Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

“Riba Dilawan dengan Sedekah”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 September 2020 10:56 10:56 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 September 2020 10:30
Bagikan
Ahmad Rifai pengusaha konveksi di Jawa Timur.
Bagikan

Hidayatullah.com | GUNUNG Kelud (Jatim) meletus, Februari 2014. Saat itu Ahmad Rifai dan istrinya, Dian Faristina, baru merintis usaha konveksi. Letusan itu pun berdampak pada bisnisnya. Tapi, dampak positif.

Usai bencana, Rifai bersedekah kepada para pengungsi. Di antaranya membagi-bagikan 1.000 pembalut kain cuci ulang, produk pengembangan dari popok kain cuci ulang yang dirintisnya.

“Padahal ya kami sedang dalam kondisi susah. Baru merintis bisnis dan tidak punya apa apa,” kenang Rifai.

Rupanya, dari situlah justru titik kebangkitannya. Tak lama setelah bencana, Allah mengganti dengan rezeki melimpah. “Awal bisnis saya grow-up (tumbuh) setelah kami menyedekahkan produk kami semua,” ungkapnya.

Sedekah merupakan salah satu resep Rifai dalam meraih sukses berbisnis. Resep lainnya, kata dia, dengan meninggalkan riba. Apa kaitan sedekah dan riba?

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

“Riba dilawan dengan sedekah. Itu prinsip kami dari ayat (al-Qur’an),” ujar Rifai, berpatokan pada firman Allah dalam Surat al-Baqarah: 276 yang melarang riba dan menyuburkan bersedekah.

Di tengah hegemoni riba yang mencengkeram banyak pengusaha, Rifai termasuk pebisnis yang mengaku sejak awal tak tergoda riba.

“Riba itu sebuah sistem yang melemahkan umat Islam,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1982 ini.

Bisnisnya pun terus berkembang. Omzet dan labanya terus meningkat sejak sedekah ke pengungsi Kelud. “(Omzet per Juni 2020) Rp 200 juta, laba Rp 100 juta,” tutur Owner PT Zaada Usaha Mulia ini dikutip Suara Hidayatullah.

Baca: Jangan Makan Riba, Berat!

Tidak Berutang = Menghindari Riba

Rifai seakan punya 1001 cara sukses berbisnis tanpa riba, Sedekah tadi hanya salah satunya.

“Yang saya praktikkan ialah mengadopsi sistem organik. Itu bahasa saya. Maksudnya, enggak makai utang bank. Bank itu datang ketika melihat rekening kita terpantau tiba-tiba ada transferan sekian-sekian. Kan mereka mantau rekening kita.”

Rifai mengaku pernah ditawari kredit plafon pinjaman sampai Rp 200 juta. Padahal sama sekali belum pernah ketemu urusan bank. Namun ia tetap bertahan dengan modal awal dan komitmen untuk tidak terkontaminasi dengan pinjaman-pinjaman seperti itu.

“Itu yang saya maksud organik. Jadi, tumbuh dengan ‘pupuk’ sendiri. Tumbuh dengan membersihkan bisnis sendiri. Seperti itulah tanpa ada campur tangan yang lain,” tuturnya berbagi tips.

Qadarallah, dalam lima tahun terakhir bisnisnya terus naik. Diawali dengan 3 tahun secara organik.

“Tiba-tiba orderan dalam beberapa hari langsung grow. Tiba-tiba secara drastis grafiknya naik. Nah, ini unlogic Allah. Karena kita berpegang teguh dengan pemahaman bahwa kita itu harus mengikuti apa maunya Allah. Insya’ Allah, Allah kasih bonus.”

Unlogic Allah yang dimaksud, jelasnya, sesuatu yang tidak bisa dipikirkan (logika) manusia dan itu terjadi atas maunya Allah.

“Saya sedekahkan pembalut, balasan Allah berupa naiknya omzet dan banyaknya orderan. Itu namanya unlogic, endak logis,” jelas pria yang menetap di Kediri ini.

