Penelitian menunjukkan bahwa interval walking –latihan dengan pola 3 menit berjalan cepat diikuti 3 menit berjalan lambat, diulang selama 30 menit— mampu memberikan peningkatan signifikan pada fungsi jantung dan paru
Hidayatullah.com— Interval Walkingkian menjadi gaya hidup baru warga Jepang. Metode berjalan yang mengombinasikan fase cepat dan lambat ini semakin diminati masyarakat urban karena dinilai efektif meningkatkan kebugaran, mudah dilakukan, serta tidak membutuhkan peralatan khusus. Aktivitas ini kini terlihat di berbagai ruang publik: taman kota, jalur pedestrian, hingga kawasan perumahan.
Fenomena tersebut berkembang seiring meningkatnya perhatian publik terhadap kesehatan jantung, kebugaran otot, dan pencegahan penyakit tidak menular. Di beberapa daerah, pemerintah lokal bahkan mulai memasukkan Interval Walkingsebagai bagian dari kampanye kesehatan komunitas.
Metode Interval Walkingdipopulerkan oleh Prof. Hiroshi Nose dari Universitas Shinshu, yang sejak lebih dari satu dekade meneliti dampaknya terhadap kebugaran. Penelitian yang dilakukan tim Prof. Nose menunjukkan bahwa latihan dengan pola 3 menit berjalan cepat diikuti 3 menit berjalan lambat, diulang selama 30 menit, mampu memberikan peningkatan signifikan pada fungsi jantung dan paru.
Dalam wawancara yang dikutip Euronews dan laporan riset Universitas Shinshu, Prof. Nose menegaskan bahwa Interval Walkingmemberikan keunggulan dibanding jalan santai biasa.
“Cara ini melibatkan sistem energi secara lebih optimal. Fase cepat memacu kapasitas aerobik, sementara fase lambat membantu pemulihan sehingga latihan dapat berlangsung lebih lama dan konsisten,” ujar Nose dalam publikasinya.
Riset timnya yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Physiology serta laporan Shinshu University menemukan bahwa peserta lansia yang mengikuti program Interval Walkingselama lima bulan mengalami peningkatan VO₂ max hingga 14 persen, peningkatan kekuatan otot tungkai sebesar 13 persen, serta penurunan tekanan darah dan perbaikan sensitivitas insulin.
Studi lain yang dimuat dalam PLoS ONE menunjukkan latihan ini membantu meningkatkan kesehatan tulang pada perempuan usia lanjut.
Di berbagai kota seperti Tokyo dan Osaka, komunitas Interval Walkingkini terbentuk secara spontan. Warga berkumpul di taman pada pagi atau sore untuk melakukan sesi latihan terstruktur.
Selain meningkatkan kesehatan, tren ini juga memperluas interaksi sosial di tengah gaya hidup perkotaan yang padat.
Instruktur kebugaran Ayaka Morimoto menyebut tren ini tumbuh pesat karena mudah diakses. “Banyak orang Jepang ingin meningkatkan kebugaran, tetapi tidak punya waktu ke gym. Interval Walkingmemberi pilihan yang lebih fleksibel dan tetap efektif,” katanya.
Pakar kesehatan masyarakat Jepang menilai tren ini sebagai langkah penting untuk mengurangi gaya hidup sedentari yang meningkat pascapandemi. Organisasi kesehatan lokal menganjurkan warga melakukan pemanasan sebelum latihan serta menyesuaikan durasi dengan kondisi fisik.
Dengan dukungan riset ilmiah, kemudahan praktik, dan meningkatnya kesadaran publik akan kesehatan, Interval Walkingdiperkirakan akan terus menguat sebagai bagian dari budaya hidup sehat masyarakat Jepang.*




