Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Usamah Bin Ladin Meledakkan Diri dan Membawa Mati Semua Rahasia (1/2)

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 30 Mei 2013 05:45
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sebuah versi baru tentang kematian Usamah bin Ladin yang dikabarkan tidak meninggal dibunuh oleh pasukan khusus Amerika Serikat, melainkan karena tokoh Al-Qaidah itu meledakkan dirinya sendiri agar tidak ditangkap pasukan AS dan semua rahasia yang ada padanya tersimpan untuk selamanya.

Hal itu terungkap dalam hasil wawancara Gulf News dengan salah seorang warga Mesir mantan pengawal Bin Ladin, yang dipublikasikan pada hari Senin (27/5/2013). Dalam wawancara itu, tokoh salah satu kelompok Islam itu juga menceritakan bagaimana manjanya tentara Amerika Serikat dan mengomentari beberapa isu di Mesir terkait dengan Al-Qaidah. Berikut hasil perbincangan itu, yang disusun ulang oleh redaksi Hidayatullah.com dalam dua bagian.

Nabil Naim Abdul Fattah, mantan pemimpin Jihad Islam Mesir (1988-1999) mengatakan bahwa Usamah bin Ladin tidak meninggal karena ditembak mati oleh pasukan khusus Amerika Serikat SEALS dalam ‘Operasi Geronimo’, melainkan meledakkan diri begitu pasukan AS melancarkan serangan ke rumah persembunyiannya di Abottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011.

“Cerita tentang pemakaman Bin Ladin di laut itu meragukan. Presiden Amerika Serikat Barack Obama berbohong ketika dia mengatakan bahwa Bin Ladin dikubur di laut. Bagian tubuh Bin Ladin tercerai-berai, seperti [tubuh pelaku] serangan bom bunuh diri, jadi tidak meninggalkan jejak bagi AS untuk mengidentifikasinya,” kata Abdul Fattah.

Abdul Fattah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak berada di Abotabad saat peristiwa itu terjadi. Namun, dia mengatakan mendengar apa yang terjadi dengan Bin Ladin dari saudara salah satu keturunan milyuner Arab Saudi itu.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Abdul Fattah, yang pernah menjadi pengawal pribadi Bin Ladin, membenarkan bahwa pemimpin Al-Qaidah itu sepanjang waktu mengenakan sabuk berupa bom selama sepuluh tahun sebelum kematiannya dan bertekad tidak akan menyerahkan dirinya kepada Amerika Serikat.

“Intelijen AS merencanakan untuk menangkapnya hidup-hidup, tetapi mereka salah perhitungan. Dia meledakkan diri agar tidak ditangkap. Dan juga, dia ingin menyimpan rahasia-rahasianya sampai mati dan dia punya banyak sponsor dari negara-negara Teluk yang mengiriminya uang. Dia ingin menyelamatkan mereka dari segala macam kesulitan. Dia bersumpah di depan Ka’bah untuk menjaga semua rahasianya sampai mati,” kata Abdul Fattah.

Pria asal Mesir itu juga menyoroti kemungkinan bahwa salah seorang pendukung Bin Ladin ada yang berkhianat.

“Sulit untuk menyusup ke dalam lingkaran terdalam sekitar Bin Ladin. Pengawal-pengawal pribadinya hanyalah orang-orang Yaman atau Saudi yang tidak akan bisa disogok oleh pihak musuh manapun,” tegas Abdul Fattah.

Abdul Fattah kemudian menjelaskan bagaimana Amerika Serikat akhirnya bisa menjangkau Bin Ladin.

“Seorang saudara laki-laki dari seorang tahanan warga Kuwait yang berasal dari Pakistan di Teluk Guantanamo, dulu dekat dengan Bin Ladin. Orang itu pernah muncul di Kuwait pada tahun 2008, saat CIA meminta pihak berwenang Kuwait tidak menahan orang itu atau melacaknya. Orang itu kerap mengunjungi keluarganya dan pergi ke Pakistan dengan paspor palsu. Intelijen AS memantau teleponnya dan menyadap semua pembicaraannya untuk mengetahui semua kontaknya. Mereka (AS) kemudian mengetahui bahwa pria itu biasa mematikan telepon selulernya di suatu tempat tertentu di mana mereka tidak bisa melacaknya lagi.”

“Setelah berbulan-bulan memantau orang itu, Amerika gagal menemukan rumah Bin Ladin. Mereka kemudian mengatur sebuah kampanye vaksinasi massal untuk melindungi anak-anak dari cacar air. Saat mereka menemukan anak-anak Arab di suatu daerah, mereka kemudian memeriksa DNA-nya untuk mengetahui asal-usul garis keturunannya. Begitu mereka mengetahui Bin Ladin dan keluarganya ada di suatu tempat di Abottabad, mereka memutuskan untuk menyerbu tempat itu.”

“Bin Ladin dan orang-orangnya mempertahankan diri mereka sendiri. Mereka menembaki helikopter yang mengangkut unit pasukan khusus AS. Saat SEAL membunuh dua orang pengawalnya dan menembak pahanya, dia kemudian mengaktifkan sabuk peledaknya,” cerita Abdul Fattah tentang saat-saat terakhir kehidupan Bin Ladin.

Abdul Fattah menuntaskan ceritanya tentang kematian Bin Ladin dengan merujuk sebuah sumber yang dekat dengan salah seorang pengawal Bin Ladin yang terbunuh. Dia menolak untuk menyebutkan nama orang tersebut, dengan alasan untuk melindunginya.

Abdul Fattah berkata bahwa “suatu hari nanti isteri Bin Ladin akan menceritakan kisah itu.”*

Baca kelanjutannya tentang tentara Amerika Serikat yang cengeng dan isu terkait Al-Qaidah di bagian 2 (habis).

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BINold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perang Sektarian di Ambang Pintu?
Tulisan selanjutnya Larangan Pengeras Suara Masjid Dinilai akan Kontraproduktif

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?