LANGIT masih begitu gelap, ketika waktu Subuh baru saja berakhir. Sesaat setelah jamaah menuntaskan shalatnya di masjid, sebuah suara memecah keheningan pagi. Lantunan ayat suci al-Qur’an menenggelamkan diriku pada samudera surat Al-Muzammil. Begitu membaca makna ayat terakhirnya, teringat perjalanan singkat kemarin yang cukup mengesankan.
Jumat pagi, 15 Jumadil Awal 1436 H, keluarga kecilku berencana mengunjungi pameran buku Islam di Istora Senayan, Jakarta. Sekitar pukul 10.30 WIB, saya, istri, dan seorang anak, meninggalkan rumah di kawasan Cilodong, Depok, Jawa Barat dengan sepeda motor. Tiba di Stasiun Depok, saat roda dua kutitipkan di tempat penitipan motor, berbagai perasaan hadir di benakku.
Ini pertama kalinya saya dan istri akan membawa bayi kami naik kereta api (KA). Senang rasanya, sebab ini kesempatan mengajak keluarga jalan-jalan. Namun, di usianya yang masih 8 bulan, ada rasa was-was bagi abi dan ummi-nya jika membawa sang buah hati pergi jauh. Waktu dan jarak tempuh dari Depok menuju Senayan, Jakarta Pusat tentu tidak sebentar dan tidak dekat. Apalagi jika mengingat kondisi transportasi ibukota yang dikenal kurang bersahabat. Karena itulah saya memilih menggunakan angkutan umum, biar tak kena macet.
“Tuuutttt….!!!”
Serangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) dari arah Bogor tiba di Stasiun Depok. Anakku tampak kegirangan melihat makhluk panjang seperti ular ini. Kami pun segera masuk ke gerbong bagian agak belakang. Tiba di atas, saya celingak-celinguk, berharap ada kursi kosong. Sayangnya tidak ada.
Para penumpang –termasuk saya– yang sering naik KRL sudah terbiasa berdiri di atas kereta. Tentu tidak demikian dengan Bintu Ahmad, istriku. Dia pasti keletihan jika harus berdiri lama sambil menggendong bayinya. Apalagi perjalanan dengan KRL yang akan kami tempuh ini memakan waktu sekitar setengah jam.
Di depan kami duduk sejumlah wanita, di antaranya ada yang berjilbab. Begitu Muslimah tersebut melihat istri dan bayiku, ia segera berdiri, lalu mempersilahkan Bintu Ahmad duduk, menggantikan posisinya. Alhamdulilllah!
“Terima kasih, Mbak!” Kucoba mengungkapkan kata-kata itu setulus mungkin padanya.
Sekitar pukul 10.52 WIB, KRL Commuter arah Jakarta yang kami tumpangi pun melaju menuju utara. Ditemani suara khas gesekan roda kereta dan rel besi di bawahnya.
“Gjlek, gjlek!! gjlek, gjlek…!!!”
Warung “Penolong”
Suasana di Stasiun Cawang, Jakarta Timur, cukup ramai. Pagi jelang siang itu, 6 Maret 2015, KRL yang barusan membawa kami sudah berlalu. Muwahhid, putraku, tampak masih pengen naik kereta. Karena harus berpindah angkutan ke Bus Transjakarta, kami transit di Cawang.
Saat itu sebentar lagi masuk waktu shalat Jumat. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah dulu ke sebuah masjid besar. Jaraknya cukup dekat dengan stasiun, hanya sekitar 50 meter. Tapi ketika sampai di situ, saya kebingungan. Masalahnya tak ada tempat shalat untuk wanita. Ruangan masjidnya penuh.
“Kalau hari biasa ada. Tapi kalau hari Jumat tempat shalat wanita nggak ada, dipakai Jumatan,” terang seorang jamaah masjid menjawab pertanyaanku di tempat wudhu.
Saya berpikir cepat, dikejar waktu shalat yang sebentar lagi masuk. Kucari-cari tempat atau rumah sekitar yang bisa ditumpangi oleh anak dan istriku. Di seberang masjid itu terdapat sebuah sekolahan Islam. Sempat terpikir untuk menitipkan mereka di situ. Namun tiba-tiba istriku punya ide.
“Aku tunggu di warung itu aja, Kak, minta izin dulu sama ibu (pemiliknya)!” ujarnya menunjuk sebuah kios kelontong di pinggir jalan kecil menuju masjid.
Betul juga, batinku. Tapi agak ragu, ini Jakarta, Bung, dan kami orang baru di sini. Mengingat situasi darurat, kupupus keraguan itu, lalu meminta izin kepada ibu pemilik warung. Ternyata dipersilahkan tanpa basa-basi. Alhamdulillah!
Warung kecil itu berada di bagian depan sebuah rumah berteras luas. Di samping warung terdapat kursi kayu. Bintu Ahmad dan bayinya melepas lelah di situ. Sementara saya bergegas ke masjid.
Usai shalat Jumat, sekembalinya ke kios tadi, saya sempat terpikir untuk membayar “jasa penitipan”-nya. Tapi tak jadi. Sebelum pergi dan pamit meninggalkan warung, kami berbelanja di situ. Sejumlah makanan ringan yang kupesan harganya Rp 3 ribu. Kuserahkan pada ibu penjual tadi dua lembar uang dengan total senilai Rp 4 ribu.
“Nggak usah dibalikin Rp 1000-nya, Bu!” ujarku, bermaksud ‘berbalas jasa’ atas kebaikannya.
