Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Sarbini Ingin Mengingat Mati di “Kuburan Kembar”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Mei 2013 11:13
Bagikan
Bagikan

TANGANNYA sangat lincah memainkan pisau kecilnya yang  tajam berwarna perak kehitaman. Ia meletakkan sepatu di atas pahanya. Lalu diambilnya jarum besi yang ujungnya berbentuk anak panah,  sebagai pengait benang. Jarum yang menembusi telapak sepatu bagian dalam, kemudian ditarik benang yang telah dikaitkan di ujung jarum yang telah ditandai dengan irisan pisau sebelumnya. Begitulah cara menjahit ia lakukan, agar telapak sepatu tak mudah lepas.

Jasa menjahit sepatu (sol sepatu) ini telah dilakukan Sarbini sejak 25 tahun lalu. Seluruh waktunya telah ia habiskan  dengan berprofesi sebagai penjahit sepatu tetap di daerah Ngagel Surabaya, tepatnya di depan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Surabaya.  Di jalan dua arah ini terdapat dua kuburan yang saling berhadapan, orang menyebutnya makam pahlawan dan TPU Ngagel atau “Kuburan Kembar”.

Di lokasi inilah, tempat mangkal bapak empat anak sehari-hari menyelesaikan tugas orderan orang.

“Aku sangat cinta sepatu,”  ucapnya sambil bernyanyi. 

Sebelum menekuli sebagai tukang sol sepatu, ia mengaku pernah bekerja pada pabrik sepatu di Kali Sosok dan Wonocolo. Saat itu, tugasnya adalah bagian pembuatan telapak sepatu.
Namun sayang, pabrik tempatnya bekerja itu bangkrut. Ia akhirnya banting setir menjadi seorang penjahit sepatu.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Kini, sehari-hari ia abdikan waktunya sebagai tukang sol sepatu di pinggir jalan. Tak peduli terik panas atau hujan deras.

“Bila panas datang, ya kepanasan, bila hujan tiba ya kehujanan,  ungkap pria yang beberapa hari lalu sempat kebanjiran saat hujan lebat datang mengguyur Kota Surabaya.

Bekerja di jalanan baginya memiliki suka-duka tersendiri. Ia pun tak menyangkal sering didatangi petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).  Pria yang mengaku bisa sedikit bahasa Inggris, Jepang dan Belanda ini sering tak bisa memahami petugas Satpol PP.

“Saya dan teman-teman  sering diobrak di sini. Mengusuir orang itu enak, tapi harus ada penyelesainnya,” tuturnya kepada hidayatullah.com hari itu.

Ia mengeluh Pemkot hanya bisa mengobrak- abrik kaum mereka, tapi tak memberi solusi terbaik.

“Aku kerja  begini untuk anak dan keluarga,” ungkapnya. Menurut Sabrini, keempat anaknya sekarang pun sudah berhasil. Terakhir si bungsu yang bergelar sarjana sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Surabaya.

Mengingat Mati

Sarbini mengakui usianya sudah tua. Kini dia sudah berumur 67 tahun. Rambut kepalanya mulai memutih seluruhnya dan penglihatannya pun mulai memudar. Meski demikian,  ia mengaku tak akan berhenti bekerja. Ia bahkan mengaku telah bekerja selama hampir seperempat abad di pinggir jalan.

Meski diakui telah berhasil mengantarkan anak-anaknya bisa sekolah dan bekerja yang layak, ia tak punya niat untuk berhenti bekerja dari profesinya sebagai penjahit sepatu.

Sarbini mengaku justru lebih hidup dengan bekerja dibanding hanya menganggur di rumah.

“Enak jadi orang embongan (orang jalanan, red),  kalau saya di rumah malah pegel, capek, dan bisa sakit,” ucapnya.

Sarbini mengaku ingin menghabiskan sisa umurnya yang diamanahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala sebagai penjahit sepatu yang diapit dua kuburan. Sebab baginya, dua tempat ini cukup baik baginya untuk mengingatkan akan kematian.

“Tempat ini mengingatkanku akan kematian,” ucapnya. Setidaknya, itu cukup baik baginya sampai ia dipanggil kembali menghadap-Nya, ujar Sarbini.*/Samsul Bahri

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Freeport, Campur Tangan Asing dan Tragedi Kemanusiaan
Tulisan selanjutnya Prawoto: Politikus yang Menyatukan Ucapan dan Perbuatan (1)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?