Rifai lalu menyebut sejumlah proses bisnis yang dinilai sangat simpel. Misalnya, jika seseorang tak punya barang, maka Islam mengajarkan adanya syirkah (kerjasama). Ajaran Islam juga mengajarkan sistem muamalah dengan menjualkan produk tanpa memiliki barangnya, tapi ada kesepakatan kerja sama. Contohnya makelar.

“Jadi, makelar dalam Islam sebenarnya bagus. Namun konotasi praktiknya banyak yang menyalahgunakan, sehingga makelar dianggap negatif,” ujarnya.

Tidak berutang juga salah satu caranya menghindari riba. Kalau seseorang berutang, pasti menurutnya nyemplung di lubang utang.

Menghindari utang juga dimaksudkan untuk tidak terburu-buru membesarkan bisnisnya, tapi membuat cepat juga jatuhnya.

“Kami bisnis dari awal sampai jual handphone, jual motor, ya tanpa utang. Mindset yang penting pertama ya kita enggak kepengin utang. Itu kesepakatan saya dan istri.”

Rifai mengaku, salah satu godaan dalam berbisnis tanpa ripa adalah rayuan utang dari bank. “Tawarannya itu luar biasa, pas saat-saat kita butuh biaya,” ujarnya.

Tapi karena Rifai dan istri istri sudah berkomitmen tak berutang, jadi tawaran itu dicuekin saja. Dikhawatirkannya, utang itu menjadi pintu masuk menuju riba.

“Jika saya ditawari melalui telepon meminta waktu (bicara), langsung saya menolak tegas. Mungkin saya kemudian di-blacklist, karena sampai sekarang (bank) enggak nelepon-nelepon lagi,” ujarnya.

Baca: Kisah Pengusaha Hijrah dari Riba: Penyakit Sembuh Setelah Tak Berutang Lagi, Kartu Kredit Digunting Semua

Dakwah, “Marketing Paling Produktif”

Selain bersedekah, tidak makan riba, dan tidak berutang, Rifai mengaku juga aktif berdakwah. Bahkan ini bisa menjadi salah satu cara “marketing” produk yang paling efektif.

“Namun bukan dakwah lalu promosi, bukan ya! Misalnya, saya tergabung dalam Masyarakat Tanpa Riba. Saya membantu orang-orang yang kena masalah, kita dakwahi, kita ajak mereka kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang mengikuti aturan Allah. Insya’Allah, bisa dibuktikan,” ujarnya.

Tips lainnya adalah harus belajar fiqih muamalah. Selain itu, juga mutlak memahami perihal konsep berprasangka baik kepada Allah.

“Siapa yang mendatangkan pelanggan? Bukan karena iklan. Siapa yang mendatangkan kita untuk beli bahan? Bukan karena costumer atau karena dana kita. Tapi karena Allah,” ujarnya.

Apakah dengan demikian lantas Rifai yakin 100 persen bisnisnya bebas riba?

“Kalau proses bisnis saya bebas riba, insya’ Allah. Tapi jika kena debu-debu riba, ya wallahu a’alam,” jawabnya.

Yang dimaksud debu-debu riba itu, misalnya, bertemu atau berurusan dengan lembaga perbankan.

“Bank itu debu-debu riba yang mau enggak mau kita terkena debunya. Kita enggak ngerti apakah konsumen kita pelaku riba apa enggak, sehingga tercampur, walaupun hukumnya terpisah. Ya namanya debu, walaupun sudah dipel, disapu, debu-debu nempel di tempat yang dibersihkan,” sebutnya.*

  • Kisah pengusaha hijrah dari riba lainnya bisa dibaca di Majalah Suara Hidayatullah edisi Juli 2020
Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bankhijrahMTRpengusahapengusaha tanpa ribaribautang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya WHO: Sebelum Ada Vaksin Kematian Covid-19 Bisa Mencapai 2 Juta
Tulisan selanjutnya Tahanan Perempuan Palestina Laporkan Pelecehan Intelijen Zionis ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?