Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Setiap Tahun Sunat 700-an Pasien, Gratis Termasuk Non-Muslim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Juli 2016 13:40 1:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Juli 2016 13:13
Bagikan
Ustadz Pono (peci putih) dan Haji Zakir.
Bagikan

PONO Musyaril Kerto namanya. Pria kelahiran Sidoarjo, 24 Oktober 1966, ini hijrah ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tahun 1986. Tujuannya untuk kuliah. Sebelumnya, pada tahun yang sama, ia pernah mendaftar dua kali di Universitas Indonesia. Tapi tak diterima.

Di Kupang, Pono kuliah di Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Usai lulus dari perguruan tinggi negeri itu, Pono mengajar di sekolah swasta Muhammadiyah Kupang. Kemudian ia mendirikan Yayasan Darul Akhirat pada tahun 1990 di Naikoten 1, Kota Kupang.

Melalui yayasan ini, Pono membentuk berbagai unit usaha pendidikan dan bisnis. Mulai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) hingga agen minyak tanah. Modalnya dari kocek pribadi. Semua ia lakukan demi memajukan masyarakat dan umat Islam di wilayah binaannya.

Di yayasannya, para santri yang memenuhi kriteria ia sekolahkan ke pondok pesantren di Jawa. Selulusnya, anak-anak itu kembali ke Kupang untuk membina masyarakat di kampung halamannya.

Ustadz Pono berkisah, TPA yang didirikannya sempat ditentang oleh sebagian masyarakat setempat dari kalangan non-Muslim. Kata mereka, kegiatan yang dilakukan Pono dan yayasannya sangat mengganggu.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Pono pun menghadap Kepala RT dan lurah setempat. Dalam pertemuan itu, Pono menyampaikan peraturan Kementerian Agama khususnya pasal tentang kebolehan warga negara membuka TPA di rumah maupun masjid.

“Kalau Bapak mau tutup kegiatan kami, tolong Bapak hapus dulu peraturan dari pemerintah, baru nanti kami tutup kegiatan ini,” kata Pono saat itu.

Ia pun menjelaskan, kegiatan seperti TPA itu sebagai bentuk perannya dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa.

Usut punya usut, ternyata, masyarakat tidak menyukai dakwah Pono karena tempat yang digunakan untuk TPA mengganggu aktivitas lalu lintas sekitar. Disiasatilah oleh Pono.

“Wali murid yang mau mengantar-jemput anak-anaknya, saya suruh memarkir kendaraan di luar area TPA,” terang bapak tiga anak ini kepada penulis. Akhirnya masyarakat tadi setempat menerima dakwah Pono.

Sunat Pasien Non-Muslim

Selain TPA, Yayasan Darul Akhirat juga melayani pengurusan jenazah secara cuma-cuma, tanpa meminta satu rupiah pun dari fakir miskin, mualaf, dan kaum dhuafa.

Pada tahun 2011, Yayasan Darul Akhirat mengembangkan sayap dengan membuka Yayasan Suka Sukur di Perumnas Kota Kupang.  Dua yayasan ini sama-sama bergerak di bidang pembinaan masyarakat NTT.

Selain mengurus jenazah, pelayanan lain dari yayasannya adalah sunatan gratis. Biasanya, di Kota Kupang, tarif sunat di rumah sakit kisaran Rp 1 juta. Kalau di desa-desa tarifnya Rp 300 ribu.

Namun di yayasan milik Pono, mulai anak-anak hingga orangtua, selalu mendapatkan pelayanan sunat secara gratis. Bahkan melayani hingga ke pelosok desa.

Setiap tahun, hampir 700 orang mendapat pelayanan sunat gratis di kedua yayasan itu. Pelayananan pun tak pandang agama maupun strata sosial pasien. Baik Muslim maupun non-Muslim, pun masyarakat kota atau pedesaan.

Terkadang, jika memenuhi kuota pendataan, dilakukan sunatan massal. Hal ini pernah digelar di sejumlah desan binaan Pono, seperti Oenai, Belle, Oeleu, Billa, serta Ue-Ue di daratan So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Membangun Infrastruktur

Melalui yayasannya, Pono juga berperan dalam pembangunan infrastruktur untuk kepentingan masyarakat pelosok. Khususnya pengadaan air bersih. Ia pun mendorong mengalirnya bantuan dana Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum NTT.

Pono kemudian membangun tempat penampungan air hujan dan sumur bor di Desa Billa, Kabupaten So’e. Tak lepas pula ia membina para guru dan santri TPA di daerah pelosok itu.

Setiap sebulan sekali, Pono mengadakan safari dakwah bersama rekan-rekan pegiat dakwah pelosok dan pengusaha Kota Kupang.

Satu hal yang menjadi prinsip dakwah Pono adalah memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ia berharap, keberadaan dirinya dapat membantu lebih banyak lagi kepada semua kalangan. Sehingga orang tertarik dengan Islam lewat akhak dan perbuatan.

Masyarakat binaan Pono begitu merasakan manfaat besar atas kiprah dakwah dan sosial kedua yayasan itu.

“Ustadz Pono termasuk dai yang sabar dalam berdakwah. Kapan saja dibutuhkan beliau selalu hadir memberikan bantuan,” tutur Haji Zakir, salah seorang simpatisan Pono.* Usman Aidil Wandan, pegiat komunitas menulis PENA Kupang, NTT

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daidakwah di pedalamanIslam di KupangNTTshalat jenazahsunatTPA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ilmu Diangkat, Kebodohan Merata
Tulisan selanjutnya Wahdah Islamiyah Gelar Muktamar III di Jakarta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?