Sambungan artikel PERTAMA
Untuk menjadi guru yang bisa dicintai namun tetap disegani, Untung punya cara tersendiri. Ia sering kali mengajak murid-muridnya bernyanyi atau bershalawat di sela-sela kegiatan belajar. “Intinya bagaimana membuat suasana kelas jadi menyenangkan,” imbuh Untung yang sudah menjadi guru sejak 1992 ini.
Hal lain yang membuat dirinya bisa diterima dan disukai anak-anak, karena mereka takjub melihat Untung bisa menulis di papan tulis dengan bagus menggunakan kaki.
Selain mengajar di MI dan MTs Miftahul Ulum, pria yang menuntaskan jenjang SMA-nya dengan Paket C ini juga membuka TPA di mushola depan rumahnya pada sore hari.
Ia mengaku kadang tak sempat beristirahat. Sepulang dari mengajar di sekolah dan mengurus hewan ternak peliharaannya, Untung kembali bertemu anak-anak di kampungnya yang hendak belajar mengaji. Dengan dibantu beberapa santri yang sudah senior, setiap hari Untung mengajar lebih dari 70 anak. Bahkan jika semua santri hadir, jumlahnya bisa mencapai lebih dari seratus.
“Awalnya bukan kemauan saya, tapi karena permintaan masyarakat dan pengasuh mushalla juga mengizinkan, akhirnya walaupun mulanya hanya 2-3 anak yang mengaji sampai sekarang hampir 100 santri lebih,” katanya.
Selalu Sisihkan 10 Persen
Walaupun sebagai guru honorer dengan penghasilan 300 ribu rupiah per bulan, Untung tidak pernah risau dengan rezekinya. Terutama sejak menikah, ia bertanggung jawab penuh memenuhi kebutuhan istri dan dua orang anaknya.
Prinsip yang selalu dipegang Untung adalah menjadi guru yang rajin. Ia tak pernah absen menjalankan tugasnya , kecuali sakit atau sedang musim tanam padi. Bertani memang salah satu caranya untuk menopang kehidupan keluarganya, selain memelihara beberapa hewan ternak dan burung.Setiap sore saat anak-anak mengaji di mushalla depan rumahnya, Sumrati, istri Untung, juga ikut berjualan bakso.
“Dikatakan cukup ya tidak, dikatakan tidak ya cukup. Buktinya sampai sekarang saya masih hidup. Anak pun di pesantren, setiap 15 hari sekali paling tidak harus kirim sekitar Rp 500.000,- untuk keperluannya. Itu baru satu anak, belum lagi yang di rumah,” ungkap putra dari pasangan Marguno dan Sabuwami ini.
Namun ada hal lain yang selalu dipegang teguh oleh Untung ketika mendapat rezeki. Ia selalu menyisihkan 10 persen dari yang ia dapat untuk disedekahkan kepada orang lain, baru kemudian sisanya ia serahkan kepada sang istri.
“Seperti misalnya ketika kemarin saya diundang ke Jakarta. Berapa pun yang saya dapat, selalu saya ambil dulu 10 persen untuk sedekah, baru sisanya saya serahkan ke istri,” terang Untung.
Setelah dirinya mulai dikenal dan menyandang gelar guru teladan, Untung berkesempatan melanjutkan belajarnya dan meraih gelar sarjana. Ada Universitas Terbuka di Jakarta yang menawarkan kuliah jarak jauh.
Setiap satu pekan sekali Untung bolak-balik dari kampungnya ke kota Sumenep untuk kuliah. Meski tak lagi muda, menuntut ilmu tetap menjadi prioritas Untung sejak kecil. Karena ia yakin, hanya dengan ilmu-lah, seseorang akan diangkat derajat hidupnya meski dengan kekurangan fisik, sebagaimana dirinya yang tanpa kedua tangan sejak lahir.*/Suara Hidayatullah