Bertahan

Ada yang berwacana, biarkan Bank Muamalat mati, kita buat lagi yang baru lebih syar’i? Bagaimana ini?

Makanya, itu yang saya pesankan. Semua orang bertanya, apa yang terjadi? Kalau saya enggak akan terlalu penting apa yang terjadi. (Tapi) kenapa yang terjadi? Kenapa terjadi? Supaya ke depannya kita tidak mengulangi problem-problem yang sama.

Karena saya memulai kepemimpinan saya tahun 99, dalam kondisi sekarat. Sekarat pertama, tapi sekarat pertama itu penjelasannya mudah. Krisis moneter. Nah, kalau udah naik, udah bagus, tiba-tiba sekarat lagi, harus ada penjelasan. Kenapa sekarat jilid kedua?

Kalau enggak kita pelajari kenapa, ya nanti ada menyusul sekarat nomor tiga.

Dengan pertolongan Allah, insya Allah (Bank Muamalat) selamat. Tapi setiap penyelamatan ini, kan, menghabiskan resale system-nya yang mestinya bisa mengembangkan tempat lain, bisa ke sana, bisa ke sini, cuman ngurusin beginian aja.

Bagaimana menghadapi umat saat ini, kabarnya ada yang gamang, bahkan ada yang ingin menarik depositonya dari Bank Muamalat?

Jangan! Jangan! Yang paling bisa kita lakukan saat ini…. Karena gini, bank ini tidak akan, insya Allah menurut saya, tidak akan runtuh, cuma risikonya berdampak kurang berkembang, gitu aja. Tapi dia tidak akan bangkrut, insya Allah.

Paling sedikit kalau kita tidak beli sahamnya nanti, setidak-tidaknya jangan mencabut depositonya-lah, karena nanti runtuhnya karena likuiditas, karena deposito ilang. Bukan karena masalah-masalah lain.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A Riawan Aminbank konvensionalBank Muamalat Indonesiabank syariahbela dan beli Bank MuamalatBMIchinaekonomi IslamEkonomi SyariahLIPPPmantan Dirut Bank MuamalatPADIPasar Syariahperbankan syariahperusahaan publikpribumiPT Mina Padi Investana Sekuritas Tbksaham Bank Muamalatsejarah Bank Muamalatstandby buyersyariah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Yayasan George Soros Dapat Tambahan Dana $18 Miliar
Tulisan selanjutnya Korban Serangan Bom Afghanistan Meningkat 74 orang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?