Ibu tersebut menolak pemberianku. “Ini Rp 1000-nya!” ujarnya dengan agak tegas, menyerahkan uang kembalian. Seakan ia tak merasa berjasa. Saya terenyuh. Tak bisa mengungkapkan apa-apa lagi selain ucapan terima kasih kepadanya. Alhamdulillah!

Kursi Prioritas
Ada cerita berkesan lain dalam perjalanan menuju arena Islamic Book Fair (IBF) ke-14 itu. Sesaat setelah masuk Bus Transjakarta dari Halte Cawang Cikoko, saya dan istri “terjebak” masuk ke badan bus bagian depan. Di area khusus wanita ini –termasuk di area pria– kursi-kursi sudah pada penuh.
Sebelum istriku berdiri lama, petugas Transjakarta segera menjalankan tugasnya. Ia meminta seorang wanita di kursi prioritas untuk memberikan tempat duduk kepada istriku. Lagi-lagi, Bintu Ahmad dan bayinya, yang sudah tertidur dalam gendongan, “selamat” dari kelelahan berdiri dalam perjalanan menuju tempat transit di Halte Semanggi, Jakarta Pusat ini. Alhamdulillah!
“Terima kasih, Bang!”
Begitu pula saat naik Bus Transjakarta di Halte Bendungan Hilir. Di sini sempat ada kejadian. Tas punggungku tersangkut di pintu tengah bus. Sementara istriku sempat beberapa saat berdiri dan berdesakan dengan penumpang. Itulah repotnya di Jakarta, naik kendaraan pribadi macet, naik angkutan umum padat. Kami pasrah saja.
“Dekat aja kok, sebentar lagi kita turun,” ujarku menenangkan istri.
Baru saja mengucap begitu, seorang penumpang pria di sampingku tampaknya iba. Ia pun meminta seorang penumpang wanita yang duduk untuk bergantian posisi dengan istriku. “Mbak, ini ada ibu bawa anak!” ujarnya “menyelamatkan” kami. Lagi-lagi, saya tak sanggup untuk tidak mengucapkan terima kasih banyak padanya. Alhamdulillah!
Akhirnya, setelah sekian jam menempuh perjalanan, kami tiba di Istora Senayan sekitar pukul 14.10 WIB. Usai istriku menunaikan shalat Zhuhur di Mushalla Takaful, kami pun melihat-lihat stan-stan pameran, berbelanja buku-buku secukupnya, lalu pulang. Ya, kami hanya sekitar 1 jam di arena IBF. Perhitunganku, jam 3 sore lewat kami sudah harus pulang. Jika terlambat, perjalanan pulang akan lebih ribet. Mulai lalu lintas yang semakin padat hingga kondisi penumpang KRL yang puenuh banget.
Dari Istora, kami menumpang sebuah taxi menuju Stasiun Cawang, mengingat rute arah pulang ini pada siang jelang sore ini masih cukup lancar. Berbeda dengan rute Cawang ke Semanggi habis Jumatan tadi yang masih padat.
Cerita Belum Berakhir…
Dalam perjalanan dari Stasiun Cawang ke Stasiun Depok, KRL arah Bogor yang kami tumpangi, penumpangnya tidak begitu padat. Tapi sudah penuh tempat duduknya, termasuk tempat duduk prioritas di dekat kami yang bisa diisi empat orang.
Kursi prioritas di KRL maupun Bus Transjakarta, diperuntukkan bagi orang lanjut usia (lansia), penyandang cacat, wanita hamil, dan ibu membawa balita. Di kursi itu, seorang wanita tak berjilbab bangkit, lantas mempersilahkan istriku duduk menggantikannya. Alhamdulillah!
Tak berapa lama, penumpang lain yang juga duduk di dekat istriku turun di sebuah stasiun. Kursi kosongnya pun diisi wanita yang tadi berdiri memberikan kursi. Sesaat kemudian, seseorang yang lain di dekat istriku turun di stasiun berikutnya. Giliran saya yang duduk menggantikan penumpang itu.
Di stasiun berikutnya, naik seorang penumpang lansia. Wanita di samping istriku yang sudah duduk tadi segera memberikan kursinya kepada lansia tersebut. Dia pun berdiri lagi. Melihatnya berdiri di dekatku, saya segera memintanya duduk menggantikan posisiku. Dia senang, pun kami.
Hingga kemudian saya kembali duduk menggantikannya yang turun di stasiun sekitar Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Setelah itu, saya berdiri lagi mempersilahkan seorang lansia yang naik kemudian.
Hingga sekitar pukul 16.20 WIB, kami pun tiba di tujuan, Stasiun Depok, dengan selamat. Tanpa bayi dan ummi-nya harus bergelantungan di gerbong kereta seperti abi-nya. Muwahhid tampak senang menikmati perjalanan tersebut. Sepulang dari itu, ia selalu berceloteh, “Etaa, taa, taa…” Mungkin artinya, “Abi, Ummi, aku mau lagi naik kereta.”
Alhamdulillah! Segala puji bagi Allah, yang telah merangkai lika-liku perjalanan itu, dan mengiangkannya kembali padaku keesokan harinya. Tepatnya Sabtu (07/03/2015) pagi, saat membaca ayat ke-20 Surat Al-Muzammil [72]. Pada ayat panjang itu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, yang potongan terjemahannya sebagai berikut:
“… Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya….”
Semoga, mereka-mereka yang telah berbuat baik –dengan ikhlas– kepada siapa saja, diberi ganjaran sebagaimana janji Allah tersebut. Aamiiin!* Abu Muwahhid/Hidayatullah.com