Sambungan artikel PERTAMA
Di sinilah peran SIS di bawah pimpinan MR Henry. Pria yang fasih berbahasa Jawa ini kini cukup aktif berperan dalam dakwah di serambi masjid.
Di Suriname, umumnya masjid memiliki serambi yang letaknya di samping masjid. Serambi tak ubahnya pusat pendidikan keislaman dan dakwah bagi masyarakat. .
Ketiga, semangat keislaman di tengah masyarakat Amerika Latin
Dulu, sangat jarang bisa ditemui di Suriname muslimah yang berjilbab. Sekarang, sudah tampak muslimah-muslimah Suriname yang berjilbab. Namun di sisi lain, tidak dipungkiri jauhnya Suriname dari Negara-negara Islam rupanya cukup berpengaruh bagi pola fikir masyarakat.
Salah satu buahnya, pakaian yang terbuka biasa dikenakan sebagaimana halnya wanita Amerika Latin. Buah lainnya, semangat belajar Islam di kalangan generasi muda sangat rendah. Mr Henry memberi contoh, kalau di Indonesia untuk kuliah di Madinah yang daftar banyak, seleksinya ketat. Berbeda di Suriname, cari satu orang saja yang mau belajar ke Madinah itu susah.
Mereka berfikir, kalau sekolah di Madinah atau belajar agama Islam, ke depan mau kerja apa?
Oleh karenanya, beliau sangat berharap adanya da’i-dai Indonesia yang pergi berdakwah ke sana. Saat ini memang ada sejumlah da’I dari Indonesia yang di sana, bahkan ada yang sudah sampai 30 tahun di sana. Tapi tidak banyak.
Keempat, meskipun telah turun temurun lebh dari 1 abad mereka meninggalkan tanah kelahiran, tapi mereka masih menjaga bahasa asli mereka, bahasa Jawa.
Selain bahasa Suriname sebagai keseharian dan Bahasa Belanda sebagai bahasa komunikasi resmi di media, Bahasa Jawa masih eksis sebagai bahasa komunikasi diantara mereka. Justru bahasa Indonesia mereka tak faham.
Belakangan, generasi muda sudah mulai banyak yang tidak tahu bahasa Jawa. Setidaknya, kesamaan bahasa ini memungkinakan pada da’I Indonesia yang fasih berbahasa Jawa untuk berdakwah di sana tanpa kendala bahasa yang berarti.
Mr henry menambahkan, kalau untuk bahasa Suriname itu mudah. “Kalau sudah ke sana, InsyaAllah sebulan bisa,” tambahnya dengan harap. Labbaika ya Suriname!.*diceritakan Mr Henry Soeharto pada M Adnan Fairuz (bersambung)