Hidayatullah.com–Allah menciptakan satwa dengan beragam bentuk, warna, perilaku, maupun makanan dan cara makannya. Salah satunya adalah kumbang tinja atau kumbang tahi. Dari namanya, bisa ditebak bahwa kehidupan kumbang ini terkait erat dengan kotoran hewan maupun manusia.
Ya, serangga ini adalah pemakan kotoran hewan lain. Tinja binatang bagi mereka sungguhlah nikmat dan lezat, meski menjijikkan bagi manusia, dan tidak menarik bagi hewan lain.
Sekilas mungkin manusia berpikir, untuk apa Allah ciptakan satwa mungil dengan kebiasaan sedemikian menjijikkan hingga melahap kotoran satwa lain? Namun, pertanyaan inilah yang justru sebenarnya terdengar aneh.
Mengapa demikian? Sebab Allah adalah Pencipta Sempurna, Maha Berilmu. Maka sudah pasti Allah tidak akan menciptakan sesuatu, kecuali pasti ada hikmah, manfaat, dan tujuan yang sangat luar biasa dari ciptaan itu. Tidak terkecuali kumbang tinja. Reaksi manusia sesaat yang seketika mempertanyakan keberadaan hewan semenjijikkan kumbang tinja itulah yang merupakan bukti bahwa manusia sangat dangkal pengetahuannya dibandingkan kemahaluasan ilmu Allah. Manusia banyak tidak mengetahui hikmah di balik penciptaan oleh Allah.
Namun, Allah tidak membiarkan kebodohan hamba-Nya. Allah berkehendak mengungkap kebesaran-Nya di balik ciptaan di langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Tak terkecuali tentang kumbang tinja.
Kemahapenciptaan serta Kekuasaan Allah atas segala sesuatu dapat tersingkap manakala manusia mengikuti seruan Allah untuk meneliti alam ini dengan sungguh-sungguh sebagaimana seruannya-Nya:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Ahqaaf, 46:33)
Satu Menu, Tiga Cara Santap
Allah ciptakan kumbang tinja dengan beragam cara menyantap menu kesayangannya, kotoran hewan. Ada kelompok dwellers (pemukim) yang menyantap langsung kotoran yang didapatkannya di tempat sang binatang membuang hajat. Para kumbang ini umumnya menaruh telurnya pada kotoran itu tanpa membuat sarang. Yang kedua adalah kelompok tunnelers (pembuat terowongan).
Anggota kelompok ini menggali terowongan di bawah tahi hewan, lalu mengangkut tahi tersebut ke terowongannya dan menggunakannya sebagai hidangan super-enak dan tempat berkembang biak. Yang terakhir adalah rollers. Disebut demikian karena kelompok ini berperilaku membuat bola-bola berbahan baku tinja. Bola itu lalu mereka gelindingkan ke tempat tertentu untuk selanjutnya mereka benamkan ke dalam tanah.
Orientasi Supercanggih
Menggiring bola melewati lintasan lurus menjauhi asal timbunan tinja bukanlah hal sederhana bagi kumbang tinja. Ini mengingat ukuran bolanya bisa jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. Sang kumbang perlu menggelindingkan bola tinja secepat mungkin dengan arah menjauhi tumpukan tinja agar terhindar dari “pesta” berebut tinja antarsesamanya. Sudah pasti kecepatan dan kekuatan menggiring bola tidaklah cukup tanpa ada penentuan arah gerak bola tinja, alias orientasi. Sebab jika salah arah, bisa-bisa kembali ke tempat semula.
Bagaimana kumbang tinja melakukan orientasi arah gerak bolanya? Allah Yang Maha Penyayang sudah pasti tidak begitu saja membiarkan kumbang tinja berjalan ke sana kemari dalam kesesatan. Allah ciptakan sistem orientasi atau penentuan dan pemanduan arah hebat bagi serangga yang disayanginya itu. Menurut temuan para ilmuwan, kumbang tinja mengendalikan arah gelindingan bola dengan cara memanjat ke atas bola tahi mereka, lalu berputar untuk menjaga arah lintasan agar tetap lurus. Mereka paling sering melakukan “tarian orientasi” ini setidaknya dalam tiga keadaan: (1). sebelum meninggalkan tempat asal timbunan tinja, (2). saat menemukan rintangan, atau (3). ketika mereka kehilangan kendali bola tinja. Saat melakukan “tarian orientasi” di atas bola, mereka mencari dan memastikan keberadaan letak sumber cahaya. Letak sumber cahaya ini lalu mereka gunakan sebagai patokan untuk penentuan arah.
Kumbang tinja perlu sesuatu yang dapat mengarahkan mereka agar tetap bergerak dalam lintasan lurus. Apa itu? Ilmuwan sungguh terkesima dan takjub saat menemukan bahwa ciptaan Allah yang mungil itu, yang berotak superkecil dan berdaya pikir sangat sederhana, ternyata menggunakan Galaksi Bima Sakti saat menggiring bola tahinya menjauhi tempat asal tinja! Ya, si mungil itu mengamati pola penyebaran bintang-gemintang di galaksi kita agar tidak salah arah dan agar lintasan gelindingannya tetap lurus. Tak peduli, ke mana arah lurus itu membawanya, yang penting menjauhi timbunan tinja tempat bola tahinya berasal, agar tidak berebut tahi dengan kumbang lain.
Meski matanya terlalu lemah untuk dapat membedakan masing-masing rasi bintang secara terpisah, kumbang tinja dapat mengenali gradien atau pola perubahan kekuatan cahaya dari terang ke redup ke gelap yang dimiliki hamparan galaksi Bima Sakti. Dengan melihat gradien intensitas cahaya ini sang kumbang dapat memastikan arah menggelindingnya agar senantiasa tetap berupa garis lurus, tidak salah arah sehingga berbalik ke tempat timbunan tahi semula.
Selain galaksi, ilmuwan juga mendapati sebelumnya bahwa kumbang tinja menggunakan mentari, bulan, dan cahaya terpolarisasi untuk menentukan arah. Kesimpulan ini mereka ambil melalui serangkaian percobaan di mana mereka memakaikan “topi” pada sang kumbang. Topi ini menghalangi cahaya agar tidak mengenai mata kumbang. Beberapa hewan lain telah terbukti menggunakan bintang sebagai pemandu arah. Namun kumbang tinja adalah yang pertama dibuktikan menggunakan galaksi sebagai penentu arah.*/ Catur Sriherwanto …(BERSAMBUNG)