Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Banjir dan Longsor Beruntun di Indonesia, BMKG Sebut 5 Fenomena Alam ini

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Januari 2021 08:18 8:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Januari 2021 08:18
Bagikan
Banjir bandang di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, dipantau SAR Hidayatullah (19/01/2021).
Bagikan

Hidayatullah.com– Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, bencana hidrometeorologi berupa banjir hingga longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia disebabkan tingginya curah hujan.

Dwikorita mengatakan, BMKG memonitor bahwa suhu muka air laut di Samdera Pasifik pada Agustus-September 2020 semakin dingin. Kondisi ini berbeda dengan suhu muka air laut di kepulauan Indonesia yang lebih hangat. Diketahui, fenomena La Nina yang kemudian menjadi faktor utama tingginya curah hujan di Indonesia.

“Gap (jarak) ini yang mengakibatkan terjadinya perbedaan tekanan yang signifikan. Ternyata sampai akhir September, gap itu semakin melampaui batas normal. Sehingga kami segera mengumumkan, menyebarluaskan, dan melaporkan kepada Presiden bahwa terjadi fenomena La Nina,” kata Dwikorita, Rabu (20/01/2021).

Baca: MUI Serukan Muhasabah Nasional dan Bahu Membahu Hadapi Musibah Beruntun

Meski Indonesia tengah berada di musim penghujan, akan tetapi fenomena itu mengakibatkan tingkatan curah hujan yang signifikan.

“Akibatnya, yang diprediksi terjadi penambahan massa udara basah dari Samdera Pasifik ke kepulauan Indonesia dan mengakibatkan curah hujan semakin meningkat hingga 40% dari normalnya,” ujarnya.

Baca Juga

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

Lebih lanjut, Dwikorita menyampaikan musim hujan di Indonesia secara merata sudah terjadi sejak bulan November 2020 lalu, namun puncaknya beragam. “Ada wilayah yang puncak musim hujannya pada Desember 2020. Tapi sebagian besar mengalami puncak di Januari dan berlanjut hingga Februari 2021,” sebutnya.

Dwikorita mengatakan fenomena La Nina tidak rutin terjadi. Fenomena yang rutin terjadi, yakni angin monsun Asia, turut menambah peningkatan curah hujan di Tanah Air.

“Angin monsun Asia sebelum masuk Indonesia membelok masuk Pasifik. Angin monsun ini yang membawa fenomena musim hujan. Jadi ada penguatan, memang kita masuk musim hujan di Oktober, dan puncaknya diprediksi Januari. Namun dikuatkan fenomena La Nina sehingga ada penambahan 40% maksimal. Awalnya wilayah Sumatera Oktober-November, tetapi mulai Desember-April wilayah Indonesia tengah dan timur,” sebut Dwikorita.

Selain itu, Dwikorita menyebutkan terdapat dua fenomena alam lain yang membuat curah hujan di Indonesia meningkat. Dua fenomena ini bisa dibilang berasal dari luar wilayah Indonesia.

“Ada fenomena Madden-Julian oscillation, yaitu fenomena gelombang atmosfer yang berupa arak-arakan atau masuknya gerombolan atau kumpulan awan yang bergerak dari Samudra Hindia di sebelah barat Indonesia menuju Pasifik melintasi kepulauan Indonesia. Diprediksi 1 minggu hingga 10 hari fenomena ini terjadi. Itu sudah ada 3 fenomena,” sebutnya.

“Selain itu, sesuai prediksi terjadi fenomena seruak udara dingin yang berasal dari dataran tinggi Tibet yang menyeruak masuk ke Indonesia melalui Sumatera dan menuju Jawa bagian barat, tetapi saat ini sedang berada di sekitar Sumatera juga berbatasan dengan Kalimantan,” lanjutnya.

Baca: Gempa Sulbar, Santri-santri ini Jalan Kaki 18 Jam Demi Mencari Kabar Orang Tuanya

Terakhir, kata Dwikorita fenomena lokal berupa pusaran angin di bagian selatan yang memicu peningkatan curah hujan. Hadirnya lima fenomena ini dalam waktu bersamaan mengakibatkan meningkatnya curah hujan.

“Sehingga secara umum, wilayah Indonesia diprediksi, waktu itu 2020 kami memprediksi, selama Januari-Maret terjadi intensitas curah hujan mencapai 300-500 mm tiap bulannya. Dan ini setara dengan peningkatan curah hujan 40-80% dari normalnya,” sebutnya.

Dwikorita mengaku pihaknya di BMKG sudah memaparkan potensi cuaca ini kepada kementerian/lembaga hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengaku BMKG dengan kementerian/lembaga dan Pemprov DKI Jakarta juga sudah melakukan simulasi untuk menghadapi cuaca ekstrem.

“Jadi sebetulnya, antisipasi itu sudah disiapkan namun nampaknya kejadiannya melampaui kapasitas,” kata dia.

Sebelumnya diketahui berbagai bencana melanda Indonesia, seperti banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Aceh, Malang, Bogor, hingga Papua. Selain itu, bencana longsor terjadi di Sumedang, Sulawesi Utara, hingga gempa bumi di Mamuju-Majene, Sulawesi Barat.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Banjir Kalselbencana alamBMKGDwikorita KarnawatihujanLa Nina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua MUI KH Afifuddin Muhajir Raih Doktor Honoris Causa, Makalahnya Bahas “NKRI Menurut Syariah”
Tulisan selanjutnya Joe Biden Dilantik sebagai Presiden AS ke-46, Trump Pilih Lari Mengindar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

2 Maret 2026 16:00
vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?