Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Dari Jual Gorengan sampai Petugas Cleaning Service KBRI

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Februari 2014 11:45 11:45 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Februari 2014 10:44
Bagikan
Mahasiswa asal Asia berfoto usai shalat Idul Adha di depan Masjis Al Azhar, Kairo
Bagikan

SEMANGAT dan animo yang disertai sebuah keikhlasan merupakan modal yang sangat penting dalam menuntut ilmu. Namun ada modal lain yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu bekal atau biaya yang dibutuhkan selama proses menuntut ilmu. Terlebih di negeri perantauan.

Setidaknya itulah yang dialami para mahasiswa asal Indonesia dan para penuntut ilmu di universitas Islam tertua al Azhar asy Syarif.

Maklum, tidak semua mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir berkecukupan secara ekonomi. Bahkan banyak dari mereka justru sangat kekurangan.

“Aku hanya dikirimi uang untuk bayar rumah dan makan saja. Untuk biaya yang lain aku harus cari sendiri,” demikian disampaikan Jamaluddin (20) mahasiswa al Azhar jurusan Fakultas Ushuluddin asal Jawa Barat.

Beban berat para mahasiswa dari keluarga pas-pasan yang datang ke Mesir sebagaimana Jamaluddin adalah biaya hidup dan asrama. Karenanya, para mahasiswa tak mampu yang datang di negeri ini, pertama kali adalah berusaha mencari informasi tempat tinggal (asrama). Ada mahasiswa yang sejak tiba di Mesir langsung mencari info tentang sakan (asrama) gratis yang disediakan oleh lembaga-lembaga sosial.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Hanya saja, untuk hal ini tidak bisa diperoleh dengan mudah. Untuk yang belum bisa masuk asrama, sementara waktu mereka tetap tinggal di rumah kontrakan. Biasanya ada juga asrama yang memberikan uang saku setiap bulannya, dan ada juga yang tidak.

Selain mencari asrama gratis, ada juga yang mencari minhah al diraasiyyah (beasiswa, red), baik dari perorangan ataupun dari lembaga-lembaga yang menyediakan.

Ceaning Service hinggal Jualan Tempe

Di samping mencari beasiswa, banyak mahasiswa mencari pekerjaan apa saja yang bisa menunjang hidup dan kuliahnya. Ada bekerja menjadi cleaning service di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Ada juga yang bisnis jual gorengan-gorengan dan kerupuk.

Mereka menitipkan dagangannya di warung-warung makan milik orang Indonesia. Atau dititipkan di rumah-rumah tempat mahasiswa tinggal.

Setiap satu atau dua hari dangan tersebut diambil. Kalau tidak membuat produk sendiri, ada yang menjadi tenaga pengantar industri rumah tangga. Seperti mengantarkan pesanan tempe, tahu atau kerupuk ke rumah-rumah pemesan.

Ada juga mahasiswa yang bekerja di maktabah (toko buku) orang Mesir. Biasanya para mahasiswa yang butuh pekerjaan, meminta kepada senior agar dicarikan maktabah yang butuh petugas.

Ada pula mahasiwa yang membuka usaha pangkas rambut. Usaha ini sangat laris karena mahasiswa atau orang Indonesia yang ada di Mesir enggan untuk potong rambut kepada orang Mesir.

Tak sedikit  yang membuka jasa pengiriman barang dari mesir ke Indonesia dan jasa warung telpon (wartel) internet. Jasa wartel memudahkan mahasiswa untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga yang di Indonesia dengan tarif yang relatif murah dibandingkan dengan via pulsa biasa. Selain itu, ada yang menekuni jasa travel. Biasanya pekerjaan ini banyak dilakukan mahasiswa senior.

Alhasil, apapun dilakukan para mahasiswa. Dari menjadi pengemudi, penjualan tiket pesawat sampai staf administrasi.

Dari sekian pekerjaan yang sering dilakukan oleh mahasiswa yang tidak mampu untuk bertahan hidup, ada pekerjaan yang paling dominan diminati, yaitu bekerja di rumah-rumah makan. Ada yang jadi koki, pelayan atau jadi pengantar. Meski demikian, masih banyak mahasiswa yang sama sekali tidak dikirimi uang oleh orangtua mereka.

Usai Kuliah

Banyaknya para mahasiswa yang bekerja di rumah makan dikarenakan usaha rumah makan sering menampung banyak tenaga kerja.

Untuk waktu kerja, biasanya mereka mengambil waktu usai jam kuliah. Tak sedikit pula ada yang harus bertabrakan dengan waktu kuliah mereka.

Ada yang hanya beberapa hari saja dalam seminggu, dan ada juga yang hampir setiap hari. Bahkan ada yang bekerja tidak hanya di satu tempat saja.

“Saya kerja di rumah makan, toko kain juga di Kantor KBRI,” ujar Syaiful Anam, mahasiswa Fakultas Ushuluddin asal Tangerang.
Perilaku seperti ini nampaknya tak hanya dilakukan para mahasiswa. Tak sedikit juga mahasiswi asal Indonesia yang melakukan. Dengan alasan sama, karena faktor ekonomi.

Sebenarnya bekerja bukanlah tujuan utama para mahasiswa ini. Mereka terpaksa bekerja lebih karena desakan kebutuhan yang mengharusnya mereka bertahan hidup dan bisa kuliah dengan lancar.

Ini juga yang diakui Syaiful Anam. Sebenarnya ia hanya ingin fokus menuntut ilmu, karena bekerja akan menyita banyak waktu dan tenaga serta mengorbankan kuliah.

“Sebenarnya saya gak mau kerja, karena akan menguras tenaga dan menyita waktu kuliah. Capek dan juga jadi jarang kuliah. Saya pingin bisa fokus kuliah, menghafal al-Qur’an dan belajar ilmu yang lain. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan menuntut saya untuk bekerja,” ujarnya.

Meski demikian, dibanding Jamaluddin dan Syaiful Anam, masih banyak mahasiswa lain yang kurang beruntung. Tak sedikit mahasiswa yang tidak pernah sama sekali mendapat kiriman uang dari orangtua mereka. Juga tidak ada donatur yang membantunya.

Jika ada yang demikian, kadang  beberapa sahabat mereka berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantunya.

Semoga Allah memberikan kesabaran dan keistiqomahan serta kemudahan kepada mereka dalam menuntut ilmu.*/Jundi Iskandar  (Mesir)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masyarakat Harus Perangi Pornografi
Tulisan selanjutnya Tangis Mereka, Tangis Kita

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?