Hidayatullah.com–Beberapa waktu lalu Farhad Ashar, President of the Coordination of Islamic Organization in Switzerland membuat pernyataan yang mengejutkan kalangan muslim dan nonmuslim di mingguan Sonntag. Farhad menegaskan bahwa dia akan mengajukan proses hukum dengan dasar hambatan kebebasan beragama, setelah masyarakat kampung Könitz menolak usulan adanya kuburan terpisah bagi masyarakat muslim.
“Dia itu kurang kerjaan saja, padahal tidak begitu maksudnya. Dengan cara demikian, dia mengubah sesuatu menjadi masalah… Padahal seharusnya tidak bisa dilakukan dengan cara demikian,” demikian dikatakan Stephanie Lathian, seorang pakar Islam Swiss dari University of Lausanne, sebagaimana dikutip oleh Swiss Info.
Sesungguhnya bagi masyarakat muslim di Swiss, tidak ada larangan untuk menguburkan jenazah secara Islam dan di tempat pemakaman Islam. Di beberapa kota besar seperti Zurich, Jenewa, Bern, Basel, dan lain-lain sudah ada tempat khusus pemakaman bagi warga muslim. Tidak ada diskriminasi sama sekali dann tidak ada larangan.
Penolakan dari kampung Könitz barangkali hanya disebabkan di Bern sudah ada pemakaman muslim, meski di kampung lain. Dengan demikian seharusnya tempat yang ada dimaksimalkan dulu, bukan lantas membuka kompleks pemakaman baru seperti yang diusulkan itu. Beberapa kalangan muslim sendiri menganggap cara yang ditempuh Farhad akan bisa merugikan kepentingan masyarakat Islam.
Pengalaman saya yang sudah hampir satu bulan tinggal di Swiss tidak mengalami hambatan apapun dalam menunaikan kewajiban saya sebagai muslim. Setiap Jumat, saya menghadiri jamaah di masjid yang dikelola muslim Albania dari Kosovo. Yang dimaksud masjid di sini memang mirip musholla di kantor-kantor di Indonesia, bukan bangunan khusus yang ada menaranya. Satu-satunya tanda pengenal ialah, dipintu masuk ada tulisan kaligrafi “Bismillahirrohmanirrohim”.
Bagi kita warga Indonesia, yang kita pahami sebagai masjid adalah tempat kita shalat berjamaah dan secara reguler tempat itu diselenggarakan shalat Jumat. Sedang masyarakat Timur Tengah umumnya mengatakan, sebuah bangunan baru disebut masjid kalau gaya arsitekturnya ada kubahnya dan menaranya.
Di Bern yang berpenduduk hanya sekitar 300.000 orang, ada sekitar empat masjid yang memenuhi “kriteria” orang Arab. Tetapi sesungguhnya ada puluhan masjid tanpa menara seperti milik kaum muslimin Albania Kosovo itu.
Warga Indonesia sendiri di seluruh Swiss kurang dari 2000. Dari jumlah sebanyak itu, muslim Indonesia yang tinggal di ibu kota Bern hanya beberapa puluh saja. Setiap bulan sekali dilaksanakan pengajian di aula KBRI, pada hari Ahad. Karena aulanya sempit, mulai bulan april ini saya minta dipindahkan ke Wisma Indonesia yang lebih luas.
Sebagai Dubes, saya memang berkepentingan juga untuk ikut membina pengajian warga yang dinamakan “Jamaah An Nur” itu. Beruntung di antara staf lokal KBRI ada Desrial Anwar yang pernah sekolah di Kairo, Mesir, sehingga mempunyai ilmu agama yang lumayan.
Ketika saya ditugaskan sebagai koresponden Jawa Pos di Washington DC 20 tahun yang lalu, saya juga sempat jadi pengurus pengajian warga Indonesia di sana, bahkan sesekali menjadi khatib sholat Jumatnya.
Sedang di Bern sampai saat ini komunitas muslim Indonesia belum bisa mendirikan jamaah shalat Jumat. Rencananya akhir pertengahan April atau Mei ini akan kami lakukan jika persiapannya sudah memadai.
Terus terang saja, saya sudah rindu dengar adzan seperti di Indonesia. Maklum masjid milik orang Arab atau Albania sangat kering dengan qiraat. Adzannya tidak ada lagu sama sekali, begitu pun bacaan imam tidak senikmat di Indonesia. Belum lagi, masjid di Swiss tidak riuh seperti di kampung mertua saya yang kiri kanan adalah masjid NU, di mana mesti ramai dengan puji-pujian atau tarkhim di pagi hari. Memang, di negeri orang seperti Swiss ini, meski latar belakang saya Muhammadiyah, saya kadang juga kangen tradisi keagamaan NU di kampung- kampung kita.
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia sering menjadi tumpuan harapan untuk bisa menjelaskan “Islam Moderat” di negara Barat.
Karenanya, Inter Faith dialogue (atau dialog antariman) menjadi salah satu platform diplomasi Indonesia. Sayangnya kedatangan saya di Swiss sudah mepet waktunya dengan pelaksanaan Muktamar NU. Rasanya perhelatan akbar di Makassar kemarin itu layak diketahui warga Swiss. Banyak mereka yang kemudian berubah pemahaman tentang Islam setelah dijelaskan bahwa Islam tidak identik dengan Timur Tengah atau konflik di Timur Tengah.
Orang Swiss akan terheran-heran bahwa orang Islam setiap hari setidaknya harus mencuci bersih wajah dan anggota badan lainnya lima kali. Juga bahwa menjaga kebersihan itu merupakan sebagian dari iman.
Sayangnya ajaran Islam yang bagus itu banyak diabaikan oleh umatnya. Contohnya, meski sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan, masih banyak masjid atau langgar kita di kampung yang jorok. Sudah tahu merokok itu tidak ada manfaatnya, masih juga di pengajian merokok dengan santai.
Meski demikian orang Swiss tetap kagum bahwa kasus alkoholisme sangat rendah di Indonsia dan negara Islam lainnya. Rupanya untuk menghindari alkohol dan makan babi, umat Islam relatif masih taat, tapi tidak untuk merokok dan kedisiplinan lainnya.
Memang, kawan-kawan dari Indonesia yang baru tiba di Swiss sering berkomentar, “Di Swiss tidak banyak orang yang membaca syahadat, tetapi mereka sangat disiplin, kerja keras, menjaga kebersihan, dan yang penting, korupsinya sangat rendah.” Tak ada salahnya kita meniru yang baik dan perlu. [[email protected]/hidayatullah.com]