Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianSejarah

Kisah Sastrawan Lekra/PKI yang Menjelang Wafat Minta Jenazahnya Diurus secara Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Januari 2023 22:01 10:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Januari 2023 08:45
Bagikan
Utuy Tatang Sontani minta dimakamkan secara islam
Bagikan

Semasa hidup ia aktif di Lekra, organisasi mantel PKI. Namun ia berwasiat agar jenazah diurus secara Islam

Hidayatullah.com | NAMANYA Utuy Tatang Sontani. Ia pernah aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi mantel PKI yang bergerak dalam bidang kebudayaan.

Saat berada dalam pelarian di China, Utuy menulis sebuah karya berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang.”  Utuy dan karyanya ini menjadi perbincangan.

Apakah ia seorang Komunis tulen, atau hanya seorang seniman yang terjebak propaganda tokoh-tokoh PKI yang menjadi sahabat dekatnya? Atau ada faktor lain?

Sebagai seorang yang cenderung memiliki sifat individualis, kata Ajip Rosidi dalam pengantar buku ini, sangat mengherankan jika Utuy Tatang Sontani aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Bagaimana mungkin pengarang yang dalam karya-karyanya begitu individualistis, menjadi aktifis organisasi kebudayaan yang berdasarkan paham Marxisme-Leninisme yang menentang individualisme?” tulis Ajip.

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Ajip menceritakan, pada tahun 1957 saat Lekra mengadakan Kongres di Solo, Utuy mendapat telegram dari lembaga tersebut yang berisi permohonan kesediaannya menjadi pengurus Lekra.

Utuy yang melihat banyak sahabatnya aktif di Lekra, seperti Hendra Gunawan dan Boejoeng Saleh Sastradipoera (belakang taubat dari Komunis), kemudian agak tertarik untuk bergabung. Apalagi, ia juga mempunyai kedekatan secara pribadi dengan tokoh PKI, D.N Aidit, sehingga menurutnya akan mudah bekerjasama dalam organisasi.

Tetapi, karena agak ragu, maka ia mendatangi Ajip Rosidi untuk meminta saran terkait telegram tersebut. Ajip lalu mengatakan, “soalnya bukan bisa kerjasama atau tidak dengan orang-orang yang ada di sana, melainkan sikap kita terhadap falsafah dasar organisasi itu. Bagaimana sikap kita terhadap Komunisme? Bagaimana sikap kita terhadap realisme sosialis yang menjadi pegangang Lekra?” Utuy pun, saat itu, kata Ajip, menolak tawaran Lekra.

Tetapi dua tahun kemudian, Ajip melihat dalam surat kabar, nama Utuy tercantum sebagai pengurus Lekra. Ia cukup kaget.

Ajip yang lama tak bersua dengan Utuy karena terpisah jarak, kemudian bertandang ke rumah sahabatnya itu di Jatinegara. Utuy bercerita, bangunan rumahnya ada yang roboh, kemudian diperbaiki oleh Hendra Gunawan dan dijadikan tempat persembunyiannya karena bertengkar dengan Njoto, tokoh PKI juga.

Perjalanan selanjutnya, Utuy makin aktif di Lekra, mengajar, memberikan ceramah umum, dan membuat karya-karya sastera dan pentas drama. Menjelang  G30 S/PKI, Utuy berangkat ke China untuk berobat karena penyakit lever. Keberangkatan Utuy ke China karena rekomendasi dari tokoh PKI D.N Aidit

Setelah terjadinya Gestapu, maka Utuy tak bisa kembali ke Tanah Air. Perjalanan hidup selanjutnya, ia menjadi eksil, berpindah-pindah negara.

Ia pernah hidup di Belanda, kemudian akhirnya tinggal di Moskwa, Uni Soviet, sampai akhirnya terbaring sakit dan meninggal dunia.

Karya Utuy yang berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang” ini merupakan buah tangannya yang menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang berada di China atas undangan pemerintah setempat, namun tak bisa pulang ke Tanah Air karena meletusnya Gestapu PKI.

Buku ini menceritakan pengalamannya bersama orang-orang Indonesia tersebut, dan menceritakan tentang bagaimana sikapnya selama di China terkait dengan Partai Komunis yang ada di sana.

Dalam tulisan di buku itu, sikap Utuy  justru banyak bertentangan dengan pimpinan Partai Komunis di China. Misalnya, ia tak mau diperintah untuk menghafal ucapan-ucapan tokoh Komunis China, Mao Zhe Dhong.

Utuy juga bercerita, saat berangkat ke China, ia baru enam bulan menjadi anggota PKI, bahkan dalam keterangan lain ia mengatakan baru jadi calon anggota. Sikap inilah, yang menurut Ajip Rosidi sebagai sikap indivualis;

“Utuy memang seorang individualis yang pernah terlibat dalam kegiatan Lekra hanya karena dia terjerat oleh kepandaian orang-orang PKI menarik para seniman dan pengarang yang tidak tahu politik, masuk ke dalam strateginya…”

Saat Utuy terbaring sakit di Moskwa, menurut keterangan pelukis Kuslan Budiman yang membantunya sehari-hari, sebagaimana diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam buku ini, Utuy berkali-kali berpesan agar jika ia meninggal, jenazahnya diurus dengan cara Islam. “Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji…” ujarnya.

Atas permohonan Kuslan Budiman yang menyampaikan wasiat Utuy kepada pejabat terkait setempat agar jenazah Utuy diurus secara Islam, maka jenazah sastrawan tersebut akhirnya diizinkan untuk diurus secara Islam.*/Artawijaya, wartawan & penulis buku-buku sejarah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinekomunisLekraPilihan RedaksiPKIUtuy Tatang Sontani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Apakah Al-Quran Memerlukan Hermeneutika? (habis)
Tulisan selanjutnya Pembakaran Al-Quran di Swedia, Diyanet Turki akan Layangkan Gugatan Hukum

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?